What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag malingsia
Jangan pakai kaos kuning di Kuala Lumpur, jika tidak mau ditangkap oleh Polis Kerajaan Malaysia. Hehehe.
Pasalnya, gerakan proreformasi dan prodemokrasi disana memakai kaos kuning bertuliskan : BERSIH. Siapapun yg memakai kaos kuning, kabarnya akan dikejar kejar, digebukin, dan ditangkap.
Masih soal “warna kuning” yg sekarang membuat cemas semua pemimpin gaek di Malaysia, salah satu perusahaan telekomunikasi DiGi yg melakukan kampanye bisnis “Yellow Coverage Fellows” konon terkena imbasnya. Saham mereka terkena suspended tanpa penjelasan yg pasti, kata Reuters. Banyak yg mentertawakan ini karena pemakaian warna kuning dikampanye iklan DiGi.
In end of 2006, DiGi relaunched its brand campaign after 18 months of absence with Yellow Coverage Fellow (or more affectionally called YCF) through a series of television commercials.
Entitled “DiGi Yellow“, and taglined “DiGi’s WIDEST Coverage. Always with you.“, the commercials incorporated an upbeat theme song "I Will Follow You" that is based on the 1963
Billboard Hot 100 No.1 song "I Will Follow Him" by Little Peggy March. Public response to the campaign was very positive as "I Will Follow You" had become a catch phrase among the Malaysian public.
Jika kita sudah menjadi wartawan dijaman Soeharto pasti hapal banget dengan kasus ini, Mentri Penerangan (menpen) berkoar koar mengatakan berita berat sebelah dan fitnah media menyudutkan pemerintahan yg sah. Menpen ini sibuk memaki Al Jazeera yg disebut mencemarkan nama baik Malaysia karena tampak mendukung gerakan prodemokrasi, proreformasi.
Mahatir dan anteknya, Badawi sama saja, memang membangun Malaysia dg konsep yg sama dengan Soeharto. Dia berguru kepada Soeharto, oleh sebab itu hasilnya sama saja= stabilitas nomer satu, demokrasi adl omong kosong!
Mentri Penerangan biasanya ada dinegara totaliter, absolut, tidak demokratis. Jabatan ini dipakai untuk melibas berita apapun yg berbeda dari versi resmi pemerintah, termasuk menyuarakan suara pemerintah.
Sekalipun banyak output dari Departemen Penerangan yg terdengar tolol, toh mereka tetap melakukan itu karena memang mereka digaji untuk "bersuara tolol" atau asbun, hahaha. Badut politik, suka ngawur ngomongnya. Hari hari omong kosong setiap saat. Monyet saja tertawa denger ini. Salah satu contoh konkret betapa dinegeri itu pemerintahnya sangat mengontrol persnya, dengan melihat bagaimana terjadi demo hebat melibatkan ribuan orang, dan besoknya TAK ADA SATUPUN BERITA tentang demo itu di TV atau media cetak lokal. Semua dipaksa tutup mulut dengan ancaman: memberontak, membuat gerakan subversi, ancaman penjara, dan gebukan tongkat polisi. Sebuah kenyataan dimanapun dalam sejarah, jika pers tidak jujur disatu negara, maka ada yg tidak beres disana. Itu sebuah kesahihan, fakta yg tak terbantahkan.
Kawan kawan di Al Jazeera, kalian pindah saja ke Jakarta. Disini suara pers masih lebih demokratis 200% dibanding disana. Station base seharusnya ada dinegara yg kondusif tapi mudah masuk kesana . Cobalah mencontoh Thailand ketika era perang saudara di Vietnam, dimana semua perwakilan pers asing based di bangkok.
Al Jazeera diminta tidak kelirukan masyarakat antarabangsa
12-11-2007 04:42:28 PM
KUALA LUMPUR: Stesen televisyen satelit antarabangsa, Al Jazeera, diminta tidak mengelirukan masyarakat antarabangsa dengan laporan berat sebelah mengenai perhimpunan haram di ibu negara pada Sabtu lepas.
Menteri Penerangan Datuk Seri Zainuddin Maidin berkata agensi berita itu telah membuat laporan seolah-olah keganasan dilakukan oleh polis untuk menyuraikan perhimpunan itu sedangkan mereka disuraikan menggunakan semburan air dan gas pemedih mata.
"Al Jazeera telahpun mempunyai 'preconceived mind' (tanggapan) dan tertipu dengan dakwaan kononnya 100,000 orang akan menyertai perhimpunan tersebut," katanya pada sidang akhbar di pejabatnya di Angkasapuri hari ini.
Zainuddin berkata pertanyaan pengacara Al Jazeera kepada beliau berhubung perhimpunan itu menggambarkan kononnya pihak polis bertindak keras sedangkan polis hanya menggunakan tindakan yang minimum.
Malah, katanya, Suruhanjaya Hak Asasi Manusia (Suhakam) telah menyatakan polis mengawal perhimpunan haram itu mengikut peraturan dan tidak menggunakan sebarang senjata dan kekerasan.
Zainuddin berkata pihaknya akan menghantar surat teguran rasmi kepada Al Jazeera berhubung isu itu.
Beliau berkata Al Jazeera tidak sewajarnya berkonspirasi dengan pihak pembangkang dengan melaporkan sumber daripada penulis blog sebagai wartawan kerana penulis itu sebenarnya penyokong DAP.
"Mereka sepatutnya mendapat pandangan yang tepat tentang Malaysia bagi mengelakkan mereka mempunyai persepsi yang salah," katanya.
Zainuddin berkata agensi itu sewajarnya memainkan peranan untuk merapatkan hubungan antara Malaysia dan dunia bebas dengan memberi gambaran sebenar tentang Malaysia, bukannya menimbulkan perasaan buruk antara Malaysia dengan negara barat atau sebaliknya.
"Al Jazeera seharusnya tidak mengguna pakai demokrasi CNN dalam membuat laporan tetapi menggunakan etika BBC supaya mereka tidak dilihat sebagai mempromosikan Amerikanisme kerana Malaysia belajar lebih lama mengenai demokrasi dari British," katanya.
Beliau berkata Al Jazeera juga sepatutnya berterima kasih kepada kerajaan Malaysia yang memberi tempat kepadanya untuk beroperasi di sini. BERNAMA
Tindakan tegas buat pihak peralat kanak-kanak di perhimpunan haram 12-11-2007 05:11:19 PM
KUALA LUMPUR: Polis akan bertindak tegas terhadap pihak yang memperalatkan kanak-kanak, yang menjadikan mereka sebagai benteng dalam perhimpunan haram, kata Ketua Polis Negara Tan Sri Musa Hassan.
Beliau berkata ia merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan tidak waras diperlakukan dalam sebarang perhimpunan, di samping melanggar Akta Kanak-kanak 2001.
"Tindakan tegas terhadap mana-mana pihak akan diambil di bawah akta tersebut (bagi kesalahan itu)," katanya kepada pemberita ketika ditemui selepas majlis serah terima tugas Timbalan Ketua Polis Negara di Bukit Aman di sini, hari ini.
Beliau berkata demikian semasa menjawab soalan pemberita berhubung perhimpunan haram di ibu negara Sabtu lepas yang dipercayai menggunakan kanak-kanak sebagai benteng atau perisai bagi menghalang polis.
Musa berkata siasatan akan dijalankan terhadap penganjur perhimpunan haram itu dan tindakan yang tegas akan diambil.
"Kita akan siasat mereka yang menjadi dalang perhimpunan itu. Tindakan tegas akan diambil terhadap mereka kerana menimbulkan kekecohan. Kita (polis) sudah beri nasihat jangan libatkan diri dalam perhimpunan haram itu kerana ia menyebabkan ketidakselesaan kepada masyarakat. Kita sudah suruh mereka bersurai tetapi ada di kalangan mereka yang mencabar kita," katanya.
Ditanya mengenai uraura kononnya perhimpunan seumpama itu akan diadakan dalam tempoh tiga minggu lagi di tempat yang sama, Musa berkata polis bersiap sedia menghadapinya.
Sabtu lepas polis berjaya mengawal keadaan dalam perhimpunan haram yang diadakan di beberapa kawasan yang berpusat di Dataran Merdeka, dengan menempatkan seramai 4,000 anggota. BERNAMA
Malaysia diguncang demo terbesar dalam sejarah mereka. Rupaya, keberanian rakyat disana mulai mencuat setelah puluhan tahun jengkel melihat politik kotor pemerintahnya menjalankan negeri itu. Korup, tidak demokratis, asal tangkap tanpa proses peradilan, pelanggaran hak asazi, nepotisme, pemilu curang, dan politik uang merajalela disana. Tampaknya, ini tidak akan berhenti disini saja dikemudian hari.
Sikap pemerintah indonesia seharusnya membantu secara diam diam kepada pelarian politik dari negeri seberang apabila nantinya terjadi penangkapan besar besaran dan terjadi gelombang pelarian belasan tokoh tokoh prodemokrasi di Malaysia. Ini bentuk tanggung jawab kita, komponen rakyat dan juga pemerintah disini sebagai "saudara tertua" di ASEAN untuk menuntaskan beberapa masalah pelik selama 30 tahun hidup berdampingan dengan tetangga kita bernama Malaysia (yg diperintah UMNO) agar terjadi perubahan disana yg tentunya akan menguntungkan kita pula secara sosio politis dari semua aspek bernegara.
Semangat ASEAN seharusnya membantu juga iklim perubahan yg sehat dinegara tetangga, bukan cuma saling kirim delegasi "titian muhibah" seperti dimasa lalu. Siti Nurhaliza bukan satu satunya cermin hubungan harmonis dg Malaysia sesungguhnya, kita punya masalah pelik lainnya menyangkut batas wilayah, sikap tdk pantas pihak seberang kepada orang kita, perbuatan tdk menyenangkan mereka selama ini, dan pembangunan perekonomian nasional kita juga. Mungkin ini saatnya kita bertindak berbeda dg apa yg pernah kita lakukan dimasa lalu, toh perubahan Malaysia bukan cuma kepentingan kita, tapi juga beberapa negara lain spt Thailand, Singapore, dan Filipina, atau negara ASEAN lainnya.
Gendang gendut tali kecapi Kenyang Perut senang hati Gendang Gendut Tali Rafia UMNO kaya, hidup leka Gendang gendut tali lembu Sudah kaya, tidur saja yang tahu
Puluhan Ribu Pengunjukrasa di Malaysia Tuntut Pemilu Bersih
Kuala Lumpur (ANTARA News)- Puluhan ribu orang berkumpul di luar istana raja Malaysia, tanpa mengindahkan larangan pemerintah terhadap unjukrasa guna menyerukan pemilu yang bersih dan jujur.
Para pengunjukrasa yang tergabung dalam aliansi partai oposisi dan kelompok masyarakat sipil bergerak ke istana dengan meneriakkan yel-yel "Reformasi Pemilihan" dan "Keadilan".
PM Abdullah Ahmad Badawi berikrar akan menindak tegas unjukrasa mendukung polisi yang mengatakan mereka kuatir akan terjadi kerusuhan.
Tetapi unjukrasa itu tetap digelar sekalipun ada usaha-usaha untuk menutup pusat kota Kuala Lumpur, dengan kehadiran polisi yang banyak dan penghadang-penghadang jalan yang menyebabkan arus lalu lintas macet.
"Ada sekitar 30.000 pemrotes di sini saat ini. Kami mengizinkan mereka duduk di depan istana dan empat wakil menyampaikan satu petisi" kepada para wakil istana, kata seorang perwira senior polisi kepada AFP.
Unjukrasa itu dipimpin para pemimpin oposisi, termasuk mantan Deputi PM Anwar Ibrahim.
Sekitar 400 polisi dikerahkan ke istana, termasuk puluhan personel yang membawa senjata otomatis dan beberapa orang membawa peluncur gas air mata. Dua meriam air ditempatkan di belakang garis polisi.
"Publik Malaysia harus diizinkan menyatakan pendapat dan pandangan mereka," kata pemimpin oposisi parlemen Lim Kit Siang di pintu istana sebelum menyerahkan petisi itu.
"Adalah tidak adil bagi pemerintah untuk tidak memberikan izin bagi dilakukan rapat ini karena ini hanyalah untuk mengutarakan suara rakyat di sini," katanya.
Para penyelanggara berencana untuk melakukan rapat di Taman Kemerdekaan kota itu tetapi terpaksa pindah setelah polisi menutup lokasi tersebut.
Kelompok hak asasi manusia yang berpusat di New York Human Rights Watch menyalahkan sikap pemerintah terhadap unjukrasa massa itu dan mendesak pemerintah mendukung kebebasan berbicara sementara negara itu akan menghadapi pemilu yang menurut rencana diselenggarakan awal tahun depan.
Protes-protes jarang etrjadi di Malaysia dan unjukrasa terbesar terakhir terjadi tahun 1998 selama "Reformasi" atau gerakan "Pembaruan" yang terjadi setelah pemecatan Anwar. Polisi menindak unjukrasa-unjukrasa itu dengan meriam-meriam air dan penangkapan massa. (*)
Masih soal heboh orisinalitas antara Terang Bulan = Mamula Moon = Negaraku. Jika kalian termasuk generasi lahir 70an dan tidak tahu spt apa itu lagu terang bulan, mungkin mendengar ini akan memberikan gambaran kekita, spt apa lagu itu sebenarnya, sebuah lagu yg melow, moody, hoplesly romantic, bukan beat heroik yg cocok buat lagu sebuah negara.
Sejak terang bulan diklaim oleh Malingsia, pemerintah kita melarang rakyat kami menyanyikan lagu ini. Lucunya lirik Terang Bulan memberi pesan: lelaki itu mirip buaya, jangan percaya mulut lelaki. Hehehehe. Cerita ttg nasehat buat kaum perempuan agar jangan percaya mulut buaya.
Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta.
Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN.
Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala LumpurMalaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi). Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira.
Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower.
Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?
Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel.
Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian...
Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja...
Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed.
Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok?
Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam.
Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon run, just shoot them... katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu". Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.
Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines. Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).
Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini. Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan.
Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.
Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama.
Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih.
Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal.
Seorang ketua dewan wasit karateka, anggota delegasi resmi Indonesia, dipukul oleh 4 orang oknum anggota polisi Malaysia berpakaian preman. Alasannya? Tidak ada alasan jelashingga kini.
Minggu lalu berlangsung kejuaraan karate di Malaysia. Indonesia diundang untuk ikut hadir diperhelatan olahraga akbar tsb. Mendapat undangan, maka dikirim delegasi resmi kesana. Salah satu ketua dewan wasit di Delegasi Indonesia adalah Donald Pieter Luther. Satu hari sesusai technical meeting, Donald balik kehotel dan mendadak disergap oleh empat orang Polisi Malaysia langsung dihajar dan ditendang puluhan kali ditempat. Teriakan Donald yg menjelaskan dia adalah wasit dari delegasi Indonesia tidak membuat berehenti hujan pukulan dan tetap dihajar dan ditendang. Polisi itu bahkan memaki maki Donald dengan sebutan kasar.
Kasus ini langsung mencuat dan memicu emosi banyak pihak. Pemerintah Malaysia sendiri melalui mentri luar negerinya tidak mengatakan sepatah katapun permintaan maaf atas nama bangsa dan pemerintah Malaysia karena polisi mereka melakukan penyerangan kepada delegasi resmi Indonesia di event olahraga Akbar tsb.
Tindakan brutal tersebut lebih cocok dipakai oleh penjahat ketimbang dilakukan oleh polisi berseragam dan berpangkat dipundaknya. Tidak ada satupun polisi didunia ini yg diijinkan memakai tindakan main hakim sendiri dan asal pukul dengan mengabaikan proses hukum yang resmi. Keempat oknum anggota Polisi Malaysia seharusnya juga begitu yakni tunduk dan mengikuti hukum resmi, bukan mengeroyok dan menggebuk korbannya lantas ditinggalkan begitu saja setelah selesai dianiaya. Tingkah mereka mirip teroris dan mengerikan, tidak pantas dilakukan oleh manusia yang waras dan punya akal karena terdidik baik.
Presiden SBY sendiri mengomentari dengan muka tidak senang soal sikap Menlu Malaysia yang tidak mau minta maaf di insiden pemukulan brutal ini. Presiden SBY hanya bilang, (seseorg) yg mau meminta maaf adalah cermin kepribadiannya. Betul juga …. mungkin manusianya memang sudah "terlanjur begitu", dan tetap merasa gak perlu mintaa maaf karena mungkin cara cara main hajar itu sah saja dijalankan tanpa proses hukum yang benar. ****