HidÄÿÄt's posts with tag: rasa sedaaap
| Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Kupang NTT |
Pusat lokasi makanan malam hari dikota Kupang, adalah sebuah kampung muslim bernama Kampung Solor. Disini situasinya mirip dengan KYA KYA di Surabaya atau Medan. Sebuah ruas jalan dikota diblokir lalu ditengahnya diisi oleh tenda dan belasan warung kaki lima (gerobak) untuk berjualan makanan. Pengunjung yg lapar bisa memilih sendiri menu apa saja yg dibutuhkan oleh mereka. Dibandingkan dengan Kya Kya, memang disini lebih kecil dan cenderung dipenuhi gerobak biasa. Tapi makanannya lumayan enak dan rasa bumbunya nendang sampai keujung lidah. Top deh. Harganya juga masuk akal dan tidak bikin kantong berantakan. Jika ke Kupang, pergilah kemari mencoba makanan ini. Mereka buka hanya setelah malam tiba.  .

|  | Malam ini makan enak. Alhamdulillah.
Bebek Peking dengan baluran nasi Hainam, dipanggang hingga merah merekah dan disajikan bersama saus bumbu yg rasanya tersisa hingga kecap terakhir diujung lidah. Hmmm..... lemaknya yg padat seketika meleleh akibat panasnya api pemanggang, menyatu bersama bumbu lezatnya ... ck ck ck...
Bebek enak ini didapat disalah satu pojokan "Urban Kitchen" yg ada di di Sensi (Senayan City Super Mall). Mall besar dan baru saja beroperasi ini mempunyai tempat makan yg menyenangkan dan super luas. Sayang mau foto disini direcokin sama Satpam yg jumlahnya dengan pengunjung 1 Satpam mengawasi 5 pengunjung, hehehe ampyyunn banyak juga ya.
Gua pikir sungguh aneh jika di foodcourt dilarang foto pakai cam hape atau pocket . Justru dihari libur gini memang foodcourt didatangi oleh keluarga yg berlibur dan seperti kita tau Mall adalah tujuan liburan keluarga. Semua "orang bodoh" dinegeri ini juga tau itu kan, apalagi jika pinter.
Never mind, begitulah Satpam dimana mana, memang rada o-on dan memang membuat aturan yg terlalu banyak sampe gak masuk akal (kec satpam dikantor gua yg masih cerdas dan bersahabat penuh senyum). Daripada sibuk melarang org berfoto dengan cam hape, mending awasin yg mengutil atau mungkin saja ada yg membawa barang berbahaya didalam mall.
Pulangnya masih memesan satu porsi lagi bebek Peking. Buat dimakan malam nanti dirumah ahhh. Napsu makan sedang berkibar kibar garang kelangit ketujuh, sayang kalo ada bebek Peking seenak ini diabaikan begitu saja. Hehehe.
*** Sori foto bebeknya gak ada, adanya cuma foto mall yg dijaga mirip Mabes Hankam di Cilangkap.

. |
Kopi Timor Timur ini disodorkan oleh Haris ketangan saya yg disambut dengan gembira. Wah, sudah lama tidak pernah bersentuhan dengan apapun yg berbau Timor Timur (sekarang bernama Timor Lorosae). Haris dan Imel, baru saja balik dari liputan seminggu disana untuk membuat program wisata di JELAJAH. Dan oleh olehnya tentu saja sebungkus kopi ini buat saya. Sejak wilayah itu lepas dari Indonesia, memang agak susah mendapatkan kopi dari sana secara regular. Timor Lorosae adalah sepotong kenangan dikepala. Nyaris separuh lebih usia karir wartawan saya dihabiskan jungkir balik diwilayah ini. Saking seringnya dulu kesana, saya malah merasa bahwa Dili adalah kota kampung halaman saya kedua setelah disini. Bahkan, kesana lebih sering ketimbang lebaran kerumah Eyang atau rumah saudara lainnya. Dulu, cuma ada beberapa wartawan saja yg memang sukanya mondar mandir disana, misal Oscar Matuloh dan Hermanus dari Antara, lalu Budi Shambazy dari Kompas, mas Hendro veteran TVRI, dan beberapa kawan dari media asing. Sebuah kolase cerita berwarna yg selalu direkam didalam hati, sekalipun itu merupakan kesialan atau tragis. 
Kopi orisinil Timor Leste mempunyai sejarah panjang disana. Tanaman ini tidak dibudi dayakan dalam sekejap saja. Banyak yg mengatakan bahwa kopi dibawa oleh bangsa Portugis saat menjajah dipulau kecil ini. Lalu ketika Indonesia masuk dikisaran Juni 1976, perkebunan kopi dimekarkan dan dikelola secara skala besar besaran dengan gaya monopoli oleh badan usaha yg dikontrol oleh TNI. Disebut sebut, bahwa Robi “kethek” Sumampow kawan dekat Jend Benny Moerdany, lantas mengelola perkebunan disana secara terorganisir diwilayah sejuk Aermera dan tersebar diantara 12 distrik dan 12 kota disana (seluruh Timor ada 13 distrik). Sejak Timor Leste berpisah dari Indonesia, perkebunan disana secara otomatis diambil alih pengelolaan distribusi marketingnya oleh kapitalis Australia. Ini mirip sebuah cerita berulang dari masa silam memang. Banyak kometar sinis dari kalangan bule yg mengatakan bahwa perkebunan kopi dikangkangi oleh militer kita dimasa silam, taunya begitu mereka masuk, ternyata kelakuannya sama saja mencaplok perkebunan disana. Bisa juga malahan lebih buruk, karena dengan taraf hidup yg naik tajam, nilai mata uang Timor Leste yg merosot jatuh, hasilnya 20 ribu petani kopi terengah engah menjalani hidupnya untuk mengejar dan memenuhi standar ala industri gaya kapitalis yg lebih mementingkan produksi dan uang melulu. Produksi digenjot keras, tahun 2005 tercatat nilai ekspor Timor Leste sebesar $ 1,8 juta, dan sebanyak 90% nya didapat dari kopi. Apa yg kembali kepetani nilainya tidak seberapa, tapi rasa dan aroma kopi asli Timor sudah merajalela disemua oulet Starbuck dan diseruput oleh kalangan berduit dimana mana. No fair trade, petani digencet terus. Tantangan terbesar perkebunan disana adalah meningkatkan produksi duakali lipat per hektare nya, lalu menjaga standar mutu kopi Timor. Tanpa mutu yg terjaga, harga kopi ini akan jadi permainan tengkulak kopi dunia. Ah lupakan “politik perkebunan”. Ditangan sudah ada kopi Timor Leste, saatnya diseduh dan diminum dengan seruputan yg berselera. Citarasa kopi Timor bukan sekedar aroma dan rasa, tapi ada penggalan ingatan akan masa lalu buat saya. Viva Timor Leste! *** hsgautama.multiply.com
NB: Buat Meta Guterez dan kawan kawan lama disana, meus amigos, por o tempo velho, obrigado barak!
Foto peta dari sini. .
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Seafood | | Location: | Ancol |
Resto Bandar Jakarta adalah salah satu tempat makan populer bagi warga Jakarta. Letaknya didalam Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), tepat disamping garis pantai Ancol. Resto ini biasanya penuh dengan pengunjung apalagi jika diakhir pekan. Tumben, ketika sabtu ini kesana suasananya lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena momen lebaran dan libur panjang baru saja usai kemarin.
Waktu yg paling tepat untuk makan disini adalah sore hari mendekati jam 16.00 hingga jam 19.00. Matahari jam itu telah teduh, angin sepoi sepoi dari laut akan menambah kenikmatan tersendiri makan diwilayah marina Ancol. Posisi terbaik dan selalu full booked adalah deretan meja yg letaknya tepat ditepian laut. Dari deretan meja ini, sambil makan kita bisa menikmati pemandangan senja yg oke. Seafood yg enak, teman ngobrol yg meriah, dan alam yg ramah, rasanya memang pas.
Bandar Jakarta, sebuah resto yg bagus untuk dikunjungi buat mengisi waktu weekend dikota ini :-))
Nilai plus: Dikota besar, ditepi pantai yg bersih dan tdk berbau. Pelayanannya cepat Menu komplit. View di garis pantainya oke jugalah.
Minus: Harganya agak mahal dibanding resto seafood lainnya. Menu 2 org bisa habis 150ribu (silahkan itung sendiri jika 8 org makan disana). Ada lalat berterbangan, rada gak tenang makannya (gak ada lampu khusus perangkap lalat disana).
. 
Jika kalian tertarikcoba coba untuk menjadi ahli teh, atau paling engga, pengen lebih oke melakukan apresiasi minum teh, ada baiknya menengok web ini.
Isinya memang ttg 1001 teh yang ada didunia ini.
 .
Malam ini akhirnya menjajal seduhan teh Darjeling. Ketika beberapa hari silam sempat melihat salah satu web blog warga MP disini yg mengunjungi tea addict, entah kenapa langsung kepengen menyeruput teh Darjeling. Baunya harum tipis saja, beda dg teh umum asli indonesia. Tapi rasa kesetnya benar benar luarbiasa dimulut turun hingga kerongkongan. Air yg dipakai buat menyeduh harus benar benar panas, ada baiknya jangan air termos. Lalu tuangkan didalam gelas, dan masukan daun teh Darjeling kedalamnya. Sajikan tanpa gula supaya rasa teh Darjeling ini benar benar terasa dilidah. Rasanya kuat, dan melegakan syaraf otak. Jika diantara kalian ada yg suka minum teh, coba rasakan meminum teh Darjeling. Inilah salah satu tumbuhan teh yg ada diujung dataran tinggi didunia dg lingkungan tipis oksigen. Meminum ini seperti membuka satu buku baru tentang dunia icip icip untuk “mengecap rasa yg beda” dari teh umumnya.
Gak rugi deh. Teh termahal didunia, al: 1) Drum Mountain White Cloud ($60/lb.) 2) Yinzhen Silver ($120/lb.) 3) Green Tea Anemone from ($100/lb.) 4) Sencha from In Pursuit of Tea ($100/lb.) 5) Autumn Green ($80/lb.) 6) Pu-erh Tuocha (approximately $50/lb.)
Daftar kopi termahal didunia, al: 1. Kopi Luwak Indonesia $160 / pound 2. Hacienda La Esmeralda Boquete, Panama $104 / pound 3. Island of St. Helena Coffee Company St. Helena, Africa $79 / pound 4. El Injerto Guatemala $50 / pound 5. Fazenda Santa Ines Brazil $50 / pound 6. Blue Mountain Jamaica $49 / a pound 7. Los Planes El Salvador $40 / pound 8. Kona coffee Hawaii $34 9. Starbucks Rwanda Blue Bourbon Rwanda $24 10. Yauco Selecto AA Puerto Rico $11 Link: http://www.inpursuitoftea.com/Drum_Mountain_White_Cloud_p/wc010.htm http://www.bornrich.org/entry/wanna-sip-the-worlds-most-expensive-coffees/ HSG .
Dipojok sana, Daeng Anas asik mengaduk kopi diatas tungku membara. Disebuah bilik kecil yg penuh dengan tulisan iklan rokok, dia sibuk mengaduk rebusan cairan kopi super panas dari beberapa teko. Pria paruh baya ini adalah pemilik warung kopi disatu sudut Panakukang, namanya sama spt nama dia: "Warkop Dg.Anas". Apa yg membuat warkop ini istimewa? Kata beberapa teman, disini terasa nikmat karena 3 hal penting, yakni: bahan kopi yg ditaruh disana, cara merebusnya, dan cara mengaduknya. Kenikmatan kopi disini, katanya nonjok abis. Bukan cuma soal nikmat, tapi disini harganya juga merakyat. Klop kan.
Seorang teman menambahkan, hampir semua warkop sukses di Makasar yang dimiliki oleh warga asli bugis dan Makasar, mereka rata rata adalah jebolan dari "Warkop Doktor". Dulunya mereka adalah juru racik-seduh di Warkop Doktor, lantas setelah mentas alias resign, mereka membuat warkop swadaya dg ilmu yg didapat selama berguru di Warkop Doktor. Hmmm.. menarik juga cerita itu. Ternyata, diusut kebelakang, diyakini jika semua "jago peracik" bersumber dari sebuah tempat yg sama. Jika kita berpikir ini seperti memelihara ikan Koi, ini bisa disebut bahwa "strain" nya sama. Karena jebolan dari "satu perguruan silat" yg sama, dus dipastikan bahan baku dan rasanya hampir mirip. Bahwa kemudian warkop para alumnus itu laris manis, maka ini bukti absah atas selera komunal warga setempat bahwa mereka mmg menyukai seduhan kopi dengan taste semacam itu. Sayang pembicaraan ttg Warkop Doktor ini terputus karena teman tsb harus bergegas pergi. Saya sebetulnya masih penasaran dengan asal muasal nama "Doktor" tsb. Selintas ada yg bilang disana disebut "doktor" karena seduhan kopinya begitu istimewa. Disitulah "Doktornya Kopi" di Makasar bercokol dimarkasnya. Fanatik kopi pasti akan datang dimana pembuat kopi terbaik berada. Wuih wuih, mirip cerita perguruan silat saja. Hehehe.
Diluar "garis keturunan warkop doktor", masih ada warkop tandingan lain yg dimiliki oleh non Bugis Makasar, yakni kelompok warkop Phoenam yg lahir dari warga keturunan tionghwa. Mereka secara bisnis jelas lebih modern. Brand ini sengaja dibuat dalam bentuk franchise dan menyebar dibeberapa wilayah di Makasar sendiri atau dikota lain. Phoenam mengisi kelas sosial menengah untuk peminat kopi sejati dengan menjanjikan rasa standar yang lezat. Phoenam sukses, terbukti sejak 1946 ia tetap bisa bertahan ditengah serbuan minuman kaleng lokal dan import. Sayang, mereka tersebar tapi eksklusif, "ilmunya" hanya berputar dikalangan mereka sendiri. Jebolan dari mereka belum terdengar sukses meneruskan tradisi seperti alumnus warkop doktor.
Uniknya, konsumen warkop doktor dan phoenam tetap mempunyai satu wilayah tegas terpisah. Ini seperti punya "dua kartu AS" bahwa jika ngopi di Phoenam maka akan mendapat "ini". Dan jika ngopi di Warkop Doktor akan memperoleh rasa "itu". Keduanya jelas beda dalam banyak hal, walaupun sama sama menyeruput kopi. Hanya satu yg sama, yakni keduanya tumbuh dalam tradisi panjang kopi Toraja di Sulsel. Okelah secara gampangnya kita sebut saja, bahwa Makasar banyak tersebar warkop. Apa bedanya, toh ngopi juga di warkop kan? Teman langsung menyergahnya. Katanya, anggapan itu salah. Warkop satu dengan lainnya beda, dan itu membuat rasa kopinya juga beda. Dia mengatakan itu sambil melewati "Kopi Zone", salah satu kedai kopi di Panakukang. Kata dia, "Kopi Zone" bukan tumbuh dalam tradisi kopi Sulsel, atau pantasnya disebut sebagai pendatang yg membuat warkop. Karena itu rasanya beda dengan selera warkop yg sudah sejak lama eksis disini. Warkop Doktor, Phoenam, Warkop Dg Anas adalah salah satu bentuk konkret citarasa asli sulsel, sedangkan ada juga kelompok lain yang membuat kedai kopi tapi rasanya tetap "bukan rasa sulsel".
Hahaha... menarik juga. Mirip DVD bajakan, biarpun gambarnya bagus juga toh itu tetap "bajakan". Namun kopi tetaplah kopi. Hidangan enak dan nikmat untuk diseruput. Ini bukan matematika kompleks. Kita bicara tentang rasa dan kenikmatan menyeruput itu dilidah. Siapapun yg jual, tak ada salahnya dicoba. Toh masing masing manusia punya lidah beda. Dan tidak ada salahnya mencicipi "rasa sulsel", atau "bukan sulsel" dilain kesempatan.
Satu hal yang tidak didebatkan oleh siapapun: disini di Sulsel, menyeruput kopi adalah sebuah kebiasaan sehari hari.*** Warkop Anas : S5 08.957 E119 26.240Warkop Phoenam (lokasi pertama): S5 07.909 E119 24.466Warkop Phoenam Panakukang: S5 09.337 E119 26.429hidayatsg.multiply.com
 Salah satu hal yg menarik ditemui di Makasar adalah banyaknya kedai kopi atau warkop. Kota ini menjelma menjadi surga buat "maniak kopi" ditanah air, khususnya buat yg ingin menjajal selera kopi Toraja murni tanpa campuran bahan lain. Makasar akan menjelma menjadi "kota warkop" kedua terbesar setelah Aceh yang memang disebut sebagai "propinsi sejuta kedai kopi". Bicara kopi, maka kita harus segera melirik salah satu pionir warkop disini yg terkenal disebut dengan nama " Phoenam". Didirikan tahun 1946 oleh salah satu warga keturunan, Phoe Nam atau Phoenam memang hanya mengkhususkan menjual kopi. Phoenam sendiri artinya "terminal" atau "tempat singgah". Nama yg unik, dan brand ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Secara geografis, Makasar bertetangga dg Toraja sebagai penghasil kopi torabika dengan rasa khas (Toraja adalah gudang kopi terbesar di wilayah timur Indonesia). Kopi Toraja adalah "kopi toraja", dia beda rasa dengan kopi dari wilayah lain didunia ini. Mutu kandungan tanah (soil) dipegunungan Sulsel inilah yg membuat dia punya citarasa berbeda. Cobalah mencicip sedikit diujung lidah, maka seketika "tendangan rasa kopi toraja" akan terasa kuat. Buat saya, kopi Toraja punya efek kuat diperut. Entah krn perut saya sedang lemah, yg jelas mencicipi kopi toraja bisa bikin sedikit mulas. Saya pikir, ini beda dengan kopi Aceh yg kuat tapi tidak membuat perut jadi mulas.  Disini, Phoenam, adl salah satu tempat berkumpulnya wartawan lokal Makasar. Phoenam di Panakukang, merupakan "kantor cabang" semua perwakilan media lokal dan nasional. Menjelang jeda tengah hari, mereka akan kemari untuk mampir dan ngobrol. Selain Phoenam, mereka juga punya tempat nongkrong lainnya di warkop Daeng Anas. Lokasinya tdk berjauhan satu dengan lainnya. Sehabis liputan, mereka mengedit naskah dan gambar sembari ngobrol dengan sesama teman liputan. hsgautama.multiply.com
| |