Bak dua gajah bertempur pelanduk mati ditengah. Satu pihak percaya bahwa Lapindo salah langkah dalam melakukan eksplorasi sehingga membuat gunung lumpur dibawah tanah menyembur keluar, karena itu ini merupakan kesalahan Lapindo murni. Sedangkan pihak lainnya ngotot mengatakan ini bencana alam, bukan akibat salah bor, salah eksplorasi, salah gali, salah lapindo, salah apalagi deh... karena itu lebih cocok disebut bencana alam daripada disebut kesalahan manusia.
Gak heran, lantas muncul dua penyebutan: pertama menyebut kubangan lumpur disana sebagai LUMPUR LAPINDO, dan kubu lapindo bersikeras mengatakan ini LUMPUR SIDOARJO. Dua gajah berantem, pelanduk mati ditengah, masyarakat sengsara... ribuan jumlahnya. Saya sendiri menolak ini disebut bencana alam. Karena jika ini disepakati sebagai bencana alam, maka pemerintah harus ikut mengeluarkan uang dan tenaga untuk menutup bencana ini. Artinya, kita semua ini, rakyat dibebani pajak untuk membantu menanggulangi masalah disana padahal seharusnya pihak Lapindo sendiri yg menanggung akibatnya 100%.

.
 | sampai kapan penderitaan ini berakhir.... |
 | Gak tau ya. Tapi yg jelas, rakyat gak mau menanggung pajak akibat kelalaian Lapindo. Sediakan ongkos pengganti kerugian sosio ekonomis dengan rinci kepada korban dan seluruh kerugian yg ditanggung propinsi Jatim akibat ini, sahkan secara hukum dan transparan. Kok enak saja diserahkan kepada pemerintah dengan status bencana alam. Ngaco ini semua. . |
 | hihihihihi "lusi binti lula" lagi ... kapan kelarnya yakkk?? |
 | waktu lumpur lapindo ini ditetapkan sebagai bencana alam, i just wonder berapa duit yang dikucurkan oleh lapindo untuk para petinggi itu untuk mengalihkan tanggung jawab kesalahan pemboran mereka...
another bad presedence for our people.... aku pikir udah bukan lagi soal salah dan bener, baik dan jahat... bener-bener matinya keteladanan dan kepemimpinan di indonesia! i hate this situation!
|
 | ngak mengikuti beritanya ........ karena cape dengan berita yang simpang siur tapi kemarin pernah nonton bincang bincang ahli Geologi ITB di QTV ...kalo ngak salah mereka bilang sebenernya kalo penanganannya serius dan cepat .... bencana yang sekarang ada bisa diminimalisir sayangnya .... pendapat mereka ngak dijalankan yang serius yah...... itu cerita lama yang masih dibudayakan sampe sekarang trus....masyarakat kita sekarang ini juga dibudayakan bila ada bencana ....Nunggu bantuan sehingga budaya dibantu itu berkembang pesat dan saat ini banyak sekali orang yg 'menuggu bantuan' bukan budaya 'memberi bantuan' gitu deh ........ jadi curhat geneeeeeeeeeeeee :) |
 | efx buruknya klo tanah di bawah lumpur ambles....akan ada beberapa daerah yg turun and jeblos kedalam, mengerikan seh tapi itu berapa tahun lagi ya |
 | menakutkan sekali andai itu terjadi, mau ngungsi kemana lagi??? dua sepupuku juga disana sudah kehilangan rumah nya...sekarang dia numpang di saudara2nya...menyedihkan sekali... |
 | kalo emang bencana alam, ngapain Lapindo Brantas Inc lewat Minarak Jaya mo ngasih ganti rugi,.. itu sudah pengakuan bersalah dari perusahaan tambang itu,.. Nah, setelah diganti rugi, status kepemilikan tanah ke siapa,..? Lapindo ato pemerintah,..? wah kalo tanah dikuasai Lapindo ueenak bener mereka kuasai tanah rakyat berhektar-hektar tanpa repot-repot menggusur bayar cuman 20%,.. pundi-pundi kapitalis semakin menggelembung,.. hiihh |
 | kalo emang bencana alam, ngapain Lapindo Brantas Inc lewat Minarak Jaya mo ngasih ganti rugi,.. itu sudah pengakuan bersalah dari perusahaan tambang itu,.. Nah, setelah diganti rugi, status kepemilikan tanah ke siapa,..? Lapindo ato pemerintah,..? wah kalo tanah dikuasai Lapindo ueenak bener mereka kuasai tanah rakyat berhektar-hektar tanpa repot-repot menggusur bayar cuman 20%,.. pundi-pundi kapitalis semakin menggelembung,.. hiihh  Lha iyo kuwi, kan rada aneh to. Mesakno sing dadi korban. |
 | Kalo dari 'penerawang'ku yang sangat awam ini ;-) ... : Bencana alam itu adalah sesuatu yang terjadi diluar batas kemampuan kita -manusia- untuk mengantisipasi dan/atau mengkontrolnya. Diluar daripada itu, maka dapat digolongkan sebagai kesalahan manusia (yang mudah alpa dan mudah pula mencari alasan pembenaran untuk setiap kekeliruannya).
Underground mud volcano itu, sebetulnya bisa saja masih "adem ayem" bergejolak di bawah sana, jika tidak diusik. Jika punya data anomali area "vertically" maupun "aerially", tentunya kemungkinan "hazard" itu sudah teridentifikasi sebelumnya, sehingga "uncertainty management plan"nya sudah disiapkan sejak awal. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: seberapa lengkap data "surveillance" maupun "logs" yang dipunyai pihak tsb sebelum melangkah pada penentuan titik dan kedalaman lubang bor. Dengan kata lain, ada banyak hal yang berada dalam kontrol manusia, yang mungkin saja alpa terperhatikan ataupun lupa dilakukan saat itu.
Nah, selamat menyimpulkan ...
Yang pasti, saat ini ada beribu manusia yang menjadi korbannya, yang TIDAK dengan sukarela menadahkan tangan. Mereka yang dicerabut paksa dari akarnya, imbas kekhilafan pihak yang mencoba mengatasnamakan bencana untuk lepas dari tanggung jawabnya.
*sorry, ada beberapa pilihan kata yang kurang pas kalo' diterjemahkan baik baku maupun bebas ke dalam bahasa gaul*
|
 | Kalo dari 'penerawang'ku yang sangat awam ini ;-) ... : Bencana alam itu adalah sesuatu yang terjadi diluar batas kemampuan kita -manusia- untuk mengantisipasi dan/atau mengkontrolnya. Diluar daripada itu, maka dapat digolongkan sebagai kesalahan manusia (yang mudah alpa dan mudah pula mencari alasan pembenaran untuk setiap kekeliruannya).
Underground mud volcano itu, sebetulnya bisa saja masih "adem ayem" bergejolak di bawah sana, jika tidak diusik. Jika punya data anomali area "vertically" maupun "aerially", tentunya kemungkinan "hazard" itu sudah teridentifikasi sebelumnya, sehingga "uncertainty management plan"nya sudah disiapkan sejak awal. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: seberapa lengkap data "surveillance" maupun "logs" yang dipunyai pihak tsb sebelum melangkah pada penentuan titik dan kedalaman lubang bor. Dengan kata lain, ada banyak hal yang berada dalam kontrol manusia, yang mungkin saja alpa terperhatikan ataupun lupa dilakukan saat itu.
Nah, selamat menyimpulkan ...
Yang pasti, saat ini ada beribu manusia yang menjadi korbannya, yang TIDAK dengan sukarela menadahkan tangan. Mereka yang dicerabut paksa dari akarnya, imbas kekhilafan pihak yang mencoba mengatasnamakan bencana untuk lepas dari tanggung jawabnya.
*sorry, ada beberapa pilihan kata yang kurang pas kalo' diterjemahkan baik baku maupun bebas ke dalam bahasa gaul*
 Ini komentarnya org drilling / geolog ? Hehehe Aku sih yg awam ini (meminjam istilah kamu) hanya tau Lapindo keasikan ngebor disana melebihi ngebor nya Anisa Bahar. Gara gara dibor keluar deh lumpur itu, dititik gak jauh dari titik punya Lapindo. Lebih dari itu, faktanya ada ribuan rumah tenggelam didalam lumpur dimulai dari titik terdekat dengan menara bor Lapindo lalu melebar tak terkendali. Jadilah itu jadi nama Lumpur Lapindo, artinya Lumpur itu berasal dari lubang drilling Lapindo.
|
 | Awam yg sangat teknis bicara drilling ? :-)) |
 | memang lebih mudah menyalahkan pada alam daripada pada manusia, karna kalo menyalahkan pada manusia, bisa saling membalikan fakta. saya sendiri ga stuju itu jadi bencana nasional. itu sama aja lapindo buang body untuk bertanggungjawab. masa kesalahan lapindo, negara yang tanggung...bisa dong kl ada kecolongan di jalan ato dimana, salahin aja negara. bilang aja bencana nasional, gara2 susahnya mendapat pekerjaan dan banyaknya pengangguran jadi saya di copet/ kemalingan, bisa kan???... |
 | Alam memang gak bakalan protes balik kalo disalahkan makanya jadi saluran penyelesaian yg mudah . Yg jelas, membenarkan itu sbg bencana alam sama saja rakyat sukarela dibebani pembiayaan yg seharusnya bukan untuk kami tanggung. Itu urusan mereka yg menenggelamkan ratusan hektar area disana dengan lumpur panas. |
| |