HidÄÿÄt's posts with tag: fotografi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fotografi
Blog EntryBikin Foto Nasisan Saat TravellingJun 20, '08 10:37 PM
for everyone

Mana ada wisata tanpa foto foto? Rasanya jaman sekarang dengan kemudahan alat potret, baik itu kamera foto beneran atau hape, memotret adalah sebuah kewajiban ketika melakukan perjalanan wisata. Garing bener jika pergi kesatu tempat gak motret.

Entah ini motret:  pemandangan (sight seeing), motret benda kecil (detail), moto gedung (interior dan eksterior), perilaku manusia dilokasi tujuan (human interest), dan juga narsis-an moto diri sendiri (atau teman sejalan).
Pendek kata, memotret narsis diri kita disatu lokasi, adalah salah satu langkah pengesahan agar “jadi bukti” bahwa kita sudah sampai dilokasi itu. Jadi jelas, foto narsis ini wajib dan perlu.

 
Sekarang, jika kita pikirkan secara iseng, apa saja yg masuk jenis dari foto “memotret diri sendiri disatu lokasi” (disebut: foto narsis)?  

*  klik link ditiap kalimat warna orange untuk melihat contoh foto yg dimaksud.

Pertama: obyek foto sengaja bergaya (take a pose) didepan kamera. Emang udh niat beneran  bergaya heboh selangit biar seru, atau bisa juga sengaja cuma senyum dibuat maniiiis spy disebut cakep. Gaya dipilih secara khusus, pakaian yg tepat,  dan lokasi biasanya juga terpilih dengan baik. Foto ini hasilnya biasanya lebih bagus karena semuanya direncanakan, sekalipun plan tsb cuma secara acak dengan melihat titik-titik mana saja yg punya angle terbaik.

Dijenis foto narsis ini, pose paling sering dilakukan adalah sendirian atau dilakukan bersama beberapa orang. Gaya pilihannya cuma standar aja spt berdiri atau duduk saja disebuah lokasi. Selain gaya standar, ada gaya

Kedua: obyek foto belagak gak liat kamera padahal teuteuup gaya juga, gesture tubuh dibikin sangat natural dan keliatan apa adanya (pokoknya harus luwes). Jenis foto ini juga bisa memilih lokasi yg terbaik, angle yg pas, dan arah sinar yg diinginkan. Ada persiapan untuk membuat foto, dan hasilnya biasanya lebih oke.

Ketiga: foto candid yakni foto yg diambil ketika obyeknya emang gak tau dirinya dipoto. Jadi gaya dan tingkah lakunya 100 persen adalah asli dan gak dibikin bikin. Kalo lucu tingkahnya, maka lucu juga hasilnya. Jika tampang lagi jelek kayak muka onta, maka hasilnya yaa jelek juga kayak gitu. Foto candid yg sering dilakukan teman sejalan paling mudah adalah ketika obyeknya sedang tidur pules, mulut melongo, dan ilernya netes kebantal. Pasti jelek tampangnya.

Foto candid beda dengan ketiga jenis diatas, yakni foto candid pasti apa adanya, alamiah. Karena itu arah sinar matahari biasanya gak tepat, lokasinya gak pas, anglenya buruk, banyak “kelemahannya”. Pengambilannya mengandalkan ide spontan ketika melihat peristiwa, lalu kecepatan tangan bergerak mengatur kamera dan memotret. Candid mementingkan menangkap momen nya dibanding soal kualitas foto yg apik. Karena momen berharga dan tdk bisa diulang, maka hasilnya pasti unik.

 

Foto narsis jika dilihat dari cara eksekusi pengambilan foto, bisa dikatakan terbagi atas 3 perbedaan.

Pertama. Eksekusi pakai tangan sendiri. Pegang hape lalu moto diri sendiri. Jaraknya cuma satu lengan tangan saja dan gak lebih. Pakai kamera foto juga bisa, apalagi jika kameranya dilengkapi layar LCD putar, spt milik Canon Power Shot. Keunggulan cara ini, hasilnya bisa dikontrol secara penuh oleh diri sendiri, angle bisa dipilih dengan pas, framing agresif, dan hasilnya lebih baik. Jeleknya, jaraknya memang cuma satu lengan, artinya muka tampak gede didepan lensa. Apa boleh buat, yg penting bisa bikin foto narsisan sendiri kan.

Kedua. Eksekusi jepretan dibantu oleh orang lain, yakni bisa saja teman jalan atau orang lain disekitar lokasi misal sopir atau bell-boy. Keunggulan foto ini, jarak lensa dan kita bisa lebih jauh dibanding moto dengan tangan sendiri.
Jeleknya, belum tentu org lain yg motoin kita ngerti cara moto yg bener. Kebanyakan sih framingnya begitu buruk dan gak layak lihat, seperti misal badan dipotong sepinggang dan langit luas keliatan diatas kepala. Atau dia moto kita dari jarak 5 meter, waduh, kita kayak apa kecilnya didalam frame tsb, ya jelek lah?

Ketiga. Memakai self timer dengan dibantu tripod atau diletakan begitu saja diatas tembok, meja atau kursi. Dijenis ini, biasanya hasilnya lebih bagus, apalagi jika membawa tripod sendiri. Dijamin semuanya akan pas dan tepat. Lain halnya jika pakai self timer tapi kamera diletakan ditembok pagar orang lain, wah hasil framingnya suka ngaco.
 


Kalimat “foto narsis” adalah bahasa popular dikalangan anak gaul dinegeri ini. Artinya secara mudah adalah: gemar memotret diri sendiri, atau sukanya memotret dirinya sendiri.
Kata “narsis” itu sendiri diambil dari salah satu legenda Yunani ttg seorang anak cakep bernama “Narsisus” yg satu hari jatuh hati kepada mukanya sendiri ketika melihat bayangan wajahnya disebuah danau yg jernih spt kaca. Berhari hari dia terpesona
dengan bayangan diair dan tdk tahu jika itu dirinya sendiri. Diapun mati karena asik kagum dengan bayangan mukanya. Dalam terminologi Freudian, “narsisme” bisa dikategorikan sebagai “mental disorder”. Berbahaya sih enga, tapi bisa merepotkan dalam proses sosialisasi di masyarakat.  Sekarang, dengan arti gaul yg kepleset, kalimat “foto narsis” mengarahkan pada pemahaman bahwa org itu adalah individu yg suka banget difoto. Beda jauh dengan arti “mental disorder”, foto narsis cuma sebuah ungkapan dan ledekan antar teman untuk memberi nama sebuah bentuk perilaku dari “suka difoto”. ***hsgautama.multiply.com


 


Blog EntryFotografi > Bukan Sekedar Sunrise atau SunsetApr 19, '08 1:54 PM
for everyone
Mengejar matahari diawal pagi buta atau diujung sore.
Sesunguhnya, masih banyak yg bisa dilihat lebih banyak lagi....

Updating MP lagi ngak ngik ngok








Blog EntryFotografi > Polaroid nasibmu kiniApr 18, '08 6:43 PM
for everyone

Apakabar kamera Polaroid?

Jaman sekarang melihat kamera ini seperti menemukan fosil saja. Ditengah hiruk pikuk serbuan kamera saku digital dan juga hape berkamera, kamera Polaroid seperti habis sudah dimakan jaman. Tidak laku dan tidak ada lagi yg mau memakai kamera ini, selain tidak ada yg menjual disini.

Namun, sesungguhnya selama 10 tahun terakhir,  Polaroid masih dipakai dibeberapa wilayah dikota besar. Dan tempatnya beredar  hanya ada diarea wisata yg ramai pengunjung. Katakan saja jika ke Ancol atau ke kebun binatang Ragunan, para fotografer keliling dengan pintar merayu pengunjung agar mau berfoto memakai Polaroid. Pengunjung yg datang tanpa kamera, bisa mendapatkan jasa fotografer keliling ini untuk berfoto bersama. Saat indah akan terekam bersama Polaroid, sebuah kenangan manis bak suvenir yg indah diingat kelak.

Polaroid ditemukan oleh Edwin Land dengan nomor paten 2435720. Dia adalah pria amerika yg melahirkan satu alat fotografi jenis baru yg disebut sebagai kamera foto instan langsung jadi. Cikal bakal kamera pertama Polaroid beredar dipasaran sekitar November 1948 dan mendapatkan sambutan antusias. Tahun 1960, dengan menggandeng Henry Dreyfuss ia kemudian melahirkan jenis kamera bernama Automatic 100 Land Camera, lalu kemudian muncul Polaroid Swinger camera tahun 1965.

Selama masa jayanya Polaroid mengeluarkan beberapa tipe dan jenis kamera dipasaran. Dan tanpa diketahui banyak publik di Indonesia, Polaroid sebetulnya juga mengeluarkan tipe ‘movie camera’ yang juga mempunyai prinsip sbg kamera instan. Nama produknya adalah: Polavision. Satu unit alat ini termasuk kamera, film nya, dan tentu saja alat untuk melihat (movie viewer). Sayang, polavision tidak berjaya dipasaran karena dia hanya mampu memakai ASA 40 yang artinya saat pengambilan gambar harus membutuhkan cahaya super terang.

******


Dipenghujung tahun 1992 ketika akan  ditugaskan kepedalaman Kalimantan Timur menuju kedesa desa diatas Barong Tongkok, saya menyambut antusias penugasan ini. Kapan lagi masuk kepedalaman hutan Kalimantan via jalur sungai?  Perjalanan satu trip lumayan panjang yakni bisa 3 hari dan 2 malam diatas perahu besar menyusuri sungai, belum lagi ditambah dengan naik speed boat kecil dan ditambah naik ojek beberapa kali  (jhalan-becheeck), belasan jam menembus jalan setapak ditengah rimba. Transportasi disana memang seperti itulah. Terasa betul namanya perjalanan dari Balikapan sampai kedalam hutan.

Sehari sebelum keberangkatan, saya meminjam kamera Polaroid dari seorang kawan baik, lalu membeli dua pak film instant nya ke Pasar Baru. Harganya lumayan mahal. Tapi saya butuh itu. Kamera Polaroid ini adalah cara saya “berkomunikasi” dengan penduduk lokal ditempat tujuan nanti. Dengan memotret mereka sekeluarga lalu memberikan hasil foto ketangannya langsung akan membuat saya mudah diterima diantara kelompok kelompok suku disana dan keluarga kecil dipedalaman. Fotografi sebagai bahasa, dan selembar foto instan saya pakai untuk mendekatkan diri saya dengan mereka secara lebih cepat dan akrab. Jawabannya adalah dengan Polaroid yg menakjubkan itu.

 
Februari kemarin ketika Polaroid mengatakan kepada CNN Money bahwa mereka 'naga-naganya' mau menutup usahanya memproduksi film dan kamera instant ini, saya langsung merasa bersedih. Pada akhirnya memang pasar lebih berpihak kepada teknologi baru yg lebih cepat dan semakin instant yakni kamera digital, sekalipun bukan berarti kamera digital artinya “cetak cepat” spt halnya Polaroid. Mengingat beberapa keberhasilan penugasan saya justru karena kamera Polaroid yg membantu mencairkan jarak antara saya dan narasumber, rasanya secara historis saya pribadi  juga punya 'cerita  berwarna' dengan kamera jenis ini. Dan sekarang ketika dikatakan kamera ini akan dihapus dari pasaran, kita akan kehilangan salah satu landmark penting dalam sejarah 100 tahun lebih fotografi. Dan bukan saya saja, para “tukang foto keliling” di Ragunan dan Ancol pasti akan kehilangan pekerjaan jika memang Polaroid tidak akan meneruskannya atau mereka tidak menemukan partnership yang masih mau memproduksi film dan kamera jenis ini lagi dikemudian hari. **** hsgautama.multiply.com

 

 Foto dari sini




PETISI ONLINE :

Online petition - Save Polaroid Film!!







Blog EntryFotografi > Membuat Super Panoramic Pakai PocketMar 30, '08 10:48 AM
for everyone
Memotret outdoor saat ada festival atau acara hajatan rame rame, pasti selalu mentok dengan kamera yang ternyata tidak cukup wide lensanya. Maksud hati ingin memotret semuanya, taunya gak muat, dan gak cukup lebar. Padahal, menggambarkan luasnya area itu penting untuk menunjukan misal: betapa lebarnya lapangan tsb, atau betapa banyaknya crowd yg hadir, dstnya.

Ada cara gampang membuat bagaimana foto menjadi "Super Panaromic" dengan sudut pandang hingga 180*. Berdirilah disatu titik terbaik yg dengan mudah menolehkan kepala mentok kekiri dan kekanan sebesar 180 degress. Lalu angkat kamera mulailah memotret dari kiri hingga kekanan. Ingat batasan kiri dan kanan setiap frame dengan menandai obyeknya agar memudahkan menentukan framing berikutnya. Teruskan itu hingga memperoleh foto horizontal 180 derajat sebanyak 4 atau 5 shot.

Setelah sampai dirumah, foto tersebut dijahit langsung jadi satu dengan software dan dalam sekejap kita akan punya foto super panaromic. Tips ini cocok buat kamera poket atau hape kamera. Dan jika pakai poket, paling baik memakai tripod, tapi kalo tidak punya yaaa gakpapa. Situasi terbaik memang konsisten perpindahan dari frame sebelumnya ke frame berikutnya dengan menandai "batas" dari obyek sebelumnya ke obyek berikutnya.

Dibawah ini ada beberapa contoh hasil super panaromic 180*.
Dijahitnya asal asalan saja dengan sengaja supaya hasilnya lebih unik, mirip fragment yg pecah disana sini.

Enjoy!


*** Foto Bunderan HI itu dijahit dari 8 foto yg dijadikan satu foto super panoramic.




Acara "Tren Shimano 2008"



Foto panoramic "Membersihkan Kebun"



Super Panoramic acara funbike didepan Bunderan HI








Blog EntryFotografi > Tas Kamera Apa yg Pas?Mar 21, '08 9:41 AM
for everyone
Bagaimana memilih tas kamera?

Ini pertanyaan mendasar dan pertanyaan seperti ini pasti ada dikepala setiap orang yg suka dengan fotografi (atau videografi), baik itu dia sekedar hobiis amatir ataupun seorg prof. Tas adalah tempat menyimpan peralatan dan membawanya kian kemari dibutuhkan sebagai sebuah keharusan. Tas itulah yg akan menyimpan semua jenis dan bentuk alat, membawanya kesana sini secara ringkas, membuatnya terlindungi, dan menjaganya dari tercecer disembarang lokasi.

 
Ternyata dari semua hal itu, masih ada hal lain yg perlu diperhatikan oleh user sipemakai tas tsb. Beberapa pokok pikiran yg bisa jadi berbeda antara tiap orang pemakainya dikarenakan alasan spesifik yg hanya diketahui oleh si user tsb. Patokan personal itulah kemudian menjadi dasar user mencari sebuah tas tertentu yg dianggap paling pas buat dirinya, sedangkan tas jenis lainnya malahan dianggap gak bagus sekalipun harganya lebih mahal karena memakai bahan yg lebih top.

 

Perlindungan optimal.
Nyaris semua tas kamera diklaim memberikan perlindungan optimal atas dua hal: benturan dan kedap air. Karena itu bahan kainnya biasanya memang kanvas tebal atau material yg mempunyai lapisan yg membuat air tidak meresap. Selain itu, tas kamera biasanya tebal dan gendut, ini dikarenakan banyaknya lapisan busa anti benturan yg ditanam disekujur tubuh tas. Tapi bukan berarti ini lantas dianggap bahwa tas spt ini lantas jadi “bagus banget”.   Justru banyak kalangan fotografer pro yg jengkel dengan tas yg gendut karena dianggapnya tidak bisa dibawa melewati kerumunan massa dengan luwes dan pasti tersangkut diantara kerumunan tsb.  Tas yg lunak tapi punya perlindungan bagus justru yg disukai oleh kelompok ini. DOMKE  adalah salah satu brand lama yg mengklaim dirinya membuat tas yg aman tapi punya kelenturan yg baik buat fotografer pro agar mudah bergerak kesana sini. Jenis busa pun beragam, ada seluruh tas dilapis busa, dan ada yg hanya dipojokan dan dasarnya saja. Tiap tas dan brand mempunyai patokan tersendiri disesuaikan oleh keinginan usernya. Karena itu sekalipun sudah ada busanya toh isi sekatnya masih bisa dibongkar pasang sesuai jenis dan dimensi alat yg dibawa oleh fotografer kelapangan.



 
Ransel mirip daypack atau dicangklong dipundak.
Pilihan tas paling banyak dipasaran terbagi dua kategori, yakni tas kamera model ransel daypack, atau tas dengan gaya digantungkan dipundak. Keduanya jelas beda dalam soal distribusi berat. Tas ransel
cocok untuk  tipe perjalanan jarak jauh antar kota dan pemotretan panjang dari satu lokasi kelokasi lainnya, sedangkan tas pundak lebih cocok untuk pemotretan pendek dan cepat. Seorang fotojurnalis kebanyakan memilih tas cangklong pundak karena peralatan yg dibawa lumayan berat perharinya yakni 2 bodi kamera, 2 flash + 2 powerpack, 1 lensa superwide, 1 lensa medium tele, dan pernik kecil tambahan. Tas pundak terasa sangat berat menekan pundak, top loading, dan karena itu cocok untuk pemotretan jarak pendek serta singkat. Selain itu, buat fotojurnalis, tas pundak gampang diawasi mata apabila dipakai bekerja diantara kerumunan manusia dibanding tas ransel yg ada dibelakang punggung (jangan dicopet gitu).

Kejelekan lain tas ransel adalah soal cara membuka resletingnya yg umumnya langsung terbuka lebar. Artinya resiko tumpahnya lensa dan camera terjatuh mendadak sangat mungkin terjadi. Karena itu membuka kamera dan lensa didalam tas ransel harus dalam keadaan berhenti, tas diletakan di ground, lalu alat dibuka pelan, kemudian baru bisa kembali bekerja. Buat fotojurnalis atau fofografer pro yg suka hunting dijalanan, ransel jelas menghambat kecepatan gerak mengambil alat sembari bekerja berbarengan.
Untuk peralatan yg ekstra banyak yg akan dibawa berpergian antar kota, kini sudah ada tas kamera gaya koper dengan roda agar mudah didorong kesana kemari. Memudahkan dan mempercepat gerakan perpindahan manusia dan alat berbarengan.

 

 

Gua keliatan keren gak ?
Ini masalah jualan tampang memang. Banyak yg mengatakan perlunya “gaya” ketimbang fungsi, warna dan cut menjadi urusan nomor satu. Jadi ketika membeli tas kamera, pada akhirnya gaya j
uga yg dipikirin ketimbang fungsinya. Misal saja ada anggapan pemakai brand lawas spt DOMKE dianggap pasti dia fotojurnalis pro atau reporter kawakan, Billingham beken dikalangan fotografer  top di Eropa, sedangkan brand Lowepro dan Tamrac pasti dia fotografer yg suka hunting kesana kemari, sambil mengerjakan proyek client serius, membawa kamera banyak dan penuh lensa berukuran  besar didalam tas. Sedangkan jika pakai brand pendatang baru spt Crumpler, Caseman atau Bagman, ini dianggap sebagai  hobiis , gabungan antara fashion victim atau gadget freak yg suka motret disana sini.   Bahkan ada juga brand baru yg muncul dipasaran sini dengan nama “National Geographic Bag”. Agak bingung dengan maksud nama ini, mungkin maksudnya, jika memakai tas ini maka akan tampak spt jurnalis dan peneliti yg bekerja utuk Nat Geo, pergi kesuku suku terasing dan tanah terkucil nan eksotis dijung sebuah hutan lebat. Hehehe, membangun image itu memang urusan yg ajaib kok 

 

 
Terlihat jelas atau tersembunyi.
Sebetulnya ini sebuah kenyataan, bahwa banyak yg tidak suka terlihat membawa peralatan foto dan seabreg gadget yg ada didalam
tas nya ketika berpergian. Ada yg memilih low profile dan tampak bersahaja saat jalan kesana kemari tanpa terlihat membawa kamera dan macem macem. Tas nya hanyalah tas ransel daypack biasa merk lokal EIGER yg biasa dipakai kebanyakan anak SMA. Betul betul tidak ada keliatan jelas dia bawa peralatan kamera.

Cara ini juga disukai oleh kebanyakan fotografer di agensi kokoh spt MAGNUM. Fotografer Magnum rata rata membawa kamera utamanya adalah LEICA, sedangkan kamera jepang justru sampingan saja. Toh begitu mereka sukanya membawa tas lecek dan kumel mirip bule miskin yg nyangkut di jalan Jaksa. Sama sekali gak keliatan membawa 3 kamera Leica dan lensanya yg total harga satu tas itu bisa 300 jutaan lebih. Misal saja, Sebatiao Salgado dari Magnum ketika ketemu dia airport Cengkareng tahun 93, dia membawa tas busuk bulukan yg didalamnya ada 4 kamera LEICA plus semua lensanya. Ajegile, beda jauh tampang dan isi.   Sebaliknya, ada yg suka terlihat sepeti fotografer beneran. Baik itu karena dia memang fotografer pro atau amatir. Rasanya tidak sah jika tampangnya gak keliatan spt fotografer beneran. Karena itu semua tas nya mempunyai stempel brand beken, dan biasanya tidak murahan.

 

Saya sendiri… saya gak suka keliatan bawa alat macem macem.
Lebih suka terlihat spt jalan jalan biasa. Sejak tahun 90an jobdesknya “making a visual” membuat saya bosan berat membawa peralatan yg banyak. Buat saya, makin ringkas makin baik, makin tidak kelihatan bawa alat makin bagus. Apalagi jaman kini, alat semakin kecil saja ukurannya dan kian powerfull. ***hsgautama.multiply.com

 

 

Link keren (dan asal foto produk disini):

http://www.lowepro.com/
http://www.tamrac.com/
http://www.cambags.com/camera_mainpage.htm
http://www.tiffen.com/products.html?tablename=domke
http://www.bagmanworld.com/products
http://www.crumplerbags.com/Cart/index.php?catId=22
http://www.billingham.co.uk/pages/index.php
 

 .....





Blog EntryKohjinsha Putih yg Mungil dan KencengMar 19, '08 2:26 AM
for everyone
Review Kohjinsa

Bentuk dan beratnya sangat mengesankan. Dengan layar cuma 7” dan bobot tdk sampai 1 kg, Kohjinsha ini memang layak masuk dalam kategori UMPC (Ultralight Mobile PC) dalam arti sesungguhnya. Dialah yg disebut sebagai pembunuh eee pc Asus dan Ubud milik Zyrex (sekalipun beda speks), lalu menjadi pesaing berat dari produk laptop super mungil keluaran Fujitsu dengan perbedaan harga yg sangat mencolok.


Secara fisik, Kohjinsha memang tdk beda jauh dibanding kompetitornya, panjang sekitar sejengkal tangan pria dewasa, barang ini akan sangat mudah diselipkan kedalam tas mungil, dan tentunya sangat disukai perempuan karena ringan (mudah masuk ke ladies bag),  atau pekerja lapangan yg mudah membawa barang ini kian kemari. Bahkan, dia bisa dengan mudah dimasukan kedalam wadah kedap air Tuperware jika ingin dibawa misal menembus derasnya  hujan didalam tas ransel ketika wira wiri dengan sepeda atau motor ditengah kota.


 


Memakai ini ditangan membutuhkan kebiasaan terlebih dahulu dengan posisi jari tangan. Ukuran keyboard nya yg lebih mungil dari pads keyboard umumnya, membuat tekanan jari kudu presisi menekan dititik huruf yg pas. Selain itu selera tekanan pads keyboard terasa sedikit lebih keras dibanding produk pesaingnya. Bisa dibilang per-membal-nya lebih terasa tegas di keyboard milik Kohjinsa dibanding punya Asus atau lainnya.

Untuk pemakai berbadan besar dan mempunyai ukuran  jari sebesar ubi rebus, hehehe, bakalan kesulitan memencet keyboard Kohjinsa. Tapi pemakai yg jarinya manis kecil dan lurus ramping lebih mudah menekan tombolnya . Selain itu, tampilan huruf dilayar 7" memang membutuhkan kecermatan tersendiri apalagi buat kalian yg matanya sudah memakai kacamata plus. Buat yg berumur diatas kepala empat, membaca huruf dilayar sekecil ini memang bikin capek saja.

Kekurangan lainnya buat saya apalagi menyangkut sisi pekerjaan saya, yakni Kohjinsa ini tdk dilengkapi oleh port Firewire i/o yang bisa dipakai untuk mengedit video. Berhubung memang pekerjaan saya terkait erat dengan urusan video, enaknya memang barang ini ada port firewire.

 

Selebihnya, kinerja barang ini mengesankan dilihat dari prosesor nya dan kelengkapan koneksinya. Dipakai didalam ruangan, diperjalanan, disebuah titik tujuan, Kohjinsa dapat diandalkan sebagai UMPC yg sanggup “berlari kenceng” menjalankan aplikasi serius untuk dipakai bekerja atau sekedar bermain saja ngutak utik PC mungil yg cantik ini.




Kohjinsa SH-811WS

[SH811WS-CSV1]

         

Kohjinsa SH-811WS

 

Intel® processor A100 (600MHz), Memory 1GB, 120GB HDD, Microsoft® Windows Vista® Home Premium, Bluetooth Ver,2.0+EDR, IEEE802.11 b/g, 7" Wide TFT Color LCD (LED Back light) with Touch Screen Resolution, 1.3 MegaPixels Webcam, 3-in-1 Media Card Reader Slot, Approx 985g (with Standard Battery).

 

Spesifikasi

Platform :

- Intel® processor A100 600MHz

- Chipset Intel 945GU +ICH7U

Operating System : Genuine Windows Vista Home Premium

Memory Module :

- 1GB PC2-3200 (DDR2 - 400 SO-DIMM)

- 1-Slot (already in use by standard menory) up to 1GB

Display Function :

- Built-in 7" Wide TFT Color LCD (LED Back light) with Touch Screen Resolution (standard display)

- 1,024 x 600 Dot Resolution (Maximum) 1.600 x 1,200

- LCD Display approximately 16.2 million colors (at standard 1,024 x 600dpi)

- Graphic Engine Intel 945 GU 64MB Video RAM

Storage :

- Hard disk drive 120 GB

User Interface :

- Keyboard 80-Key US

- Pointing device Touch Pad, Stick Pointer, Touch Screen

Communication :

- LAN 100 BASE -TX/10 BASE -T

- Wireless LAN IEEE802.11b/g

- Bluetooth Ver.2.0+EDR (with Front Switch)

- WebCam 1.3 Million Pixels

Audio :

- Sound Realtek High Definition Audio

- Speaker Internal Stereo Speaker (0.5W + 0.5 W)

i/o ports :

- Mic Terminal x 1

- Head Phone x 1

- Sound Volume (with mute switch function)

- 3 in 1 Media Slot: SD Card (SDHC/SDIO) / Memory Stick / MMC Card compatible

- USB 2.0 Port x 2

- CF Card Slot (Type-II) x 1

- LAN Port x 1

- Analog CRT Port (Analog RGB Mini D-Sub 15-Pin) x 1

- Power Switch

Power Source :

- AC adapter (Input 100~240 V , 50/60Hz)

- Standard battery Lithium lon Battery (11.1V, 2600mAh)

- Approx 3.5 Hours

- Consumption Use Max. 60W, Normal 15W / Stand-by Mode 2W, Power off less than 2W

Main Accesories :

- Stylus Pen

- PC Pouch

- AC Adapter + AC Cable

- Users Guide

- Warranty Card

- Standard Battery

- Strap etc

Dimension & weight :

- Substance size Approximately Approx 227 mm (W) x 170 mm (D) x 25.4~33 mm (H)

- Mass Approximately 985g (with Standard Battery)

Price : Rp. 9,950,000,-

 


 


.


LinkMasker Selam plus Kamera Under WaterMar 9, '08 2:19 PM
for everyone
Link: http://www.liquidimageco.com/home/specs.html




5.0MP Underwater Digital Camera Mask
Item 302 - Ages 8 - Adult

Technical Specifications:
Image Resolution - 5.0MP CMOS Sensor
Internal Memory - 16MB NAND Flash Memory
External Memory Card - Micro SD Card
Video Mode - 18-25FPS @ VGA
Status Display - LCD Display
Interface - USB
Power - 2 AAA Alkaline 1.5V Batteries
Photographic Distance - 1.2m (5ft)
Auto Off System time - 120 seconds

Modes
High Res - 5.0MP (2560x1920) - 29 Pics
Low Res - 3.1MP (2048x1536) - 45 Pics
Video - 53S VGA
(Image Qty is based on 16MB internal Memory -
Add a Micro SD Card to add memory)

Depth = 5 M - 30 M Depending on model rating

3.1MP Underwater Digital Camera Mask
Item 300 - Ages 8 -12 Youth
Item 301 - Ages 8 - Adult

Technical Specifications:
Image Resolution - 3.1MP CMOS Sensor
Internal Memory - 16MB NAND Flash Memory
External Memory Card - Micro SD Card
Video Mode - 18-25FPS @ VGA
Status Display - LCD Display
Interface - USB
Power - 2 AAA Alkaline 1.5V Batteries
Photographic Distance - 1.2m (5ft)
Auto Off System time - 120 seconds

Modes
High Res - 3.1MP (2048x1536) - 33 Pics
Low Res - 1.3MP (1280x960) - 55 Pics
Video - 53S VGA
(Image Qty is based on 16MB internal Memory -
Add a Micro SD Card to add memory)

Depth = 5 M - 30 M Depending on model rating

The Camera Mask does not require software
to download images.
The ArcSoft Software is included for editing
of images and videos.

System Requirements for the software -
OS Windows:98SE/2000/ME/XP/VISTA
MAC 9.X or X.X
CPU: PENTIUM II OR ABOVE
RAM: AT LEAST 64MB
CD ROM: 4X SPEED OR ABOVE






.

Blog EntryFotografi > Rim Light yg bercahaya bagusMar 4, '08 7:50 PM
for everyone
Topik ttg rim Light untuk aksentuasi ekstra ketika hunting dilapangan, atau membuat foto potret, baik manusia atau hewan.

Enjoy.





.

ReviewReviewReviewReview24.81-Mpixel Full-frame 35mm CMOS SensorFeb 3, '08 6:22 PM
for everyone
Category:Computers & Electronics
Product Type: Digital Cameras
Manufacturer:  Sony Corp
http://techon.nikkeibp.co.jp/english/NEWS_EN/20080131/146701/

Jan 31, 2008 16:25
Yosuke Ogasawara, Nikkei Electronics

Sony's full-frame 35mm CMOS image sensor with an effective pixel count of 24.81 million

Sony Corp announced that it developed a full-frame 35mm (diagonal: 43.3mm) CMOS sensor (image sensor) with an effective pixel count of about 24.81 million.

The pixel size of the sensor is 5.94 × 5.94µm. And its read speed is 6.3 frames per second when it reads all the pixels in 12-bit color. The sensor is targeted at digital SLR (single-lens reflex) cameras. Sony will begin commercial production of it within 2008.

The total pixel count of the CMOS sensor is about 25.72 million.

"(The count) was realized by manufacturing technologies, such as an advanced planarization technique to enhance the uniformity, in addition to self-developed circuit design techniques," Sony said.

The company used "Column-Parallel A/D Conversion Technique," where an A/D converter is arranged in parallel in each column of pixels. This technique reduces deterioration of picture quality caused by noise inherent in analog transmission and enables to read signals at high speed.



.

ReviewReviewReviewReview"EX-F1" There Is No Need for Camera ShutterFeb 3, '08 6:17 PM
for everyone
Category:Computers & Electronics
Product Type: Digital Cameras
Manufacturer:  Casio Nikkei Electronics
http://techon.nikkeibp.co.jp/english/NEWS_EN/20080129/146484/

[Interview] Casio: There Is No Need for Camera Shutter
Jan 29, 2008 17:51
Tomohiro Ootsuki, Nikkei Electronics
Printer-Friendly
digg This!
E-Mail Article
del.icio.us


EX-F1

Casio Computer Co Ltd will release a digital camera "EX-F1" in March 2008. It enables to release a shutter at the right moment with a continuous shooting speed of 60 fps (frames per second) (each frame is 6 Mpixels) and to shoot full HD (1080/60i) H.264 movies. Previously, about 10 fps was the fastest.

In addition, the EX-F1 can take pictures that are invisible to the naked eye (sample movies). The shooting speed can be as fast as 1,200 fps when 336 × 96 pixel pictures are being taken. It is the speed that only expensive industrial cameras could achieve.

What did Casio Computer intend to do with the EX-F1? I interviewed Jin Nakayama, general manager for QV Unit of Planning Department, who took charge of the product planning. He is a representative trend setter in the camera industry and has been leading the company's product planning since "QV-10." (Interviewer: Tomohiro Ootsuki)

Because it's the only one ...

- The EX-F1 is an innovative camera, but it's expensive. Its nominal price, at first, is about ¥130,000 (US$1,220), equivalent to two sets of "D40x," Nicon's digital SLR, and the normal zoom lens. In addition, some people say that they cannot understand the uses of the EX-F1 because it can be used for various purposes.

The price is expensive, but the EX-F1 is an innovative camera with the functions that other cameras cannot have. I'm sure that only a small number of people recognize this and buy the camera. Specifically, it can shoot pictures that even a digital SLR with a high-speed auto-focus function cannot shoot and pictures that are invisible to the naked eye. And people who are interested in those capabilities will buy the EX-F1.

- People playing sports and birds might be suited for objects of the EX-F1. But there must be more suitable objects, considering that it achieved a distinguished high-speed shooting capability as a consumer digital camera.

We have to continue the research on how to utilize an enormous quantity of data that the CMOS sensor produces. To do that research, we have to sell a certain number (monthly production of 10,000 units) of the cameras as consumer products. We decided the nominal price, ¥130,000, considering this plan.

- Can you turn a profit at this price? Even if you could collect the development cost from future products, it must be ...

To be honest, we cannot say it is lucrative. However, there is a great benefit that we cannot put a price tag on. By selling the EX-F1, we could give consumers an impression that Casio develops state-of-the-art products.

There are few differences among compact cameras. Manufacturers in Taiwan can make as good cameras as Japanese makers. It is crucial to improve the brand image. Therefore, we applied "EXILIM" brand to the EX-F1. Some people said the EX-F1 does not fit into the image of EXILIM, or slimness. But we want to grow the EXILIM brand so that it gives impressions of novelty and evolution to consumers.

High-speed continuous shooting gives birth to third-generation digital cameras

We defines the EX-F1 as a third-generation digital camera. At present, it interests only a small number of users. However, it has a function that can be adopted for all cameras in future: the high continuous shooting speed, which effectively prevents users from failing at taking a picture.

The first generation of digital camera was pioneered by the QV-10. And the second generation was developed by "EX-S1," the first EXILIM digital camera, because it achieved the "wearability," which silver salt cameras could not realize.

- I think "EX-Z3" is greater than the EX-S1. It became a big hit with a 3x optical zoom in the 2cm-thick chassis and an LCD panel as large as two inches.

That's right. The EXILIM series might have not lasted if we had depended only on the wearability. It is because camera-equipped cell-phones spread rapidly, improving their capabilities. The EX-Z3 established a standard for compact cameras because it took over the slimness of the EX-S1 and still features a full-scale shooting function.

- Are you planning on launching products that sell in high volume like the EX-Z3, in the market of high-speed continuous shooting camera?

Of course, we are considering applying the technologies used for the EX-F1 to less expensive products. But it takes time. For the time being, the products mounted with an ultrahigh-speed CMOS sensor are targeted at "those who appreciate the difference."

It takes time because there are several problems involved. For example, it goes beyond the development of a 45nm-generation image processing LSI. We have to develop an application that exactly fits with consumer needs and to decide the shape of the product and its target price range.

Also, it is also necessary that other camera manufacturers release high-speed continuous shooting cameras and stimulate the demand for cameras in this genre. If that happens, image sensor manufacturers like Sony can throw more energy into the development of ultrahigh-speed CMOS sensors.

Shutter buttons play tricks

- Let me go back a little. What the third-generation digital camera is like? You often say, "Scenes suited for movies should be recorded as movies. When it is difficult to take a picture of an object, take a movie of it. The wall between movies and still pictures is formed by immature technologies.

Everyone can take a picture that the person wants to take: This is the ideal camera. Whether it is a movie or a still picture does not matter. The (ideal) still picture might be the one taken from a movie. In addition, future cameras will suggest taking a still picture or movie depending on the situation.

I do not deny the pleasure of waiting with bated breath and releasing a shutter at a decisive moment. But, for most consumers, taking a picture in itself is not a goal. The real purposes are to see the picture and recall the excitement, to show the picture to friends or family members and share the excitement with them, and so forth.

Furthermore, a shutter button might even be one of the principal causes of bad pictures. If users did not release a shutter, there were no camera shake. If a camera decided the timing, it would not miss a decisive moment.

Cameras are becoming more and more automated. One of the examples is "Omakase iA mode," an automatic-setting function that a digital camera of Matsushita Electric Industrial Co Ltd features. In the future, the EX-F1's high-speed continuous shooting will be combined with this function.




Blog EntryFoto : Memotret Pets Dirumah.Jan 17, '08 6:25 AM
for everyone
Memotret binatang peliharaan (pets) membutuhkan kesabaran tersendiri. Dan ini bukan soal mudah.

Paling tidak, jika rajin berlatih memotret binatang peliharaan, akan membuat terlatih untuk merespon secara cepat dan akurat pergerakan focus camera. Selain itu tentu saja, berlatih mendapatkan "moment terbaik", mirip seperti memotret olahraga, maka momen yg tepat adalah segalanya.

Binatang tetaplah binatang, mana mau mereka kita atur. Suka suka mereka saja. Mau nungging kiri dan kanan, terserah mereka. Karena itu memotret pets adalah satu langkah awal jika ingin memotret satwa liar dikehidupan aslinya. Kesulitan utamanya, tentu saja: binatang tidak bisa diatur spt kita mengatur seorang model cantik. Kuncinya adalah posisi fotografer yg harus tepat dg pets tsb. Sisanya adalah kesigapan mengatur focus dan exposure nya dg cepat seperti tingkah binatang ini.

Sebuah kolase ttg Bull, binatang peliharaan dirumah.
Siapa tau bisa memberi ide di weekend nanti, cukup disekitar rumah saja, gak perlu jauh jauh kok  :-)







Thanks to Imageshack



Blog EntryFotografi : Obyek Tunggal dan MencolokJan 3, '08 10:00 AM
for everyone
Topik ttg
obyek tunggal
dan mencolok






Thanks Image Shack.
.

Blog EntryFotografi : Bunga Nan Tak Pernah LayuDec 29, '07 12:19 PM
for everyone
Topik ttg foto bunga





Thanks to ImageShack



.

Blog EntryFotografi : Membuat Siluet yg OkeDec 28, '07 5:26 PM
for everyone
Bermain main dengan siluet, yakni sinar datang dari belakang obyek (atau dari depan fotografer) shg membuat bayangan hitam pekat.


Thanks to Image Shack






.


Satu saat saya pernah dikritik oleh seorg fotografer amatir disebuah web foto lokal. Dia mengkritik foto saya terlalu gelap. Lima kali kritikan setiap saya upload foto, dia terus terusan mengatakan itu, lama lama keluar rasa jengkel saya.
Masalahnya setiap dia menuliskan dikotak comment, saya selalu
mengatakan: "Mas Fulan, adjust dengan benar kalibrasi monitor PC anda dengan 16 major grayscale chart". Dan setelah 5x terus menerus bilang hal yg sama, saya mulai jengkel. Ini anak ngerti apa engga sih nge-just monitor PC nya? Sudah dijelaskan 5x, dan masih pula 5x mengeluarkan komentar yg sama. He didnt learn and read, udah diajarin malah gak baca dan dilakukan, gemanaaaa tuuu anak... aaaarghhh grrr...







Kalibrasi adalah satu langkah penting ketika menyamakan "nilai" dari sebuah alat yg sambung menyambung disatu tempat (jaringan) atau bahkan terpisah lokasi. Jika ada alat tertata dalam satu rangkaian, maka kalibrasi itu adalah menyamakan nilainya. Beberapa menyebut ini sebagai: tuning secara seragam. Semua alat itu harus bicara dengan "nada yg sama", "bahasa yg serupa", tidak boleh beda satu dengan lainnya. Dalam konsep dasar engineering paling sederhana pun, mana bisa semuanya dicolokin gitu aja tanpa ada persamaan satuan ukur yg sejajar? Kan bisa ngomong dengan bahasanya sendiri sendiri gak nyambung.

Sekarang bayangkan saja ilustrasi simple ini misal, di MP ini saya punya teman reguler yg melihat foto foto disini sebanyak 300 orang per hari. Tiap teman itu punya PC dan Laptop yg berbeda beda, terpisah, dan punya banyak merk atau tipe. Karena itu, supaya nilai "terang dan gelapnya" foto difolder saya atau "koreksi warnanya" sama sejajar antara yg nongol di PC saya dan di PC mereka, maka harus dilakukan langkah kalibrasi alias "menyamakan satuan ukurnya". Jika gak tepat, maka akibatnya mereka bisa mikir, wah fotonya kok gelap ya, atau wah fotonya jelek banget over.

Fotografi digital memang lebih praktis, kita sudah gak perlu lagi tabung dan peralatan kimia untuk cuci cetak. Fotografi digital hanya butuh PC untuk "digitall dark room-nya", semua rapih dan kering bersih, tidak ada bau kimia.
Masalahnya skr, bagaimana melakukan adjustment yg tepat di layar PC kalian, spy ketika melakukan olah foto hasilnya presisi. Tepat dan gak meleset. Dan yg melihat juga begitu, gak salah lihat.

Salah satu langkah paling gampang untuk melakukan kalibrasi layar monitor adalah memakai chart hitam putih diatas. Dia dikenal dengan sebutan 16 major grayscale chart. Dikalangan anak broadcast, kami lebih dahulu mengenal pemakaian chart tsb karena era TV  lebih lama dibandingkan fotografi digitall yg baru booming 10 tahun ini. Dilayar monitor broadcast, melakukan kalibrasi nilai dari brightness dan contrast juga memakai cara ini salah satunya. Kesalahan mengukur nilainya membuat gambar bakalan ancur gelap atau malahan over.



Sekarang pasang chart itu sebagai background untuk desktop PC.
Perhatikan semua chart tsb dan setiap kotaknya harus terlihat mulai dari nilai yg paling terang (true white) hingga paling gelap atau true black. Jika salah satu sisi misalnya wilayah dark (hitam) tidak terlihat hingga separuhnya, maka itu artinya monitor kalian terlalu gelap. Demikian juga sebaliknya. Lakukan  langkah  mengatur tombol dimonitor PC secukupnya shg didapat  nilai yg paling tepat.
 
Setelah beres dengan setup monitor, maka mulailah melakukan langkah olah digitall atau postpro. Nilai ukurnya jika sudah dikalibrasikan dengan pas, akan membuat nilainya benar. Dan siapapun yg melihat itu akan mempunyai satuan nilai yg kurang lebih sama juga jika dilihat mata telanjang, atau dengan monitor lain. ***** hsgautama.multiply.com


Thanks to Image Shack




Blog EntryFotografi : Cahaya SelektifDec 25, '07 5:21 PM
for everyone

Berapa ribu kali shutter kamera kalian ditekan saat memotret?
Tanpa sadar, ternyata 99% hasil foto dari kamera itu menghasilkan output yg sama saja tipe pencahayaannya, yakni foto dengan sinar terang benderang. “Foto biasa”, an ordinary picture coming from an ordinary shot, yakni foto dengan cahaya melimpah dimana mana (lihat foto kanan). Pertanyaan sederhana muncul, apakah tidak ingin mencoba hasil yg berbeda dari sebelumnya?

Ketika dulu mengajar dikelas foto (salah satunya,  6 tahun mengajar di Galeri Foto Jurnalistik Antara, kelas fotojurnalistik, foto essay, dan mentor kelas "hardcore" dark room teknik cuci-cetak hitam putih celluloid), banyak mantan murid yg gagal dibab bahasan “light and form”. Memahami konsep cahaya dan bentuk itu salah satu pemahaman penting bagaimana menciptakan “ilusi visual”. Disinilah maka akan muncul “rasa” misal: pria difoto itu tampak renta, kasihan, sedih, ilusi inilah yg memicu perasaan dihati org yg melihat kesana. Tanpa itu, foto itu bakalan datar saja tanpa greget.

 
Cahaya menciptakan sebuah bentuk tegas benda disekitarnya (namanya juga "Fotografos": melukis dengan cahaya). Pertanyaanya, kita mau pakai cahaya apa dan bagaimana?  Cahaya itulah yg akan memberi bentuk khas diobyek foto kita. Jika cahayanya asal jadi, maka hasilnya juga asal jadi saja. Salah satunya, membuat hasil ribuan foto dengan cahaya sama saja dari tahun ketahun. Cobalah buat sesuatu yg beda, yakni dengan merubah tipe cahayanya.

Konsep ini pernah dikenal dulu dengan nama “selective metering light”, ada yg bilang cahaya kreatif. Apalah nama itu, boleh sebut apa saja. Intinya, adalah memilih arah datangnya sinar, dan menyatukannya dengan karakter obyek tsb shg diperoleh hasil beda. Beberapa contoh hasil fotonya ada dibawah ini.


 




..

 


Blog EntryFoto Tips : Memotret Outdoor Malam HariDec 21, '07 9:57 AM
for everyone

Memotret outdoor malam hari berbeda jauh dengan memotret siang hari.
Dimalam hari semuanya tampak gelap. Dan kondisi gelap gulita itulah yg membuat jarak pandangan (visibilitas) terbatas.

Untuk apa motret jika tidak terlihat apapun? Atau difoto itu lantas banyak terlihat area gelap gulita?

Karena itulah, biasanya, fotografi malam hari yg bagus dihubungkan dengan persoalan lokasi yg tepat yakni terkait dengan soal aktifitas manusia, lansekap, arsitektur, interior atau eksterior. Kesemua unsur itu lantas digabungkan jadi satu untuk menjadi pelengkap foto yg menarik.










Mempunyai kamera saku digital adalah hal menyenangkan mengingat sifat praktisnya dan harganya yg lebih miring dari kamera DSLR. Apalagi, dipasaran saat ini tersedia kamera poket yg berada dititik tengah sebagai jembatan antara kelas low end hingga ke high end dalam soal fungsi dan besar megapixel nya. Kamera poket dilevel tengah ini dicari oleh konsumen karena jelas harganya yg lebih miring. Hukum pasar berlaku disini: harga miring tapi punya fungsi yg melimpah.

Namun sayang, kamera poket level tengah punya kejelekan yakni fasilitas wide zoom nya hanya dikisaran terbatas, atau equivalent di  30mm jika disandingkan dg lensa dikamera DSLR profesional. Keterbatasan posisi wide lensa spt ini jelas tidak menguntungkan untuk membuat eksplorasi visual yg lebih agresif. Untuk fotografer yg cerewet, lensa 28mm dirasakan terlalu ngepas. Kemampuan lensa dengan lebar hanya segitu tidak bisa berkutik jika ada didalam ruangan sempit atau untuk interior fotografi. Bahkan saat memotret landscape, 30mm tidak mampu menghadirkan efek dramatis untuk menyajikan bidang yg luas. Artinya, jika bisa lebih lebar lagi, tentu hasilnya akan lebih bagus dilihat mata.

 
Mengatasi kelemahan lensa yg terbatas dikamera poket digital, bisa diakalin dengan menambahkan dudukan adapter lensa super wide (atau superwide lens adapter). Adapter ini dipasangkan didepan kamera poket itu, lalu tambahkan lensa super wide nya, dan dalam sekejap terjadi perubahan sudut pandang lensa, yg tadinya
juga 30mm kini bisa menjadi lebih lebar lagi yakni sejajar dengan 18mm.

 
Dipasaran saat ini tersedia banyak adapter untuk kamera poket digital. Cocokan brand dan tipe kamera, lalu carilah adapter yg cocok dg lingkaran ring yg sesuai. Misal, untuk camera poket Canon A640, tersedia adapter “resminya” dari Canon, dan juga tersedia non Canon spt produk dari Cina yg lebih miring. Harga dipasaran utk adapter ini dikisaran 250 rb. Setelah mendapatkan adapter, carilah lensa super widenya. Salah satu brand yg bisa didapat disini adalah Fujiyama Digitall AF Lens (0.45x wide) . Dalam satu paket pembelian lensa ini tersedia 2 lensa yakni super wide dan macro dg banderol harga dikisaran 700 rb. Dengan mudah adapter dan lensa digabungkan jadi satu, lalu pasangkan didepan kamera poket. Pemasangan lensa tool free (cukup pakai tangan saja), dan cepat tanpa kesulitan berarti.

Adapter lensa ini bentuknya mirip tabung yg dipasang didepan kamera poket. Jika lensa wide nya tidak dipasang disana, kita bisa memasangkan filter khusus untuk memotret. Seperti kita tahu, ada banyak jenis filter yang dipakai untuk memberikan efek khusus saat memotret. Filter ini tidak mungkin dipakai untuk kamera poket apabila tidak ada adapter khusus. Fungsi filter ini juga bisa untuk proteksi lensa asli kamera poket dari goresan debu atau baret terkena benda keras dg menambahkan filter UV disana.

 
Hasil dari lensa wide dan macro merk Fujiyama ini secara visual meyakinkan. Efek distortif nya lumayan besar disisi kiri dan kanan frame shg tampak ada ekses melengkung terutama ketika melayani obyek dengan garis lurus. Ini memang menyangkut soal selera, ada yg tidak suka dengan itu tapi ada yg justru mencari efek spt ini. Super wide Fujiyama juga membuat sisi terluar frame agak kabur sangat tipis. Tidak terlihat jelas, dan butuh ketajaman mata yg terlatih untuk melihat dengan baik difotonya. Artinya, kelemahan ini masih bisa diterima dan bukan masalah yg dianggap sebagai cacat serius. Selain itu, jika diteliti dengan pembesaran ekstrem, pada foto kondisi dim light (cahaya lemah) muncul purple fringing digaris obyek. Sekali lagi, butuh mata terlatih melihat ini. Secara sepintas sih gak ada masalah sama sekali. Namanya juga opsi murmer, tentu tdk "sempurna" seperti hasil "cling" lensa bagus seharga 10 jutaan kan. *** hsgautama.multiply.com

 



“Action cam” adalah sebutan pendek buat alat gadget ini.  Nama produknya cukup blibet, yakni ATC2K , playhard record everything, a water proof handfree cam, flash memory video recorder.

Intinya, ini adalah camera video yg bisa dioperasikan “handsfree”, alat perekam video memakai SD card, simple dan ringan, anti air, tahan banting, dan bisa dipasang ke helm, stang motor, sepeda, diikat ditangan, surfing, bungie jumping, darat-laut-udara, dll. Sebuah alat perekam video utk merekam aktifitas ekstrem dari outdoor sport. Alat ini merupakan lansiran  dari pabrik Oregon Scientific. Oregon sediri adalah satu wilayah yg ada di Portland, salah satu dataran yg nyaman dan indah alam desanya, masih ada sapi disana, dan lumayan banyak cewe cakepnya (halah, daleeeem banget sih, kekeke… kasus nih).    Sayang ketika website nya diklik ternyata masih dalam under cons, alias gak bisa dilihat sama sekali. Payah deh.

Ketika membeli kemasan ini dari seorang teman, hati ini langsung tertarik untuk mencoba bagaimana alat ini bekerja. Karena tidak bisa dipinjam gratisan begitu saja, akhirnya alat ini kudu dibeli juga dengan banderol sekitar 750 ribu. Sebuah harga yg lumayan mahal. Dengan harga segitu, makin penasaran kayak apa kinerja barang ini. Apa yg dimaksud dengan “kinerja alat perekam video” ini tentu saja melihat hasil akhirnya. Terlepas dari kenyataan bahwa saya adalah pekerja profesional di industri TV dan paham seluk beluk aspek “broadcast - video engineering” dari sisi teknis sebuah  “motion pics” (video), sebagai konsumen awam tentu ada nilai standar yg diharapkan dari alat ini yakni gambarnya sesuai dg janji yg harus dipenuhi spt tertera di boxnya. Action cam dicoba beberapa kali dalam trip memakai sepeda MTB melewati trek tanah merah, dengan karakter kasar dan ngawur asal trabas (sengaja begitu).


Here goes the detail…

Bicara tentang kemasan dari unit yg alot dan tahan banting, action cam ini patut diacungi jempol. Tidak bohong jika disebut begitu. Kenyataannya barang ini memang ulet dan mampu dibawa kemedan mana aja. Action cam ini gak mudah rusak karena kebanting atau kecemplung dilumpur dan air hingga batas tertentu. Kualitas gambarnya juga tidak bergetar akibat hempasan berulang kali.

Janji ttg handsfree memang betul begitu kenyataannya. Barang ini sangat-sangat mudah dioperasikan cuma pencet ini dan itu, bereslah dia akan merekam video dengan gampang. Gak ribet pengoperasiannya ketika recording video. Tapi ini berbeda ketika merubah setting menu lainnya, agak ribet dan butuh hapalan yg baik dikepala usernya.

Camera ini punya internal memory sebesar 32 MB, dan masih bisa ditambah dengan SD card hingga 2 GB. Mewah, menampung semua file video. Sekarang tinggal size video tsb yg kudu diatur agar “tidak boros” memakan memori. Dicamera ini tersedia 3 size ukuran video. Size paling besar diukuran standar TV secara internasional yakni 640x. Sisanya adl  ukuran dibawah itu. Hasil video ini bisa dengan mudah didowload ke PC lalu diedit secara sederhana lantas diconvert jenis filenya dari AVI diubah menjadi tipe lainnya misal MPEG, WMV, atau 3GP.


Action cam ini dg gampang dioperasikan dengan dua buah battere AA. Pilihan yg bijak karena tipe battere ini mudah dijumpai dimanapun, bahkan diwarung kecil. Artinya, urusan merekam gambar tidak akan berhenti gara  gara habis setrum.  Selama masih ada sisa memori, dan ada action ditrek  depan mata, maka camera terus berputar merekam perjalanan.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


Catatan buruk ttg camera ini salah satunya adalah begitu keras tombolnya. Jika ditekan akan terasa lumayan ngeden dan keras. Gak bisa dipencet dengan soft. Untungnya, setiap tombol ditekan muncul dering nyaring beep  yg menjadi tanda bagi operator camera ini.

Selain soal tombol yg keras, camera ini sangat-sangat-sangat buruk merekam suara (audio).  ....  Did I mention “really-really-really” bad audio recording to you? ... Tolong dicatat ya, mana ada sih video tanpa suara? Video dimanapun butuh suara yg bagus, audible, jernih dan peka. Action cam ini begitu jeleknya merekam audio, sampe telinga ini mendengar hasil suaranya yg super ancur ini begitu keselnya. Ampun, jelek banget!! Telinga audio-engineer manapun yg dengar audio dari camera ini bakalan langsung kena stroke! Telinga awampun pasti jengkel mendengar hasilnya kok. Pendek kata: sangat-sangat buruk.

Kamera ini tidak punya jendela bidik (view finder) jadi ketika membidik (aiming) dan merekam, bisanya adl cuma kira kira aja. Akibatnya, hasil rekamannya bisa gak presisi. Badan manusia kepotong gak keruan tanpa bisa dikontrol dengan baik.

Catatan lain, saya kecewa dengan clamp grip nya yg lemah dan gampang patah. Dalam paket pembelian tersedia 3 penjepit untuk semua posisi, mulai jepit disetang sepeda/motor, ditangan, dan di helm (strap pakai velcro). Sayangnya, kualitas plastik penjepit itu memble. Sudah ada satu penjepit setang dari plastik sudah patah hanya sekali dipakai. Payah!

Kualitas videonya hanya masuk kategori ngepas-pas, gak sebaik seperti gambar boxnya. Dikemasan bungkus camera ini memang disertakan foto foto petualangan heboh didarat-laut-udara. Ehhh ternyata hasilnya gak seindah foto tsb.
Itu artinya, foto dikemasannya termasuk menipu. Resolusi videonya tidak   sebagus fotonya, tidak jernih, tidak pekat tone nya. Kalo dibilang kalah   dengan hasil video home user mini DV yg ada dipasaran, maka jawabannya:   YA!.   Hasil action cam ini mirip dengan hasil video analog, yakni era Hi8   dan VHS merajalela. Buat saya yg kerjanya di TV, ini mengecewakan  berat.  Tapi jika menempatkan diri sebagai konsumen awam, saya cukup  puas ada  gambarnya nongol walaupun akhirnya mengeluh dengan clarity,  sharpness dan tone hasil kamera ini yg gak padat. Pendek kata, gak bagus   amatlah. Videonya asal ada aja, cukup segitu aja gak istimewa.

Selain soal kualitas, kamera ini agak lelet 1 second ketika merekam ayunan  mendadak akibat gerakan spontan. Kesannya apa ya,  the picture itself   morelikely somehow jerking, .. kayak dibetot dengan timing yg  telat. Lucu  kan, masak ada "moment of action" lantas terlihat lambat 1 detik? Secara teknis, ini mirip dengan problem buffering-time yg telat dari camera kedalam SD cardnya (saat proses perekaman). Efeknya, gambar telat itu jadi kebetot dan jadi sedikit mleyot atau peyang. Hehehe. Aneh juga. Gak natural jadinya tetap dinilai minus satu dong.


Sebagai penutup, .....

action cam ini adalah salah satu alternatif mendapatkan  gambar keren  dari sebuah aktifitas olahraga keras dimana camera video  konvensional  dipasaran tidak mampu melakukan itu karena terbentur dengan masalah dimensinya yg besar-berat serta takut rusak karena  hempasan. Kamera ini mengisi gap tsb dengan baik tapi tidak sempurna penuh dari sisi kualitas.

Kamera ini boleh saja dimiliki, tapi jika berharap pada hasil  sebagus kualitas DV cam dipasaran, maka itu mustahil didapatkan. Pendek  kata,  cukuplah hasilnya dan tidak istimewa banget. Audionya juga sangat  buruk,  saking buruknya kitapun tidak akan mau mendengar hasil suara yg   keluar dari camera ini ketika diputar ulang di TV rumah. Dengan kualitas dan hasil spt ini, seharusnya alat ini lebih layak dijual dengan harga dikisaran 350 ribu atau 500 ribu. Tidak lebih (spt harga CCTV, closed circuit TV ,  di glodok).


Hasil video bisa dilihat disini (tapi udah diconvert menjadi 3GP, artinya kualitas drop krn file ditekan lebih ramping):

Video 1  dan video 2


 

Link:         dan       2

 

FEATURES- ATC2K Waterproof Action Camera
       Be among the first to try ATC2K, the ultimate waterproof self-
        contained action cam. Weighing in at half a pound (with batteries), 
        this hands-free action cam delivers full color digital video in 
        640 x 480 VGA at 30 frames per second.
       ATC2K works seamlessly with most video editing software. Expandable 
        up to 2GB, with a built-in SD card slot, ATC2K mounts easily on 
        helmets, bikes, race cars, dirt bikes and more. Wipeouts in a white 
        out or an unexpected barrel roll? No worries, ATC2K is waterproof 
        up to 10 feet! Play hard, record everything, even under water! 
       NOTE: Although the manual and packaging states that the product is 
             only water-resistant, subsequent tests have since certified 
             the product as waterproof. Please do not be alarmed by this 
             discrepancy when receiving your product. 
* Full-function, hands-free, digital recording 
* Waterproof up to 3 meters and shock-resistant for extreme conditions 
* Mounts easily on helmets, handlebars, and other sports equipment 
* 640 x 480 VGA resolution at 30 frames per second 
* USB and RCA cables included for easy playback on PC or TV (NTSC) 
* SD card expansion up to 2GB -- onboard memory is 32MB 
* Operates with 2 AA batteries, not included 
* Dimensions: 4.25L x 1.75D x 2.25H (in.) 
www.OregonScientific.com

 


.


Blog Entry"Bulatan ORB" atau debu yg muncul di foto ini?Jul 23, '07 8:39 PM
for everyone

Sekelompok pesilat sedang asik melakukan olah gerak inti, semua tampak biasa secara kasat mata. Tapi,  muncul “puluhan bulatan ganjil” ketika mereka difoto dari jauh. Foto itu tampak berbeda. Apakah arti bulatan berpendar disekeliling pesilat tsb?
Pertanyaan ini menggelitik salah satu pesilat yg jg hadir diruangan itu setelah ia melihat hasil foto fotonya saat usai didownload ke PC nya.  Kolega yunior itu lantas mengirimkan satu lembar foto ke email box saya. Pertanyaan dia sederhana saja, “Mas Dayat, bulatan kecil itu apa sebenarnya”?


Ada dua pendapat mengenai fenomena bulatan tsb.

Pertama, yakni kelompok rasional, mengatakan bhw itu adalah kristal embun (air) yg terekam ketika flash menyalak. Bulatan itu juga bisa merupakan ratusan partikel micro dari debu dan kotoran yg melayang diudara, bentuknya menjadi berpendar karena terekam oleh kilatan blitz dalam jarak yg terlalu dekat shg over bright atau tidak focus (blured).
Untuk melakukan ujicoba hal seperti ini mudah saja, cobalah pergi ke daerah pegunungan yg amat dingin dan penuh kabut disaat subuh. Atau bisa juga memotret didekat api unggun yg menyala, biasanya akan muncul bulatan menyala spt itu.
Difoto tersebut, secara logis memang masuk dalam kondisi yg disebutkan seperti penjelasan diatas, yakni pemotretan dilakukan malam hari dimana embun dan suhu panas tubuh manusia menyatu dan terjadi kondensasi merata disemua sudut. Sekelompok orang yg berolaharaga menghasilkan keringat dan meningkatnya panas tubuh secara ekstrem lantas bertemu dengan udara malam yg dingin shg muncul reaksi alamiah.
Para pesilat  yg ada difoto tsb juga aktif bergerak disebuah ruangan yg membuat debu meluap naik. Artinya, bisa jadi bulatan itu adalah debu dan air.


Pendapat kedua mengatakan, bahwa bulatan itu adalah energi atau spirits. Agak sulit untuk  menterjemahkan “spirit” itu ke bahasa indonesia, karena nanti diartikan sempit yakni ruh. Intinya,  spirits adalah kumpulan energi, atau pemampatan energi dititik tertentu dan melayang layang. Mata tidak melihat, tapi kecepatan rana fotogragi bisa merekam itu. Mengenai hal ini  bisa search di google dengan keyword: ghost hunter, ghost detector, ghost picture, spirits picture, unussual phenomenon picture, dstnya. Foto spt diatas akan mudah ditemukan bertebaran disitus2 spt telah sebutkan diatas. Kelompok yg yakin bulatan itu adalah spirits memberi nama dengan sebutan khas, yakni : bulatan  “ORB” (orb circle).

 
Link yg bisa ditengok mengenai “bulatan, lingkaran ORB” misal disini:

http://www.google.co.id/search?hl=id&q=ghost+picture&btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=

Contoh foto ttg ORB hasil org bule:  http://www.ghostresearch.org/ghostpics/mtthabor.html</