HidÄÿÄt's posts with tag: gadget
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | YAESU, Japan |
Yaesu VX 6R adalah “senjata” wartawan lapangan untuk monitoring harian situasi dikota besar. Kebiasaan wartawan melakukan monitoring frekwensi radio sudah dimulai sejak jaman dahulu, entah sejak kapan karena tidak ada catatan resminya. Ketika radio tranciever HT muncul dipasaran, sejak saat itulah wartawan disini juga membawa HT jenis yg sama yang kerap dipakai oleh petugas negara resmi, spt aparat, petugas ambulance, jalan tol, dstnya. Kota sedemikian besarnya, memonitor melalui frekwensi radio adalah pilihan paling masuk akal untuk mengetahui “sedang terjadi apa” diluar sana. Radio transciever HT popular pertama yg dikenal tangguh dilapangan saat itu adalah brand ICOM dengan putaran frekwensi model congkelan dengan kuku tangan. Belum digital dan masih manual. Kemudian ketika era scan digitall masuk kemari, perlahan teknologi wajah HT pun berubah. Yaesu VX 6R adalah salah satu tipe paling popular dibawa oleh wartawan lapangan. Bentuknya kecil dan mempunyai band yg cukup lebar 2M, 220 & 440 MHz. Tipe ini mampu menampung saved memory hingga 900, submersible hingga 1,5m didalam air. Mampu melakukan monitoring hingga 504 kHz ~ 998.99 MHz, tapi gak bisa masuk untuk mendengarkan telp cellular. Kecepatan scan juga tidak jelek amat, sekitar 11 channel per detik (VFO mode). Bentuknya yg kecil sangat memudahkan untuk dimasukan dalam saku atau dijepitkan dipinggang. Kecil, tangguh, kuat, dan hebat untuk dibawa mondar mandir dilapangan. Perlu dicatat. Membawa radio HT tipe transciever membutuhkan “SIM dan STNK”. Artinya yg bawa harus punya ijin kayak SIM, dan yg “mobilnya” juga harus punya STNK. Jangan main main mengacaukan frekwensi (transmit) apalagi jika tidak punya SIM (atau callsign) karena bisa dijerat dengan UU yg berlaku. Jika tidak ada kepentingannya, mending jangan bawa alat komunikasi tipe “transceiver” yang termaktub dalam peraturan tsb. *** hsgautama.multiply.com Free VX-6R Commander program Universal Radio inc   . 
| Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | ONDA Japan |
 Bass nya gokil banget. Wuiiih, nendang kelangit. Sangat melimpah dan kuat. Dan bagusnya, karakter bass nya beda jauh dari cetakan SONY. Saking kuat bass nya lebih cocok dikatakan "mbleber" sana sini. Brand ONDA ini adalah merk aneh yg disodorkan oleh teman kantor. Katanya dapat dari temennya di Bali yg baru pulang dari Jepang. Dengan bungkus sangat sederhana dan sama sekali tidk meyakinkan, apalagi harganya cuma Rp.100.000 aja, barang ini sempat dicoba memakai Playstation portable mendengarkan lagu dan terkaget kaget dengan bass suaranya. Ketika dicoba dengan ipod juga sangat cocok. Keren, buat harga segitu memang lumayan bagus dan langsung menginjak keraguan akibat bentuknya yg sederhana. Kejelekan benda ini yakni kabelnya sangat pendek. Earphones ini diperuntukan buat MP3 player yg digantungkan didada. Jadi jangan berharap pakai ipod dikantungin dicelana bakalan bisa karena panjang kabelnya tidak akan mencukupi. .
Sering org awam bingung bertanya kenapa harus membeli sebuah headphones berkualitas baik secara teknis dan menjadi fanatik dengan brand tertentu, dengan dibandingkan membeli “headphones apa aja deh” yg ada ditoko kaset manapun. Perbedaan terbesarnya saya pikir, headphones dengan brand bagus dan berkualitas dibuat berdasarkan perbedaan beberapa tipe yg jelas menurut fungsi yg diinginkan oleh pemakainya. Sedangkan “headphones abal abal” tidak merasa perlu membuat aneka tipe karena yg penting “suaranya asal keluar saja”. Sekarang bicara tentang perbedaan terbesar user yg memakainya. Jika digolongkan, maka sebetulnya cuma ada dua golongan konsumen yg memakai headphones. Pertama golongan khalayak luas, yakni mereka yg membeli headphones karena suka mendengarkan musik dengan kenyamanan ekstra, entah itu dia seorang audiophile tulen atau cuma sekedar dengar musik saja jrang-jreng. Kedua yakni golongan professional yg karena tuntutan pekerjaannya butuh headphones dengan speks teknis tertentu dan spesifik untuk presisi monitoring suara, disini salah satunya adalah audio engineer, DJ, audio recordist, audio mixing, atau pekerja broadcasting. Headphones jelas beda dengan earphones, dimensinya lebih besar, karena itu peralatan teknis yg terpasang didalam sepasang unit headphones pun lebih besar penampang engineering nya, oleh sebab itu sebetulnya secara teknis kemampuan headphones merespon suara lebih optimal jelas lebih baik dari earphones, ini soal kenyamanan telinga juga. Seseorang yg mau mengeluarkan uang untuk membeli “headphones bagus” artinya dia memang menginginkan kenyamanan ekstra dan “kemewahan dentum audio” yg tdk akan ditemui di earpones. Sambil becanda saya bilang, jika kamu sudah pengen beli headphones bagus yg harganya sejuta, maka kalian termasuk golongan manusia pilihan “yg mengalami pencerahan”, enlighting ears. Telinga ini pasti sudah tau apa bedanya suara “ancur” dan suara “bagus”.
Sennheiser HD 205 lansiran Sennheiser, salah satu pemain terkuat didunia ini untuk urusan audio, adalah headphones spesifik yg ditujukan untuk kalangan pro yakni DJ dan profesi audio engineer yg terkait didalamnya. Ini bukan headphones buat “sekedar dengar suara ”, HD 205 memang untuk kebutuhan monitoring audio yg akan memberikan output presisi. Jadi speksnya memang termasuk istimewa dan memberikan kemewahan mendengarkan audio yg sangat baik. Sisi istimewa lainnya adalah, HD 205 mempunyai kekuatan membekap kedua telinga dengan rapat melebihi headphones manapun dipasaran saat ini. Dengan busa tebalnya yg nyaman dimangkoknya, dan begitu ketatnya ia menutup telinga, maka pendengarnya seolah terpisah dalam dunianya sendiri karena akan mencegah meresapnya suara dunia luar kedalam telinga. Membayangkan seorang DJ sedang memakai ini disebuah ruangan krodit dipenuhi ratusan manusia dan dentuman gila suara speakers, maka masuk akal jika HD 205 memang didesain sangat kuat menutup telinga. Satu sisi hal ini memang bagus, tapi sisi lain yg akhirnya terasa buruk, jika boleh dikatakan begitu, saya rasa saking kerasnya dia membekap telinga, maka bisa membuat telinga agak panas. Apalagi jika memakai kacamata spt saya, tekanan gagang kacamata terasa sangat kuat diarea sekitar telinga akibat tekanan ekstra dari HD 205. Buat yg betah mungkin gak merasa apa apa, tapi buat saya ini masalah kecil yg terasa. Mungkin memang fungsinya sebagai alat monitoring pro, dia tidak dipakai terus terusan ditelinga, tapi cocok untuk satu sesi atau sekian sesi kerja saja. Bukan untuk 3 jam pakai ini nonstop. Perbedaan mencolok lainnya, headphones ini bisa diputar mangkoknya shg membiarkan satu telinga terbuka mendengarkan suara lingkungan (ambient sound). Dikalangan audio mixer spt Dj, mencampurkan musik perlu juga mendengarkan hasilnya yg keluar di speaker, karena itu daripada repot copot pasang headphones dikepala, maka dia dapat memutar mangkok alat ini satu keatas dan sisi satunya tetap menempel ditelinga. Sebuah desain yg bagus yg memang ditujukan buat kepentingan pro yg butuh dengan fungsi semacam ini. Tulisan sebelumnya ttg audio disini: 1 2 Website Sennheiser.
General Description The HD 205 provide an excellent sound quality and a brilliant shielding of ambient noise. The rotatable ear cup as well as the single-sided cable make them a professional companion even for DJ's. The HD 205 come with a convenient protective pouch for storage and transportation. Technical Data Nominal impedance 32 Ohm Jack plug 3,5/6,3 mm stereo Transducer principle dynamic, closed Ear coupling supraaural Cable length 3 m Weight w/o cable 206 g Frequency response (headphones) 14 -- 20000 Hz Sound pressure level (SPL) 112 dB(SPL) THD, total harmonic distortion < 0,5 % Features Medium-sized dynamic, supraaural headphones For compact systems or mobile players (32ohm) Powerful stereo sound Outstanding passive attenuation of ambient noise Rotatable ear cup for one-ear listening Highest wearing comfort for long music sessions Comfortable head- and ear pads Convenient protective pouch included 3.5 mm jack plug and ¼“ (6.3 mm) screw-on jack adaptor, gold-plated Single-sided cable 2-year warranty Delivery Includes Stereo headphones HD 205 6,3 mm screw-on jack adapter, gold-plated Protective pouch Technical Data Nominal impedance 32 Ohm Jack plug 3,5/6,3 mm stereo Transducer principle dynamic, closed Ear coupling supraaural Cable length 3 m Weight w/o cable 206 g Frequency response (headphones) 14 -- 20000 Hz Sound pressure level (SPL) 112 dB(SPL) THD, total harmonic distortion < 0,5 % Glossary Nominal impedance See impedance. Jack plug A common audio connector in consumer electronics and music industry. Available in various diameters; in the hi-fi segment, 1/8" and ¼" are widely used. Poles range from one to four. (Examples: headphone jack or jack of an electric guitar). Transducer principle Two transducer principles have become established for the conversion of electric energy into mechanical energy: electrodynamic and electrostatic transducers, whereby the latter is only to be found in audiophile systems, due to their relatively high manufacturing costs. Electrodynamic transducers basically consist of a ring-shaped permanent magnet and an oscillation coil, which is fixed to the receiver diaphragm. When an audio-frequency alternating current is passed through the oscillation coil, it is caused to vibrate in accordance with the audio-frequency alternating current, thus causing the diaphragm to vibrate in the same way. Ear coupling A distinction is made between headphones which are worn on the external ear (supra-aural) and those which surround the ear (circumaural). Open headphones have foam ear pads that rest on the ears or ring pads that surround the ears. Closed headphones, on the other hand, nearly always have circumaural ear pads. Cable length The cable length is usually measured between the anti-kink sleeves of the cable (cable length without connectors). Weight w/o cable Frequency response (headphones) The frequency response of a pair of headphones is given within limits defined by the manufacturer. Sound pressure level (SPL) Due to the impractical numerical values, the sound pressure is usually given as the logarithmic value of the sound pressure level according to the equation: dB SPL = 20 x log (po / 0.00002 Pa). The abbreviation SPL (sound pressure level) is added in order to make a clear distinction from other uses of dB. The reference sound pressure, which is at the same time the threshold of hearing, is then 0 dB SPL. The threshold of pain is 140 dB SPL. A difference in the sound pressure level of 1 dB is just about perceptible, while a doubling of the sound pressure corresponds to 6 dB and a doubling of the volume corresponds to a rise of 10 dB. THD, total harmonic distortion Total harmonic distortion is a measure of non-linear harmonic distortion and is given in %. Non-linear harmonic distortions are signals which were not present in the original before the signal was converted by the headphones. These unwanted signals are caused by the diaphragm, whose movements do not precisely move in time with the electric signals that cause it to move. Unfortunately, this is a feature of all electroacoustic transducers. Although it cannot be completely eliminated, suitable steps can be taken to minimise it. However, the user is not interested in why this distortion takes place but in how great the level of distortion must be for it to become perceptible. According to the findings of several research projects, a total harmonic distortion of 1% in the frequency range of 100 to 2000 Hz is imperceptible. Below 100 Hz, the perceptibility threshold lies at 10%.
Apakabar kamera Polaroid? Jaman sekarang melihat kamera ini seperti menemukan fosil saja. Ditengah hiruk pikuk serbuan kamera saku digital dan juga hape berkamera, kamera Polaroid seperti habis sudah dimakan jaman. Tidak laku dan tidak ada lagi yg mau memakai kamera ini, selain tidak ada yg menjual disini. Namun, sesungguhnya selama 10 tahun terakhir, Polaroid masih dipakai dibeberapa wilayah dikota besar. Dan tempatnya beredar hanya ada diarea wisata yg ramai pengunjung. Katakan saja jika ke Ancol atau ke kebun binatang Ragunan, para fotografer keliling dengan pintar merayu pengunjung agar mau berfoto memakai Polaroid. Pengunjung yg datang tanpa kamera, bisa mendapatkan jasa fotografer keliling ini untuk berfoto bersama. Saat indah akan terekam bersama Polaroid, sebuah kenangan manis bak suvenir yg indah diingat kelak.
Polaroid ditemukan oleh Edwin Land dengan nomor paten 2435720. Dia adalah pria amerika yg melahirkan satu alat fotografi jenis baru yg disebut sebagai kamera foto instan langsung jadi. Cikal bakal kamera pertama Polaroid beredar dipasaran sekitar November 1948 dan mendapatkan sambutan antusias. Tahun 1960, dengan menggandeng Henry Dreyfuss ia kemudian melahirkan jenis kamera bernama Automatic 100 Land Camera, lalu kemudian muncul Polaroid Swinger camera tahun 1965. Selama masa jayanya Polaroid mengeluarkan beberapa tipe dan jenis kamera dipasaran. Dan tanpa diketahui banyak publik di Indonesia, Polaroid sebetulnya juga mengeluarkan tipe ‘movie camera’ yang juga mempunyai prinsip sbg kamera instan. Nama produknya adalah: Polavision. Satu unit alat ini termasuk kamera, film nya, dan tentu saja alat untuk melihat (movie viewer). Sayang, polavision tidak berjaya dipasaran karena dia hanya mampu memakai ASA 40 yang artinya saat pengambilan gambar harus membutuhkan cahaya super terang. ****** 
Dipenghujung tahun 1992 ketika akan ditugaskan kepedalaman Kalimantan Timur menuju kedesa desa diatas Barong Tongkok, saya menyambut antusias penugasan ini. Kapan lagi masuk kepedalaman hutan Kalimantan via jalur sungai? Perjalanan satu trip lumayan panjang yakni bisa 3 hari dan 2 malam diatas perahu besar menyusuri sungai, belum lagi ditambah dengan naik speed boat kecil dan ditambah naik ojek beberapa kali (jhalan-becheeck), belasan jam menembus jalan setapak ditengah rimba. Transportasi disana memang seperti itulah. Terasa betul namanya perjalanan dari Balikapan sampai kedalam hutan. Sehari sebelum keberangkatan, saya meminjam kamera Polaroid dari seorang kawan baik, lalu membeli dua pak film instant nya ke Pasar Baru. Harganya lumayan mahal. Tapi saya butuh itu. Kamera Polaroid ini adalah cara saya “berkomunikasi” dengan penduduk lokal ditempat tujuan nanti. Dengan memotret mereka sekeluarga lalu memberikan hasil foto ketangannya langsung akan membuat saya mudah diterima diantara kelompok kelompok suku disana dan keluarga kecil dipedalaman. Fotografi sebagai bahasa, dan selembar foto instan saya pakai untuk mendekatkan diri saya dengan mereka secara lebih cepat dan akrab. Jawabannya adalah dengan Polaroid yg menakjubkan itu. Februari kemarin ketika Polaroid mengatakan kepada CNN Money bahwa mereka 'naga-naganya' mau menutup usahanya memproduksi film dan kamera instant ini, saya langsung merasa bersedih. Pada akhirnya memang pasar lebih berpihak kepada teknologi baru yg lebih cepat dan semakin instant yakni kamera digital, sekalipun bukan berarti kamera digital artinya “cetak cepat” spt halnya Polaroid. Mengingat beberapa keberhasilan penugasan saya justru karena kamera Polaroid yg membantu mencairkan jarak antara saya dan narasumber, rasanya secara historis saya pribadi juga punya 'cerita berwarna' dengan kamera jenis ini. Dan sekarang ketika dikatakan kamera ini akan dihapus dari pasaran, kita akan kehilangan salah satu landmark penting dalam sejarah 100 tahun lebih fotografi. Dan bukan saya saja, para “tukang foto keliling” di Ragunan dan Ancol pasti akan kehilangan pekerjaan jika memang Polaroid tidak akan meneruskannya atau mereka tidak menemukan partnership yang masih mau memproduksi film dan kamera jenis ini lagi dikemudian hari. **** hsgautama.multiply.com
Foto dari sini

PETISI ONLINE :
Online petition - Save Polaroid Film!!
Jika ada temen yg tanya beli GPS handheld apa yg paling baik untuk keperluan mobilitas urban dan kuat dipakai untuk aktifitas hardcore kealam bebas, maka gak mikir dua kali saya bilang, pakai Garmin 60 CSX. Tanpa ragu tipe inilah yg paling cocok dipakai dititik silang tengah antara dua kepentingan itu. Pendek kata, khusus buat kalian yg memang kepentingannya suka hiking/ camping kehutan lebat, dan juga suka mondar mandir pakai mobil atau taksi diantara kota besar dimanapun didunia ini, maka tipe inilah yg paling enak dibawa dalam genggaman tangan. Dimensinya pas, kinerja alatnya juga sangat baik dan dapat diandalkan. Dibanding beberapa tipe handheld Garmin lainnya yg pernah dijajal ditangan, maka tipe ini punya beberapa keunggulan yg tidak bisa dibandingkan dengan saudara “sepabrik” nya. Keunggulan ini yg membuat dia menjadi sangat istimewa dan cocok melayani kepentingan spesifik pemakainya spt diatas. Ukuran Layar. Tipe 60 CSX layarnya pas. Tidak kelewat kecil seperti Etrex, dan tidak terlalu lebar spt halnya tipe GPS untuk diletakan didashboard mobil atau speed boat. Bahkan dibandingkan dengan Map 76, dia lebih sleek, ramping memanjang, bukan melebar kesamping. Karena itu, dimensi seperti ini cocok buat digenggam ditangan saat jalan kaki, dan cocok pula dipasang di dashboard mobil untuk driving dalam kecepatan tinggi. Layar kecil seperti etrex hanya cocok untuk jalan kaki saja, atau naik sepeda, dimana resiko kecelakaan akan minim sekali mengingat mata terhenti cukup lama mengamati tulisan dan data trek log yg muncul dilayar. Khusus buat yg usianya udah 35 keatas, dan sadar bahwa matanya sudah plus atau minus, layar selebar ini ada baiknya dipertimbangkan mengingat kecermatan mata mengamati layar akan berkurang dibanding manusia yg masih dibawah usia 35 an. Ditambah lagi, memperhatikan layar GPS sambil membawa mobil kecepatan tinggi akan sangat berbahaya jika mata justru terpaku lama dilayar. Sensifitas hebat menerima signal lemah. Satu hal yg amat istimewa dari tipe ini adalah kemampuan super hebat menangkap signal lemah. Dengan prosesor khusus bernama SIRF yg tertanam di unit ini, maka dengan mudah dia menerima signal dalam kondisi apapun. Bahkan dibawah atap genting rumah (diteras rumah depan), bisa pula dibawah atap mobil tanpa perlu meletakan GPS dikaca depan, dan dibawah canopy hutan rapat, dimanapun sesuka kita. Membawa 60 CSX sambil jalan bisa dengan mudah kita masukan didalam tas ransel tanpa perlu digenggam selamanya, atau digeletakan begitu saja dibangku mobil, bahkan bisa ditaruh dibawah jok. Keunggulan 60 CSX seperti inilah yg tidak akan ditemui dibeberapa tipe GPS sejenis lainnya dipasaran. Sensifitas super ini juga didukung dengan antenna tabung (quad helix bentuk tabung bulat) yg sesungguhnya mempunyai kemampuan menerima signal dari segala arah, tidak perduli bagaimana posisi unit GPS itu didalam tas, terbalik sana sini, ditumpuk oleh snack dan baju, toh dia akan tetap menerima signal satelit dengan sempurna. Ini akan beda hasil misal dengan antenna memakai lempengan mendatar yg justru dianjurkan agar lempengan tsb tetap menghadap kelangit. Hebatnya lagi, unit ini lumayan hemat battere dibanding pendahulunya. Logikanya, semakin sensitif dia menerima signal maka battere makin boros, dan ini tidak boros. Dikantong gak perlu bawa battere sekotak hanya untuk perjalanan 3 hari kedalam hutan (dihutan gak ada warung kan ). Data eksternal. Garmin 60 CSX mempunyai slot penyimpanan data di card tambahan. Ini membuat dia akan bisa menampung data peta yg memang boros memori. Unit ini memang punya kemampuan untuk donload dan upload data dari Mapsource dan memudahkan pertukaran data antar sesama pemakai, ditambah lagi adanya slot kartu tambahan akan membuat mudah membuat ekspansi keperluan sesuai keinginan user. *** hsgautama.multiply.com Link lain ttg GPS ada ditulisan ini.  Physical & Performance: | | Unit dimensions, WxHxD: | 2.4" x 6.1" x 1.3" (6.1 x 15.5 x 3.3 cm) | | Display size, WxH: | 1.5" x 2.2" (3.8 x 5.6 cm) | | Display resolution, WxH: | 160 x 240 pixels | | Display type: | 256 level color TFT | | Weight: | 7.5 oz (213 g) with batteries | | Battery: | 2 AA batteries (not included) | | Battery life: | 18 hours, typical | | Waterproof: | yes (IPX7) | | Floats: | no | | High-sensitivity receiver: | yes | | PC interface: | serial and USB | | RoHS version available: | yes |
Maps & Memory: | | Basemap: | yes | | Preloaded maps: | no | | Ability to add maps: | yes | | Built-in memory: | no | | Accepts data cards: | 64 MB microSD card (included) | | Waypoints/favorites/locations: | 1000 | | Routes: | 50 | | Track log: | 10,000 points, 20 saved tracks |
Features: |
|
| | Automatic routing (turn by turn routing on roads): | yes | | Electronic compass: | yes | | Barometric altimeter: | yes | | Geocaching mode: | yes | | Outdoor GPS games: | yes | | Hunt/fish calendar: | yes | | Sun and moon information: | yes | | Tide tables: | yes | | Area calculation: | yes | | Custom POIs (ability to add additional points of interest): | yes | | Unit-to-unit transfer (shares data wirelessly with similar units): | no | | Picture viewer: | no |  .
Bagaimana memilih tas kamera? Ini pertanyaan mendasar dan pertanyaan seperti ini pasti ada dikepala setiap orang yg suka dengan fotografi (atau videografi), baik itu dia sekedar hobiis amatir ataupun seorg prof. Tas adalah tempat menyimpan peralatan dan membawanya kian kemari dibutuhkan sebagai sebuah keharusan. Tas itulah yg akan menyimpan semua jenis dan bentuk alat, membawanya kesana sini secara ringkas, membuatnya terlindungi, dan menjaganya dari tercecer disembarang lokasi. Ternyata dari semua hal itu, masih ada hal lain yg perlu diperhatikan oleh user sipemakai tas tsb. Beberapa pokok pikiran yg bisa jadi berbeda antara tiap orang pemakainya dikarenakan alasan spesifik yg hanya diketahui oleh si user tsb. Patokan personal itulah kemudian menjadi dasar user mencari sebuah tas tertentu yg dianggap paling pas buat dirinya, sedangkan tas jenis lainnya malahan dianggap gak bagus sekalipun harganya lebih mahal karena memakai bahan yg lebih top. Perlindungan optimal. Nyaris semua tas kamera diklaim memberikan perlindungan optimal atas dua hal: benturan dan kedap air. Karena itu bahan kainnya biasanya memang kanvas tebal atau material yg mempunyai lapisan yg membuat air tidak meresap. Selain itu, tas kamera biasanya tebal dan gendut, ini dikarenakan banyaknya lapisan busa anti benturan yg ditanam disekujur tubuh tas. Tapi bukan berarti ini lantas dianggap bahwa tas spt ini lantas jadi “bagus banget”. Justru banyak kalangan fotografer pro yg jengkel dengan tas yg gendut karena dianggapnya tidak bisa dibawa melewati kerumunan massa dengan luwes dan pasti tersangkut diantara kerumunan tsb. Tas yg lunak tapi punya perlindungan bagus justru yg disukai oleh kelompok ini. DOMKE adalah salah satu brand lama yg mengklaim dirinya membuat tas yg aman tapi punya kelenturan yg baik buat fotografer pro agar mudah bergerak kesana sini. Jenis busa pun beragam, ada seluruh tas dilapis busa, dan ada yg hanya dipojokan dan dasarnya saja. Tiap tas dan brand mempunyai patokan tersendiri disesuaikan oleh keinginan usernya. Karena itu sekalipun sudah ada busanya toh isi sekatnya masih bisa dibongkar pasang sesuai jenis dan dimensi alat yg dibawa oleh fotografer kelapangan.
Ransel mirip daypack atau dicangklong dipundak. Pilihan tas paling banyak dipasaran terbagi dua kategori, yakni tas kamera model ransel daypack, atau tas dengan gaya digantungkan dipundak. Keduanya jelas beda dalam soal distribusi berat. Tas ransel cocok untuk tipe perjalanan jarak jauh antar kota dan pemotretan panjang dari satu lokasi kelokasi lainnya, sedangkan tas pundak lebih cocok untuk pemotretan pendek dan cepat. Seorang fotojurnalis kebanyakan memilih tas cangklong pundak karena peralatan yg dibawa lumayan berat perharinya yakni 2 bodi kamera, 2 flash + 2 powerpack, 1 lensa superwide, 1 lensa medium tele, dan pernik kecil tambahan. Tas pundak terasa sangat berat menekan pundak, top loading, dan karena itu cocok untuk pemotretan jarak pendek serta singkat. Selain itu, buat fotojurnalis, tas pundak gampang diawasi mata apabila dipakai bekerja diantara kerumunan manusia dibanding tas ransel yg ada dibelakang punggung (jangan dicopet gitu).
Kejelekan lain tas ransel adalah soal cara membuka resletingnya yg umumnya langsung terbuka lebar. Artinya resiko tumpahnya lensa dan camera terjatuh mendadak sangat mungkin terjadi. Karena itu membuka kamera dan lensa didalam tas ransel harus dalam keadaan berhenti, tas diletakan di ground, lalu alat dibuka pelan, kemudian baru bisa kembali bekerja. Buat fotojurnalis atau fofografer pro yg suka hunting dijalanan, ransel jelas menghambat kecepatan gerak mengambil alat sembari bekerja berbarengan. Untuk peralatan yg ekstra banyak yg akan dibawa berpergian antar kota, kini sudah ada tas kamera gaya koper dengan roda agar mudah didorong kesana kemari. Memudahkan dan mempercepat gerakan perpindahan manusia dan alat berbarengan.  Gua keliatan keren gak ? Ini masalah jualan tampang memang. Banyak yg mengatakan perlunya “gaya” ketimbang fungsi, warna dan cut menjadi urusan nomor satu. Jadi ketika membeli tas kamera, pada akhirnya gaya juga yg dipikirin ketimbang fungsinya. Misal saja ada anggapan pemakai brand lawas spt DOMKE dianggap pasti dia fotojurnalis pro atau reporter kawakan, Billingham beken dikalangan fotografer top di Eropa, sedangkan brand Lowepro dan Tamrac pasti dia fotografer yg suka hunting kesana kemari, sambil mengerjakan proyek client serius, membawa kamera banyak dan penuh lensa berukuran besar didalam tas. Sedangkan jika pakai brand pendatang baru spt Crumpler, Caseman atau Bagman, ini dianggap sebagai hobiis , gabungan antara fashion victim atau gadget freak yg suka motret disana sini. Bahkan ada juga brand baru yg muncul dipasaran sini dengan nama “National Geographic Bag”. Agak bingung dengan maksud nama ini, mungkin maksudnya, jika memakai tas ini maka akan tampak spt jurnalis dan peneliti yg bekerja utuk Nat Geo, pergi kesuku suku terasing dan tanah terkucil nan eksotis dijung sebuah hutan lebat. Hehehe, membangun image itu memang urusan yg ajaib kok …  Terlihat jelas atau tersembunyi. Sebetulnya ini sebuah kenyataan, bahwa banyak yg tidak suka terlihat membawa peralatan foto dan seabreg gadget yg ada didalam tas nya ketika berpergian. Ada yg memilih low profile dan tampak bersahaja saat jalan kesana kemari tanpa terlihat membawa kamera dan macem macem. Tas nya hanyalah tas ransel daypack biasa merk lokal EIGER yg biasa dipakai kebanyakan anak SMA. Betul betul tidak ada keliatan jelas dia bawa peralatan kamera.
Cara ini juga disukai oleh kebanyakan fotografer di agensi kokoh spt MAGNUM. Fotografer Magnum rata rata membawa kamera utamanya adalah LEICA, sedangkan kamera jepang justru sampingan saja. Toh begitu mereka sukanya membawa tas lecek dan kumel mirip bule miskin yg nyangkut di jalan Jaksa. Sama sekali gak keliatan membawa 3 kamera Leica dan lensanya yg total harga satu tas itu bisa 300 jutaan lebih. Misal saja, Sebatiao Salgado dari Magnum ketika ketemu dia airport Cengkareng tahun 93, dia membawa tas busuk bulukan yg didalamnya ada 4 kamera LEICA plus semua lensanya. Ajegile, beda jauh tampang dan isi. Sebaliknya, ada yg suka terlihat sepeti fotografer beneran. Baik itu karena dia memang fotografer pro atau amatir. Rasanya tidak sah jika tampangnya gak keliatan spt fotografer beneran. Karena itu semua tas nya mempunyai stempel brand beken, dan biasanya tidak murahan.
Saya sendiri… saya gak suka keliatan bawa alat macem macem. Lebih suka terlihat spt jalan jalan biasa. Sejak tahun 90an jobdesknya “making a visual” membuat saya bosan berat membawa peralatan yg banyak. Buat saya, makin ringkas makin baik, makin tidak kelihatan bawa alat makin bagus. Apalagi jaman kini, alat semakin kecil saja ukurannya dan kian powerfull. ***hsgautama.multiply.com
Link keren (dan asal foto produk disini): http://www.lowepro.com/http://www.tamrac.com/http://www.cambags.com/camera_mainpage.htmhttp://www.tiffen.com/products.html?tablename=domkehttp://www.bagmanworld.com/productshttp://www.crumplerbags.com/Cart/index.php?catId=22http://www.billingham.co.uk/pages/index.php ..... 
Review Kohjinsa Bentuk dan beratnya sangat mengesankan. Dengan layar cuma 7” dan bobot tdk sampai 1 kg, Kohjinsha ini memang layak masuk dalam kategori UMPC (Ultralight Mobile PC) dalam arti sesungguhnya. Dialah yg disebut sebagai pembunuh eee pc Asus dan Ubud milik Zyrex (sekalipun beda speks), lalu menjadi pesaing berat dari produk laptop super mungil keluaran Fujitsu dengan perbedaan harga yg sangat mencolok. Secara fisik, Kohjinsha memang tdk beda jauh dibanding kompetitornya, panjang sekitar sejengkal tangan pria dewasa, barang ini akan sangat mudah diselipkan kedalam tas mungil, dan tentunya sangat disukai perempuan karena ringan (mudah masuk ke ladies bag), atau pekerja lapangan yg mudah membawa barang ini kian kemari. Bahkan, dia bisa dengan mudah dimasukan kedalam wadah kedap air Tuperware jika ingin dibawa misal menembus derasnya hujan didalam tas ransel ketika wira wiri dengan sepeda atau motor ditengah kota.

Memakai ini ditangan membutuhkan kebiasaan terlebih dahulu dengan posisi jari tangan. Ukuran keyboard nya yg lebih mungil dari pads keyboard umumnya, membuat tekanan jari kudu presisi menekan dititik huruf yg pas. Selain itu selera tekanan pads keyboard terasa sedikit lebih keras dibanding produk pesaingnya. Bisa dibilang per-membal-nya lebih terasa tegas di keyboard milik Kohjinsa dibanding punya Asus atau lainnya.
Untuk pemakai berbadan besar dan mempunyai ukuran jari sebesar ubi rebus, hehehe, bakalan kesulitan memencet keyboard Kohjinsa. Tapi pemakai yg jarinya manis kecil dan lurus ramping lebih mudah menekan tombolnya . Selain itu, tampilan huruf dilayar 7" memang membutuhkan kecermatan tersendiri apalagi buat kalian yg matanya sudah memakai kacamata plus. Buat yg berumur diatas kepala empat, membaca huruf dilayar sekecil ini memang bikin capek saja.
Kekurangan lainnya buat saya apalagi menyangkut sisi pekerjaan saya, yakni Kohjinsa ini tdk dilengkapi oleh port Firewire i/o yang bisa dipakai untuk mengedit video. Berhubung memang pekerjaan saya terkait erat dengan urusan video, enaknya memang barang ini ada port firewire. Selebihnya, kinerja barang ini mengesankan dilihat dari prosesor nya dan kelengkapan koneksinya. Dipakai didalam ruangan, diperjalanan, disebuah titik tujuan, Kohjinsa dapat diandalkan sebagai UMPC yg sanggup “berlari kenceng” menjalankan aplikasi serius untuk dipakai bekerja atau sekedar bermain saja ngutak utik PC mungil yg cantik ini.
Kohjinsa SH-811WS [SH811WS-CSV1] Kohjinsa SH-811WS Intel® processor A100 (600MHz), Memory 1GB, 120GB HDD, Microsoft® Windows Vista® Home Premium, Bluetooth Ver,2.0+EDR, IEEE802.11 b/g, 7" Wide TFT Color LCD (LED Back light) with Touch Screen Resolution, 1.3 MegaPixels Webcam, 3-in-1 Media Card Reader Slot, Approx 985g (with Standard Battery). Spesifikasi Platform : - Intel® processor A100 600MHz - Chipset Intel 945GU +ICH7U Operating System : Genuine Windows Vista Home Premium Memory Module : - 1GB PC2-3200 (DDR2 - 400 SO-DIMM) - 1-Slot (already in use by standard menory) up to 1GB Display Function : - Built-in 7" Wide TFT Color LCD (LED Back light) with Touch Screen Resolution (standard display) - 1,024 x 600 Dot Resolution (Maximum) 1.600 x 1,200 - LCD Display approximately 16.2 million colors (at standard 1,024 x 600dpi) - Graphic Engine Intel 945 GU 64MB Video RAM Storage : - Hard disk drive 120 GB User Interface : - Keyboard 80-Key US - Pointing device Touch Pad, Stick Pointer, Touch Screen Communication : - LAN 100 BASE -TX/10 BASE -T - Wireless LAN IEEE802.11b/g - Bluetooth Ver.2.0+EDR (with Front Switch) - WebCam 1.3 Million Pixels Audio : - Sound Realtek High Definition Audio - Speaker Internal Stereo Speaker (0.5W + 0.5 W) i/o ports : - Mic Terminal x 1 - Head Phone x 1 - Sound Volume (with mute switch function) - 3 in 1 Media Slot: SD Card (SDHC/SDIO) / Memory Stick / MMC Card compatible - USB 2.0 Port x 2 - CF Card Slot (Type-II) x 1 - LAN Port x 1 - Analog CRT Port (Analog RGB Mini D-Sub 15-Pin) x 1 - Power Switch Power Source : - AC adapter (Input 100~240 V , 50/60Hz) - Standard battery Lithium lon Battery (11.1V, 2600mAh) - Approx 3.5 Hours - Consumption Use Max. 60W, Normal 15W / Stand-by Mode 2W, Power off less than 2W Main Accesories : - Stylus Pen - PC Pouch - AC Adapter + AC Cable - Users Guide - Warranty Card - Standard Battery - Strap etc Dimension & weight : - Substance size Approximately Approx 227 mm (W) x 170 mm (D) x 25.4~33 mm (H) - Mass Approximately 985g (with Standard Battery) Price : Rp. 9,950,000,-
.
Link: http://gp.co.at/works/jano/Sepeda kayu setipis tripleks? Wah ini baru aneh. Toh begitu emang ada yg mikirin ini dan ingin membuatnya.    .

|  | 
Melihat pameran Mega Bazar Computer dan pameran peralatan fotografi FOCUS 2008 di JHCC. Acaranya seperti biasa meriah, tapi gak dibilang super duper padat didalam gedung. Paling tidak masih bisa dipakai buat jalan kesana kesini. Jalan mondar mandir kian kemari capek juga, kaki sampe pegel, hehehe. Banyak ketemu teman selama didalam sini, ada yg gak sengaja say helo ketemu disini. Dan ada juga yg memang janjian ketemu ditempat ini karena mereka mencari beberapa barang spesifik diarena pameran.



 .
|
Link: http://www.transcend.nl/Press/index.asp?LangNo=0&axn=Detail&PrsNo=1032...Edan euy, makin gila aja kapasitas USB. Akhir taun ini bisa ada USB seukuran 100 GB, siapa tau kan... ?  In order to meet growing consumer demand for large capacity portable storage solutions, Transcend Information, Inc. (Transcend), a leading manufacturer of flash memory products, today introduced its latest high-capacity USB flash drive – the 32GB JetFlash® V60. About the size of an AA battery (61mm x 18.6mm x 9.8mm), the versatile JetFalsh V60 is small and light enough to be taken anywhere. With its enormous 32GB memory capacity, you can easily store all of your personal files, music, digital photos, and even full-length HDTV movies and still have space left for work or school documents. Already known for its eye-catching colors and surprisingly affordable price, Transcend’s JetFalsh V60 is now more attractive than ever. The newest addition to Transcend’s successful Value series of JetFlash drives, the 32GB JetFalsh V60 is also equipped with a wealth of useful software tools designed for computer users who are always on the go. The JetFlash® elite software suite can be installed to run directly from the JetFlash drive when you plug it in, and includes seven time-saving data management functions, including: Website AutoLogin, PC-Lock, Mobile Favorites, Secret-Zip encryption, Mobile E-mail, DataBackup and Online Update. The JetFlash V60 also supports Windows® 98SE / Me / 2000 / XP / Vista™, Mac® and Linux™, providing seamless data exchange between different operating systems. The 32GB JetFlash V60 is conveniently compact, and can be plugged directly into the USB port on your desktop or notebook for fast, easy data transfer and storage. Add to that its gigantic 32GB memory capacity, and you will never worry about running out of space again! Offered in an assortment of bright, pearl-accented colors, the JetFlash V60 brings “More Value, More Colors, and More Fun!” to your digital world. It is now available in 1GB, 2GB, 4GB, 8GB, 16GB and 32GB capacities. Product Features * Compact design with attractive bright colors * Fully Hi-Speed USB 2.0 compliant, compatible with USB1.0/1.1 * Easy Plug and Play operation - no external power or battery needed * Includes the JetFlash elite software pack: * Website AutoLogin: Automatically login to your online accounts * PC-Lock: Use the JetFlash V60 as a key to lock your computer * Mobile Favorites: Browse your favorite websites wherever you go. * Secret-Zip Function: Compress and password-protect files using powerful 256-bit AES Encryption * E-Mail: Use any computer to securely check, save and send email * DataBackup: Backup, restore and synchronize your mobile data * Online Update: Download the latest version of JetFlash elite * Driverless (only Windows® 98SE requires driver installation) * 100% tested and verified. * Lifetime warranty Ordering Information Part Number Capacity Description Note TS1GJFV60 1GB JetFlash V60 TS2GJFV60 2GB JetFlash V60 TS4GJFV60 4GB JetFlash V60 TS8GJFV60 8GB JetFlash V60 TS16GJFV60 16GB JetFlash V60 TS32GJFV60 32GB JetFlash V60 .
Link: http://www.liquidimageco.com/home/specs.html  5.0MP Underwater Digital Camera Mask Item 302 - Ages 8 - Adult Technical Specifications: Image Resolution - 5.0MP CMOS Sensor Internal Memory - 16MB NAND Flash Memory External Memory Card - Micro SD Card Video Mode - 18-25FPS @ VGA Status Display - LCD Display Interface - USB Power - 2 AAA Alkaline 1.5V Batteries Photographic Distance - 1.2m (5ft) Auto Off System time - 120 seconds Modes High Res - 5.0MP (2560x1920) - 29 Pics Low Res - 3.1MP (2048x1536) - 45 Pics Video - 53S VGA (Image Qty is based on 16MB internal Memory - Add a Micro SD Card to add memory) Depth = 5 M - 30 M Depending on model rating 3.1MP Underwater Digital Camera Mask Item 300 - Ages 8 -12 Youth Item 301 - Ages 8 - Adult Technical Specifications: Image Resolution - 3.1MP CMOS Sensor Internal Memory - 16MB NAND Flash Memory External Memory Card - Micro SD Card Video Mode - 18-25FPS @ VGA Status Display - LCD Display Interface - USB Power - 2 AAA Alkaline 1.5V Batteries Photographic Distance - 1.2m (5ft) Auto Off System time - 120 seconds Modes High Res - 3.1MP (2048x1536) - 33 Pics Low Res - 1.3MP (1280x960) - 55 Pics Video - 53S VGA (Image Qty is based on 16MB internal Memory - Add a Micro SD Card to add memory) Depth = 5 M - 30 M Depending on model rating The Camera Mask does not require software to download images. The ArcSoft Software is included for editing of images and videos. System Requirements for the software - OS Windows:98SE/2000/ME/XP/VISTA MAC 9.X or X.X CPU: PENTIUM II OR ABOVE RAM: AT LEAST 64MB CD ROM: 4X SPEED OR ABOVE  .
Link: http://www.kohjinsha.com.sg/.jpg) Ultralight Mobile PC yg lagi naik daun dan disebut sebagai "pembunuh" eee pc yg dikeluarkan oleh Asus. Dengan speks yg lebih garang dan kenceng, Kohjinsha memang menjanjikan kinerja lebih apik dibanding eee PC. Saat ini di Indonesia sudah masuk beberapa tipe Kohjinsha dengan banderol harga dibawah 10 juta perak per unit nya. Karena permintaan tinggi dan barang belum masuk banyak, harga seperti dimainkan. Ini mirip "sembako digitall" lah, hehehe, melambung seenaknya. Link lain: http://www.bhinneka.com/aspx/pro_display_list.aspx?mb=0&m=K0A&k=000Lhttp://ek-gadgets.com . 
| Start: | Mar 12, '08 09:00a | | End: | Mar 16, '08 | | Location: | Jakarta JHCC Hall A , B , Cenderawasih |
Serentak di 7 kota besar di Ind. .
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Cell-phones | | Manufacturer: | Dual Mode CDMA - GSM |
Dengan maksud untuk meringkas isi tas agar lebih praktis dan tidak dipenuhi oleh beberapa henpon, akhirnya memilih untuk membawa hp dengan fasilitas dual mode CDMA plus GSM (two on). Salah satu opsi hape murmer dual mode dipasaran saat ini masih tetap dipegang produk Cina. Salah satunya adalah Nexian 210 D dengan banderol harga sekitar 1,5 jeti plus bonus FREN didalam kotaknya. Nexian 210 D tampil rapih, tipis juga jek, dan keren secara fisik tapi soal isi jeroan menunya sangat sederhana. Jika kalian berharap isi menunya mirip Nokia atau SE, maka anggapan itu salah, ini hape cina dengan eksekusi menu yg kadang belibet. Ringtones terbatas, tidak ada fasilitas kamera, minus fasilitas input dan output data (no Bluetooth, no infrared, no cable data), gak ada GPRS an, dan gak bisa MMS an . Gak neko neko, memang sederhana. Makanya harganya bisa murah dibanding brand mapan lainnya yg punya fasilitas seabreg dan dikenai harga jual sekitar 4 jutaan keatas (dual mode juga). Dengan kesederhanaannya, toh Nexian juga bisa diandalkan, hanya saja buat jempol tangan saya ukuran keyboard nya terasa lumayan kecil dan kerap salah mencet tombol jika posisi tangan terlalu miring kesamping. Rasa rasanya, jika kecepatan mencet tombol saat sms, kayaknys si huruf dan angka itu nongolnya rada lelet. Beda banget sama sms an dg henpon merk mapan yg selama ini merajai pasaran. Memang, tampilan serasa Nokia atau SE, tapi tombolnya ternyata lebih mungil dari perkiraan. Keuntungan membawa hape dual mode memang melulu soal pertimbangan efisien. Jaman gini, adalah aneh jika malah berpikir terbalik yakni membuat hidup belibet dengan kerepotan membawa sekian hape didalam tas. Semakin ringkas maka semakin bagus. Jika boleh memberi saran, apalabila kalian juga punya beberapa nomor aktif yg harus dibawa (CDMA dan GSM), maka buatlah pilihan prioritas. Hape tipe sederhana spt ini cocok untuk nomor yg memang tidak dipakai untuk tasking seabreg, misal kirim MMS, video call, koneksi internet dll. Dipakai terus menerus sih oke, buat sms atau membuat panggilan telp sana sini. Lalu buat nomer andalan, pakailah hape yg memang punya fasilitas bagus, loaded with tons of features ***hsgautama.multiply.com
.
  . 
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | - |
Senjata andalan reporter lapangan untuk wawancara ******
At just 208g and a size of 135.3x70x27mm, our little PCM recorder (24bit/48kHz) uses both WAV and MP3 files and records directly to SDHC cards rather than an internal HDD like most of its competitors. Our DR-1 utilizes Variable Speed Audition, which slows down speed without changing pitch.

| Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Digital Cameras | | Manufacturer: | Sony Corp |
http://techon.nikkeibp.co.jp/english/NEWS_EN/20080131/146701/Jan 31, 2008 16:25 Yosuke Ogasawara, Nikkei Electronics Sony's full-frame 35mm CMOS image sensor with an effective pixel count of 24.81 million Sony Corp announced that it developed a full-frame 35mm (diagonal: 43.3mm) CMOS sensor (image sensor) with an effective pixel count of about 24.81 million. The pixel size of the sensor is 5.94 × 5.94µm. And its read speed is 6.3 frames per second when it reads all the pixels in 12-bit color. The sensor is targeted at digital SLR (single-lens reflex) cameras. Sony will begin commercial production of it within 2008. The total pixel count of the CMOS sensor is about 25.72 million. "(The count) was realized by manufacturing technologies, such as an advanced planarization technique to enhance the uniformity, in addition to self-developed circuit design techniques," Sony said. The company used "Column-Parallel A/D Conversion Technique," where an A/D converter is arranged in parallel in each column of pixels. This technique reduces deterioration of picture quality caused by noise inherent in analog transmission and enables to read signals at high speed.  .
 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Digital Cameras | | Manufacturer: | Casio Nikkei Electronics |
http://techon.nikkeibp.co.jp/english/NEWS_EN/20080129/146484/[Interview] Casio: There Is No Need for Camera Shutter Jan 29, 2008 17:51 Tomohiro Ootsuki, Nikkei Electronics Printer-Friendly digg This! E-Mail Article del.icio.us EX-F1 Casio Computer Co Ltd will release a digital camera "EX-F1" in March 2008. It enables to release a shutter at the right moment with a continuous shooting speed of 60 fps (frames per second) (each frame is 6 Mpixels) and to shoot full HD (1080/60i) H.264 movies. Previously, about 10 fps was the fastest. In addition, the EX-F1 can take pictures that are invisible to the naked eye (sample movies). The shooting speed can be as fast as 1,200 fps when 336 × 96 pixel pictures are being taken. It is the speed that only expensive industrial cameras could achieve. What did Casio Computer intend to do with the EX-F1? I interviewed Jin Nakayama, general manager for QV Unit of Planning Department, who took charge of the product planning. He is a representative trend setter in the camera industry and has been leading the company's product planning since "QV-10." (Interviewer: Tomohiro Ootsuki) Because it's the only one ... - The EX-F1 is an innovative camera, but it's expensive. Its nominal price, at first, is about ¥130,000 (US$1,220), equivalent to two sets of "D40x," Nicon's digital SLR, and the normal zoom lens. In addition, some people say that they cannot understand the uses of the EX-F1 because it can be used for various purposes. The price is expensive, but the EX-F1 is an innovative camera with the functions that other cameras cannot have. I'm sure that only a small number of people recognize this and buy the camera. Specifically, it can shoot pictures that even a digital SLR with a high-speed auto-focus function cannot shoot and pictures that are invisible to the naked eye. And people who are interested in those capabilities will buy the EX-F1. - People playing sports and birds might be suited for objects of the EX-F1. But there must be more suitable objects, considering that it achieved a distinguished high-speed shooting capability as a consumer digital camera. We have to continue the research on how to utilize |
|