Yaesu VX 6R adalah “senjata” wartawan lapangan untuk monitoring harian situasi dikota besar. Kebiasaan wartawan melakukan monitoring frekwensi radio sudah dimulai sejak jaman dahulu, entah sejak kapan karena tidak ada catatan resminya. Ketika radio tranciever HT muncul dipasaran, sejak saat itulah wartawan disini juga membawa HT jenis yg sama yang kerap dipakai oleh petugas negara resmi, spt aparat, petugas ambulance, jalan tol, dstnya. Kota sedemikian besarnya, memonitor melalui frekwensi radio adalah pilihan paling masuk akal untuk mengetahui “sedang terjadi apa” diluar sana. Radio transciever HT popular pertama yg dikenal tangguh dilapangan saat itu adalah brand ICOM dengan putaran frekwensi model congkelan dengan kuku tangan. Belum digital dan masih manual. Kemudian ketika era scan digitall masuk kemari, perlahan teknologi wajah HT pun berubah.
Yaesu VX 6R adalah salah satu tipe paling popular dibawa oleh wartawan lapangan. Bentuknya kecil dan mempunyai band yg cukup lebar 2M, 220 & 440 MHz. Tipe ini mampu menampung saved memory hingga 900, submersible hingga 1,5m didalam air. Mampu melakukan monitoring hingga 504 kHz ~ 998.99 MHz, tapi gak bisa masuk untuk mendengarkan telp cellular. Kecepatan scan juga tidak jelek amat, sekitar 11 channel per detik (VFO mode). Bentuknya yg kecil sangat memudahkan untuk dimasukan dalam saku atau dijepitkan dipinggang. Kecil, tangguh, kuat, dan hebat untuk dibawa mondar mandir dilapangan.
Perlu dicatat. Membawa radio HT tipe transciever membutuhkan “SIM dan STNK”. Artinya yg bawa harus punya ijin kayak SIM, dan yg “mobilnya” juga harus punya STNK. Jangan main main mengacaukan frekwensi (transmit) apalagi jika tidak punya SIM (atau callsign) karena bisa dijerat dengan UU yg berlaku. Jika tidak ada kepentingannya, mending jangan bawa alat komunikasi tipe “transceiver” yang termaktub dalam peraturan tsb. *** hsgautama.multiply.com
Nilai plus: Kaca tersedia built in dua lapis. Satu mica untuk kaca gelap yang dipakai saat siang terik dan mencegah mata silau akibat cahaya super terang dijalan raya. Dan satu lagi kaca mica bening untuk riding dimalam hari. Dua kaca menjamin pemakai tetap terlindungi matanya secara baik dari lontaran kerikil atau partikel padat berbahaya yg mencelat langsung kemuka, tidak perduli ketika riding siang dan malam. Harganya helm lansiran KYT ini bersahabat, dikisaran 200-250 ribu. Kemasan rapih dan enak dipakai dikepala.
Nilai minus: Dua kaca mica yg berhimpitan akan menimbulkan bayangan semu wajah pemakainya yg balik memantul. Ini membuat visual sedikit terganggu, walaupun tidak parah amat.
Tips: Helm open face begini pilihlah yg ketat jatuhnya kekepala. Jangan longgar. Helm jenis ini akan mudah terlepas dari kepala apabila tersentak hebat ketika terjadi kecelakaan lalin. Karena itu ukuran yg ngepres lebih bagus dan aman dibanding sedikit lebih longgar. Jangan lupa ketatkan ikatan lehernya, dan jangan ngebut kayak orang edan. Bagaimanapun, perilaku ngebut ugal ugalan biasanya berujung dengan celaka. Gak percaya? Coba aja ndiri hehehe *** hsgautama.multiply.com
Sandal gunung kayak begini adalah salah satu sandal pilihan. Paling enak dipakai jalan jalan, naik sepeda, dimana saja. Punya ini satu rasanya penting karena memang doyannya jalan jalan. Dikota enak, di desa enak, digunung enak, basah atau kering oke saja. Lebih dari itu, ikatan gaya sepatu sandal begini tidak membuat genangan air dijalan tidak naik mental keatas celana. Lebih enak dari sekedar sandal jepit.
Era sandal gunung gini kalo gak salah inget dulu di indonesia dimulai saat transisi antara kejayaan brand Alpina dan muncul kemudian "pendatang baru" si Anas Boogie (milik salah satu jebolan Wanadri). Waktu itu Anas membuat cikal bakal sandal gunung lokalan tanpa merk dari markasnya di Bogor. Dengan sol sederhana cuma selapis, webing tali warna biru tua (kalo gak salah ingat), dia membuat beberapa buah sandal dikisaran tahun 87 an yg dibagikan kepada teman dekatnya untuk dijajal, test drive gitulah. Sejak itu, beberapa tahun kemudian, nyaris semua produsen peralatan outdoor dalam negeri punya aneka jenis sandal gunung, dan Eiger salah satunya.
Sandal gunung Eiger pertama saya jajal sekitar akhir tahun 1999-2000. Keren solnya dengan motif tali webing corak tribal. Bertahun tahun dipakai kian kemari awetnya ampun ampunan. Sandal itu hancur beneran ketika si Bull anjing dirumah menggigitnya untuk latihan pertumbuhan gigi taringnya dalam masa pertumbuhan. Jika tidak disambar Bull, sandal itu pasti masih ada. Hancur satu sandal, saya beli lagi. Baru dua tahun silam, dan sekarang sudah patah dua. Waduh? Kok jadi jelek gini kualitasnya? Dibandingkan sandal Eiger pertama, jelas sandal Eiger kedua ini bener bener jelek dari sisi kekuatan. Parah. Jika masa pakai 5-8 tahun trus patah itu normal aja, ini baru dua tahun kok udh jebol.
Jadi kesimpulannya : Sebuah sandal yg layak disebut sebagai "sandal gunung" pada umumnya punya kriteria al: inner sol-nya harus lembut dan enak ketika terasa dikulit kaki serta tidak membuat kulit terkelupas. Outer sol-nya harus keras tapi lentur , anti selip ditempat licin, dan mampu menahan tajamnya bebatuan (tidak boleh mdh koyak/ sobek). Lalu talinya terbuat dari webing lebar dan saling sambung dari lingkar atas kebagian bawah secara utuh tanpa putus. Ini untuk menjamin tali tidak copot apabila misal sandal amblas kedalam lumpur selutut dan ketika ditarik terjamin kekuatannya. Tanpa syarat2 ini, maka artinya tidak layak disebut "sandal gunung", lebih pas disebut "Selop Kondangan" saja. Artinya secara bentuk dan nama, gak boleh dicampur adukan karena ada beda fungsinya. Kasihan kalo ada yg pakai ini naik gunung, taunya putus diketinggian 1800 m , dan pulangnya nyeker gara gara tali putus mendadak. Itu namanya nyusahin orang lain dong. Kalo putus ditengah kota Jakarta, gak susah cari sandal japit swallow. Dihutan mau cari dimana? *** hsgautama.multiply.com
Pusat lokasi makanan malam hari dikota Kupang, adalah sebuah kampung muslim bernama Kampung Solor. Disini situasinya mirip dengan KYA KYA di Surabaya atau Medan. Sebuah ruas jalan dikota diblokir lalu ditengahnya diisi oleh tenda dan belasan warung kaki lima (gerobak) untuk berjualan makanan. Pengunjung yg lapar bisa memilih sendiri menu apa saja yg dibutuhkan oleh mereka.
Dibandingkan dengan Kya Kya, memang disini lebih kecil dan cenderung dipenuhi gerobak biasa. Tapi makanannya lumayan enak dan rasa bumbunya nendang sampai keujung lidah. Top deh. Harganya juga masuk akal dan tidak bikin kantong berantakan. Jika ke Kupang, pergilah kemari mencoba makanan ini. Mereka buka hanya setelah malam tiba.
Salah satu barang wajib yg harus dibawa ketika travelling atau penugasan keluar kota adalah "pemanas air portable". Saya memang suka minum kopsus atau teh. Karena itu soal tersedianya air panas sewaktu waktu didalam kamar hotel/ losmen adalah perlu.
Alat pemanas air ini panjangnya sekitar 20cm (satu jengkal pria dewasa), diujungnya terdapat spriral kumparan pemanas yg dicelupkan kedalam gelas. Pemanasannya sangat cepat memakai listrik didalam ruangan. Dalam sekejap akan tersedia segelas air panas yg bisa dipakai untuk minum atau makan indomie. Barang ini sangat bermanfaat jika melakukan perjalanan diarea yg ada aliran listriknya. Membebaskan kita memasak pakai kompor gas atau malahan menunggu dapur hotel mengirimkan air panas dalam termos besar. Barang ini dijual disemua hyper market besar dan toko peralatan houseware dengan harga ekonomis.
Pusat penjualan onderdil dan semua pernik sepeda motor terbesar di Jakarta, tentu saja adalah "Bonjer 3" , yakni kependekan dari "Kebon Jeruk 3" (dikota, Jakpus) sesuai nama jalan dimana lokasi puluhan toko berjejer menjajakan peralatan sepeda motor. Semua barang dijual disini, lokal maupun import. Dan lokasi di Bonjer 3 dipastikan adalah pusat dari trend setter penting dari perubahan tren peralatan motor ditanah air. Artinya jika ada satu item barang membajiri toko, maka dipastikan item itu sedang naik daun paling dicari pembeli.
Konsumen bisa langsung masuk jajaran toko yg ada disini. Jika alat sudah dipilih dan mau dibeli, akan ada menaknik freelance yg menawarkan jasa untuk memasangkan komponen yg baru dibeli tsb. Jangan lupa tawar dulu berapa ongkos biaya lelah mekanik tsb, jika harga sepakat, barang bisa langsung dipasang. Toko disini memang tidak menyediakan mekanik, jadi harus menyewa freelance yg bertebaran sepanjang jalan.
Bass nya gokil banget. Wuiiih, nendang kelangit. Sangat melimpah dan kuat. Dan bagusnya, karakter bass nya beda jauh dari cetakan SONY. Saking kuat bass nya lebih cocok dikatakan "mbleber" sana sini.
Brand ONDA ini adalah merk aneh yg disodorkan oleh teman kantor. Katanya dapat dari temennya di Bali yg baru pulang dari Jepang. Dengan bungkus sangat sederhana dan sama sekali tidk meyakinkan, apalagi harganya cuma Rp.100.000 aja, barang ini sempat dicoba memakai Playstation portable mendengarkan lagu dan terkaget kaget dengan bass suaranya. Ketika dicoba dengan ipod juga sangat cocok. Keren, buat harga segitu memang lumayan bagus dan langsung menginjak keraguan akibat bentuknya yg sederhana.
Kejelekan benda ini yakni kabelnya sangat pendek. Earphones ini diperuntukan buat MP3 player yg digantungkan didada. Jadi jangan berharap pakai ipod dikantungin dicelana bakalan bisa karena panjang kabelnya tidak akan mencukupi.
Topeak Carbon Shuttle Cage has a sudden broken. Bah! Untung bukan komponen vital, biar patah toh masih bisa digenjot sana sini sekalipun harus alon alon karena jika ngebut lewat aspal gladukan bakalan mencelat terus botol yg disangkutin disana. Penyebab patah tidak diketahui. Tahu tahu ketika dipakai minggu kemaren melewati polisi tidur, botol mendadak mencelat. Terheran heran tanpa curiga botol diambil dan disangkutin lagi kesana. Begitu terjadi sampai 3x baru berhenti dan mulai bertanya "kenapa botol gua mencelat melulu? apa yg salah?" Setelah dicek, baru ketahuan tatakan bawahnya ternyata sudah hilang entah kemana. Tatakan dibawah itulah yg gunanya menahan bobot total botol plus isinya. Tanpa kuping tatakan wajar saja jika botol mencelat terus. Dasar carbon, ringkih, padahal belum genap dua tahun nih.
Jika jaket Rain coat andelan kalian sudah tidak bisa menahan air hujan padahal brand nya bagus dan secara fisik masih tampak oke, coba lapisi dengan spray khusus dari bahan silicon ini. Brand produk bernama SILICON WATER Guard ini akan memberikan lapisan lilin kuat di bahan jaket dan membuat air hujan akan meluncur turun mirip kepleset tanpa meresap. Janji produk yg diperuntukan bagi pemakaian heavy duty ini, bahan jaket akan tetap mampu breathable, dan tidak berbau. Jadi jika masih ada jaket Lafuma, atau ada tas ransel bagus, dan sepatu kanvas boot yg oke, jangan keburu dibuang jika air hujan merembes masuk, coba dulu semprot dengan ini. Dijamin lapisan lilinnya akan kembali utuh. Mirip bulu angsa, air tidak akan meresap masuk.
Di Jakarta, barang ini kayaknya cuma ada di ESTA, salah satu toko penjual peralatan outdoor di Pangrango Mall, salah satu mall lawas yg ada didepan Kebun Raya Bogor samping PMI Bogor. ESTA adalah milik salah satu jagoan pemetaan gua bawah tanah disini, yakni om Away.
Kemarin main ke Bandung dan mampir ke Tripple Be di Burangrang, liat jejeran belasan sepeda SCWINN tipe Cruiser. Beberapa gayanya menjiplak gaya sepeda jadul yakni era sepeda masih disebut sebagai aliran vintage. Liat saja fotonya disini, kayak gitu yg dipajang digerai toko mereka. Keren. Buat keperluan fashion cocok, hanya saja buat yg bawel dengan itungan bobot sepeda, maka item ini gak enak buat olahraga. Cukuplah untuk jalan jalan "between city block" saja kesana sini.
Sayang gak sempet moto moto disana. Saya pikir gak bakalan boleh motret didalam toko itu sekalipun kepentingan motret kan buat cuma buat foto di blog. Seringkali ulasan dan komentar diblog salah satu daya tarik dari marketing disisi berbeda gitu. Saya memang gak minta ijin buat moto, jadi gak tau apakah boleh moto apa engga. Tapi kayaknya gak bakalan boleh didalam sana moto.
(Kata Edi Formula, preskom Formula, ngomong saja sama teh Mella, hehehe)
Dengan maksud untuk meringkas isi tas agar lebih praktis dan tidak dipenuhi oleh beberapa henpon, akhirnya memilih untuk membawa hp dengan fasilitas dual mode CDMA plus GSM (two on). Salah satu opsi hape murmer dual mode dipasaran saat ini masih tetap dipegang produk Cina. Salah satunya adalah Nexian 210 D dengan banderol harga sekitar 1,5 jeti plus bonus FREN didalam kotaknya.
Nexian 210 D tampil rapih, tipis juga jek, dan keren secara fisik tapi soal isi jeroan menunya sangat sederhana. Jika kalian berharap isi menunya mirip Nokia atau SE, maka anggapan itu salah, ini hape cina dengan eksekusi menu yg kadang belibet. Ringtones terbatas, tidak ada fasilitas kamera, minus fasilitas input dan output data (no Bluetooth, no infrared, no cable data), gak ada GPRS an, dan gak bisa MMS an . Gak neko neko, memang sederhana. Makanya harganya bisa murah dibanding brand mapan lainnya yg punya fasilitas seabreg dan dikenai harga jual sekitar 4 jutaan keatas (dual mode juga). Dengan kesederhanaannya, toh Nexian juga bisa diandalkan, hanya saja buat jempol tangan saya ukuran keyboard nya terasa lumayan kecil dan kerap salah mencet tombol jika posisi tangan terlalu miring kesamping. Rasa rasanya, jika kecepatan mencet tombol saat sms, kayaknys si huruf dan angka itu nongolnya rada lelet. Beda banget sama sms an dg henpon merk mapan yg selama ini merajai pasaran. Memang, tampilan serasa Nokia atau SE, tapi tombolnya ternyata lebih mungil dari perkiraan.
Keuntungan membawa hape dual mode memang melulu soal pertimbangan efisien. Jaman gini, adalah aneh jika malah berpikir terbalik yakni membuat hidup belibet dengan kerepotan membawa sekian hape didalam tas. Semakin ringkas maka semakin bagus. Jika boleh memberi saran, apalabila kalian juga punya beberapa nomor aktif yg harus dibawa (CDMA dan GSM), maka buatlah pilihan prioritas. Hape tipe sederhana spt ini cocok untuk nomor yg memang tidak dipakai untuk tasking seabreg, misal kirimMMS, video call, koneksi internet dll. Dipakai terus menerus sih oke, buat sms atau membuat panggilan telp sana sini. Lalu buat nomer andalan, pakailah hape yg memang punya fasilitas bagus, loaded with tons of features ***hsgautama.multiply.com
Senjata andalan reporter lapangan untuk wawancara ******
At just 208g and a size of 135.3x70x27mm, our little PCM recorder (24bit/48kHz) uses both WAV and MP3 files and records directly to SDHC cards rather than an internal HDD like most of its competitors. Our DR-1 utilizes Variable Speed Audition, which slows down speed without changing pitch.
Jan 31, 2008 16:25 Yosuke Ogasawara, Nikkei Electronics
Sony's full-frame 35mm CMOS image sensor with an effective pixel count of 24.81 million
Sony Corp announced that it developed a full-frame 35mm (diagonal: 43.3mm) CMOS sensor (image sensor) with an effective pixel count of about 24.81 million.
The pixel size of the sensor is 5.94 × 5.94µm. And its read speed is 6.3 frames per second when it reads all the pixels in 12-bit color. The sensor is targeted at digital SLR (single-lens reflex) cameras. Sony will begin commercial production of it within 2008.
The total pixel count of the CMOS sensor is about 25.72 million.
"(The count) was realized by manufacturing technologies, such as an advanced planarization technique to enhance the uniformity, in addition to self-developed circuit design techniques," Sony said.
The company used "Column-Parallel A/D Conversion Technique," where an A/D converter is arranged in parallel in each column of pixels. This technique reduces deterioration of picture quality caused by noise inherent in analog transmission and enables to read signals at high speed.
[Interview] Casio: There Is No Need for Camera Shutter Jan 29, 2008 17:51 Tomohiro Ootsuki, Nikkei Electronics Printer-Friendly digg This! E-Mail Article del.icio.us
EX-F1
Casio Computer Co Ltd will release a digital camera "EX-F1" in March 2008. It enables to release a shutter at the right moment with a continuous shooting speed of 60 fps (frames per second) (each frame is 6 Mpixels) and to shoot full HD (1080/60i) H.264 movies. Previously, about 10 fps was the fastest.
In addition, the EX-F1 can take pictures that are invisible to the naked eye (sample movies). The shooting speed can be as fast as 1,200 fps when 336 × 96 pixel pictures are being taken. It is the speed that only expensive industrial cameras could achieve.
What did Casio Computer intend to do with the EX-F1? I interviewed Jin Nakayama, general manager for QV Unit of Planning Department, who took charge of the product planning. He is a representative trend setter in the camera industry and has been leading the company's product planning since "QV-10." (Interviewer: Tomohiro Ootsuki)
Because it's the only one ...
- The EX-F1 is an innovative camera, but it's expensive. Its nominal price, at first, is about ¥130,000 (US$1,220), equivalent to two sets of "D40x," Nicon's digital SLR, and the normal zoom lens. In addition, some people say that they cannot understand the uses of the EX-F1 because it can be used for various purposes.
The price is expensive, but the EX-F1 is an innovative camera with the functions that other cameras cannot have. I'm sure that only a small number of people recognize this and buy the camera. Specifically, it can shoot pictures that even a digital SLR with a high-speed auto-focus function cannot shoot and pictures that are invisible to the naked eye. And people who are interested in those capabilities will buy the EX-F1.
- People playing sports and birds might be suited for objects of the EX-F1. But there must be more suitable objects, considering that it achieved a distinguished high-speed shooting capability as a consumer digital camera.
We have to continue the research on how to utilize an enormous quantity of data that the CMOS sensor produces. To do that research, we have to sell a certain number (monthly production of 10,000 units) of the cameras as consumer products. We decided the nominal price, ¥130,000, considering this plan.
- Can you turn a profit at this price? Even if you could collect the development cost from future products, it must be ...
To be honest, we cannot say it is lucrative. However, there is a great benefit that we cannot put a price tag on. By selling the EX-F1, we could give consumers an impression that Casio develops state-of-the-art products.
There are few differences among compact cameras. Manufacturers in Taiwan can make as good cameras as Japanese makers. It is crucial to improve the brand image. Therefore, we applied "EXILIM" brand to the EX-F1. Some people said the EX-F1 does not fit into the image of EXILIM, or slimness. But we want to grow the EXILIM brand so that it gives impressions of novelty and evolution to consumers.
High-speed continuous shooting gives birth to third-generation digital cameras
We defines the EX-F1 as a third-generation digital camera. At present, it interests only a small number of users. However, it has a function that can be adopted for all cameras in future: the high continuous shooting speed, which effectively prevents users from failing at taking a picture.
The first generation of digital camera was pioneered by the QV-10. And the second generation was developed by "EX-S1," the first EXILIM digital camera, because it achieved the "wearability," which silver salt cameras could not realize.
- I think "EX-Z3" is greater than the EX-S1. It became a big hit with a 3x optical zoom in the 2cm-thick chassis and an LCD panel as large as two inches.
That's right. The EXILIM series might have not lasted if we had depended only on the wearability. It is because camera-equipped cell-phones spread rapidly, improving their capabilities. The EX-Z3 established a standard for compact cameras because it took over the slimness of the EX-S1 and still features a full-scale shooting function.
- Are you planning on launching products that sell in high volume like the EX-Z3, in the market of high-speed continuous shooting camera?
Of course, we are considering applying the technologies used for the EX-F1 to less expensive products. But it takes time. For the time being, the products mounted with an ultrahigh-speed CMOS sensor are targeted at "those who appreciate the difference."
It takes time because there are several problems involved. For example, it goes beyond the development of a 45nm-generation image processing LSI. We have to develop an application that exactly fits with consumer needs and to decide the shape of the product and its target price range.
Also, it is also necessary that other camera manufacturers release high-speed continuous shooting cameras and stimulate the demand for cameras in this genre. If that happens, image sensor manufacturers like Sony can throw more energy into the development of ultrahigh-speed CMOS sensors.
Shutter buttons play tricks
- Let me go back a little. What the third-generation digital camera is like? You often say, "Scenes suited for movies should be recorded as movies. When it is difficult to take a picture of an object, take a movie of it. The wall between movies and still pictures is formed by immature technologies.
Everyone can take a picture that the person wants to take: This is the ideal camera. Whether it is a movie or a still picture does not matter. The (ideal) still picture might be the one taken from a movie. In addition, future cameras will suggest taking a still picture or movie depending on the situation.
I do not deny the pleasure of waiting with bated breath and releasing a shutter at a decisive moment. But, for most consumers, taking a picture in itself is not a goal. The real purposes are to see the picture and recall the excitement, to show the picture to friends or family members and share the excitement with them, and so forth.
Furthermore, a shutter button might even be one of the principal causes of bad pictures. If users did not release a shutter, there were no camera shake. If a camera decided the timing, it would not miss a decisive moment.
Cameras are becoming more and more automated. One of the examples is "Omakase iA mode," an automatic-setting function that a digital camera of Matsushita Electric Industrial Co Ltd features. In the future, the EX-F1's high-speed continuous shooting will be combined with this function.
Kata orang, jika ada banyak pemancing melakukan fly fishing disebuah sungai, itu artinya sungai itu sehat, bersih, alami (liar) dan ada dilingkungan yang ekosistemnya terjaga utuh tanpa putus. Dilingkungan yg sudah tercemar atau telah dijamah banyak manusia, gaya mancing beginian rada susah dijalankan. Aneh? Gak juga. Katakan saja capung, biasanya hidup dilingkungan yg ekosistemnya terjaga baik. Dan ada beberapa jenis capung yg dapat dipakai sebagai indikator lingkungan yg baik. Jika ada capung itu, maka air sungainya bisa diminum karena bersih dan sehat. Logikanya ikan yg menyambar capung tentunya juga disana lingkungannya sehat dan bersih. Capung berbiak dilingkungan yg terjaga bersih. Bukan amburadul penuh sampah anorganik. Fly fishing memakai umpan tiruan bernetuk serangga, salah satunya adl bentuk capung. Jika pakai umpan capung ada ikan menyambar, jadi disana ikannya tau bahwa capung bisa dimakan, dan dimana ada capung maka daerah itu termasuk bersih.
Buku untuk pemula sebetulnya, enaknya dibaca wiken saja. Buku ini didapat dari Ria Ernun yg baru balik dari London. Sebagai org yg gak pernah main teknik fly, jelas ada gunanya membaca ini. Teknik ini termasuk jarang dilakukan disini, dan butuh latihan tekun serta alat yg cocok. Gua takutnya maen gaya beginian, pas dilontarkan kebelakang, eeeh taunya nyangkut mata kailnya dikuping, aduuuh bisa berabe kan, hehehe.
Dikalangan wartawan TV diluar Jakarta sekarang punya tren baru membawa handphone dengan fasilitas TV tuner built in didalam hp mereka. Salah satu brand yg cukup popular dikalangan mereka adalah: Hitech H38, buatan Indonesia katanya.
Handphone TV seperti ini dipakai untuk memonitor tayangan liputan mereka di TV lokal tempat mereka bekerja. Apalagi buat freelancer yg bekerja di TV, memonitor liputan apa saja yg telah mereka buat dan ditayangkan, akan membantu mereka untuk melakukan pengecekan secara langsung atas jumlah nilai pembayaran hasil kerjanya berdasarkan jumlah paket yang ditayangkan di layar kaca. Freelance memang dibayar berdasarkan paket story yang berhasil tayang, bukan jumlah yang dikirim.
Handphone brand Hitech ini secara fisik tidak bagus amat. Sederhana dan kualitas casingnya biasa saja. Ketajaman resolusi layarnya pun tidak istimewa. Warna yg dihasilkan juga tidak padat bagus. Namun kemampuannya sebagai TV saku tidak buruk amat. Disebut “tidak buruk amat” tentu saja beda jauh jika kita membandingkan dengan TV 29 inch yang ada diruang tamu rumah dengan antenna yg lebih bagus. Artinya dengan barang sekecil itu, dengan kekurangannya akan ketajaman resolusi, atau penerimaan signal yg stabil, minim fasilitas input/ output data, dia toh bisa berfungsi untuk menikmati siaran TV langsung. Disana tersedia antenna super mungil yang akan membantu kita mendapatkan signal lebih kuat agar gambar lebih jernih “tanpa semut” dilayarnya. Paling tidak, kita harus menemukan posisi paling enak buat menerima signal TV sembari berputar kian kemari.
Kritik tajam lainnya soal kekurangan unit ini adalah soal daya tahan baterenya. Dalam paket pembelian disediakan 2 buah battere untuk membantu pemakainya tetap bisa telpon atau menonton TV hingga sekian jam lamanya. Biasanya, produk Cina (atau sejenisnya) memang selalu lemah soal daya tahan battere, jadi harap maklum jika kemana mana harus bawa dua battere atau bawa charger nya dalam perjalanan. Hitech bukan satu satunya pemain yg membuat HP dengan TV. Brand lainnya yg ada juga disini antara lain adalah: Beyond B808, dan iMobile. Semua produk itu “beti” dengan Hitech, paling soal tersedianya input/output data yg lebih oke.
Dari semua kekurangan diatas, satu hal yg pasti, bahwa pakai HP ini kita bisa menonton TV gratis langsung dari pemancar setempat. Dibandingkan dengan produk GSM dengan fasilitas 3G nya, kita menikmati TV pun harus bayar pulsa. Buat apa bayar pulsa untuk menonton TV? Dan mana ada yg mau bayar pulsa untuk menonton program di TV lokal? Kalo bayar menonton pay TV sih boleh boleh aja. Karena itu, HP seperti Hitech ini laris manis terjual karena fasilitas TV nya yg bisa gratis ditonton dari pagi sampai malam. *** hsgautama.multiply.com
Resto Bandar Jakarta adalah salah satu tempat makan populer bagi warga Jakarta. Letaknya didalam Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), tepat disamping garis pantai Ancol. Resto ini biasanya penuh dengan pengunjung apalagi jika diakhir pekan. Tumben, ketika sabtu ini kesana suasananya lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena momen lebaran dan libur panjang baru saja usai kemarin.
Waktu yg paling tepat untuk makan disini adalah sore hari mendekati jam 16.00 hingga jam 19.00. Matahari jam itu telah teduh, angin sepoi sepoi dari laut akan menambah kenikmatan tersendiri makan diwilayah marina Ancol. Posisi terbaik dan selalu full booked adalah deretan meja yg letaknya tepat ditepian laut. Dari deretan meja ini, sambil makan kita bisa menikmati pemandangan senja yg oke. Seafood yg enak, teman ngobrol yg meriah, dan alam yg ramah, rasanya memang pas.
Bandar Jakarta, sebuah resto yg bagus untuk dikunjungi buat mengisi waktu weekend dikota ini :-))
Nilai plus: Dikota besar, ditepi pantai yg bersih dan tdk berbau. Pelayanannya cepat Menu komplit. View di garis pantainya oke jugalah.
Minus: Harganya agak mahal dibanding resto seafood lainnya. Menu 2 org bisa habis 150ribu (silahkan itung sendiri jika 8 org makan disana). Ada lalat berterbangan, rada gak tenang makannya (gak ada lampu khusus perangkap lalat disana).
Keren striping dan warnanya. Bentuk lubang ventilasi juga unik beda dengan helm dipasaran pada umumnya.
Dua point diatas adalah yg membuat helm XZONE ini layak untuk dilirk. Barang ini baru datang seminggu ini di outlet Rodalink. Tersedia beberapa warna diantaranya spt diatas ini, ada juga yg putih mulus (warna putih sedang naik daun kali ini). Helm yg baik bukan cuma soal "safety concern" tapi didalamnya juga ada soal kenyamanan kepala spy jangan kepanasan, lalu tentu saja soal "fashion statement" dalam bersepeda.
Nilai plus lainnya, harganya gak bikin mata mendelik spt halnya helm Michelin. Lebih bersahabat dan mutunya bagus (halus cetakan cangkangnya).