HidÄÿÄt's posts with tag: sejarah
| Start: | Mar 29, '08 3:30p | | Location: | TRANSTV | Dijamin, footage visualnya bagus. Layak tonton bagi siapapun yg tertarik dengan sejarah, melihat Bandung dimasa indahnya dan ketika dimasa perang revolusi. Sebuah pembelajaran bagus secara film documentry, sosio historis, dan semangat berkebangsaan.
--- In news-transtv Ria Ernunsari wrote: Mengapa warga Bandung rela kotanya dibakar? Siapa yang punya ide membakar? Apa dampaknya terhadap diplomasi RI?
Siapa pengarang lagu Halo-Halo Bandung?
Saksikan dalam "Kami Rela Bandoeng Mendjadi Laoetan Api"
di TransTV tanggal 29 Maret 2008 pukul 15.30 WIB
ria
.

|  | Koleksi foto head badge atau logo yg menempel disepeda. Head badge adalah cerminan dari sebuah brand sepeda yg mengusung filosofi dan sejarah sepeda itu sendiri. Dalam fungsinya, logo juga memberikan kenyamanan psikologis, kepercayaan akan brand, dan kadang meleset menjadi sebuah image gengsi dalam pergaulan. Terserah mau memakai yg mana, toh hal semacam ini saling campur aduk dan tumpang tindih dikalangan bikers dimanapun.
Foto shot puluhan head badge ini merupakan folder pelengkap sebagai database pribadi ttg desain logo brand sepeda. Isinya akan bertambah dikemudian hari jika memang masih ada napas untuk meneruskan isinya. Semua head badge ini difoto dari sepeda yg ada ditanah air, artinya ada yg mempunyai brand tersebut sebagai sepeda pribadinya.

. |
Link: http://www.oldroads.com/links.htmlSepeda jadoel, sepeda tua, dan beberapa didesain dengan bentruk yg aneh. Situs ini tersedia beberapa link yg bisa dilihat oleh pengunjung. Sayang, beberapa link nya merupakan campuran sepeda motor, bukan hanya untuk sepeda onthel.  Foto dari 1915 Hendee, Indian.
Negeri ini memang bukan "Republik Halal Bihalal" Tidak baik kesalahan pidana dan perdata dilupakan begitu saja. Siapapun yg bersalah harus membayar kesalahannya dengan setimpal.
------------------------------ Tulisan didapatkan dari email Satrio AM Soekarno VS Soeharto - WS Rendra
Soekarno - Sejarah yang tak memihak Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno. Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal ) Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata , " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO " Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie. Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya. Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir. Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban". "Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 ) dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 ) Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad " ( Kompas 13 Januari 2008 ) Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif. Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata ( * WS Rendra ) 
Link: http://www.flickr.com/groups/bicycleheadbadges/pool/Koleksinya banyak.
Semua foto ttg bentuk dan logo sepeda yg ada didunia ini ada didalamnya, merk populer yg merajai pasaran dan telah dipakai oleh ratusan ribu konsumen. Layak dilihat, dan mungkin satu saat ada org kita sendiri yg juga dengan telaten akan mengumpulkan foto foto logo sepeda lantas membuat database secara online. BTW.... bagaimana nasib sepeda generik, apakah termasuk yg wajib dikumpulkan foto logonya ???
Foto: http://www.flickr.com/photos/75395133@N00/1288989288/in/pool-bicycleheadbadges/
. 
Link: http://en.wikipedia.org/wiki/Head_badgeIseng membongkar riset ttg logo sepeda, akhirnya nemu ini. Sebetulnya masih banyak lagi, karena produsen sepeda pabrikan dan home industry begitu banyaaaaaknya bertebaran di Eropa, Amerika, dan Asia.
Link lain: http://en.wikipedia.org/wiki/Schwinn

"Setiap pesepeda dan pemancing harus berterimakasih dengan manusia satu ini"
Dia adalah Keizo Shimano. Pencipta dan penemu produk berlabel SHIMANO. Produk SHIMANO dikenal baik oleh pesepeda dan pemancing diseluruh dunia. Shimano adalah sebuah merk yang membuat "hobi" ini menjadi semakin menyenangkan untuk ditekuni oleh jutaan penggemarnya. Ciri khas dari produk ini adalah presisi dan kehalusan. Para fanatik merk ini sekali mencoba Shimano akan enggan berpaling ke merk lainnya.
Sumber dari MTNBIKE HALL of FAME
Induction Year: 2000 Every shift, each pedal stroke, every dusty smiling face at the run out of a descent on a mountain bike is a tribute to Keizo Shimano. A man whose brilliance questioned the status quo at every step. He studied ceaselessly, motivated his colleagues, and listened to the world’s greatest riders, all the while pioneering the development of the bicycle component technology so widely used today. Growing up in Japan as the middle child of a large family, it is easy to see where Keizo derived such a strong competitive desire, always challenging what others said could not be achieved. He was talented athletically as well. Just one step away from a professional baseball career before his father convinced him to go to school and then work in the family business. With a degree in mechanical engineering earned in 1955 he set out to develop the world’s finest bicycle components for Shimano Industrial Company, his father’s legacy. Keizo worked diligently and was named Executive Vice President beginning in 1970. Through the following decade he oversaw the development of new road components eventually leading to the creation of Dura-Ace. In order to test these new components, Keizo formed the Shimano Cycle Racing team as his very own Skunk Development Team. Keizo believed in the input of racers, not because of their star status, but because of their athletic abilities, personal determination and frank input. His years as a high level athlete himself served him well here. As the 1980’s dawned, Keizo received word from the United States office, headed by his younger brother Yoshizo, that a new trend called mountain biking was going to require a different direction in component design. Many traditionalists scoffed at the notion of this new category but Keizo’s vision told otherwise. The creation of the Deore series began a period of unparalleled development for mountain bike componentry. He worked closely with engineers and great riders like Tom Ritchey and Gary Fisher. He led them into the great unknown, always at the front, always confident. He roamed the building asking questions rather than reading reports, motivating in a way so few leaders can. He would not accept no as an answer, he couldn’t. He had placed the future of Shimano in the hands of mountain bikers. He knew his people and his company had a yes in them. His drive was to help them prove what they had set out to do. From this period came the first full system mountain bike component group, Shimano Deore XT, in 1982. In rapid succession came developments like SIS, (Shimano Index System), Hyperglide, STI shifters, (Shimano Total Integration), and SPD, (Shimano Pedaling Dynamics), all under his direction and guidance. Racers like Joe Murray helped refine systems even further. Keizo and Joe helped Shimano bring index shifting to the off road cycling world with Deore XT in 1986. His commitment to his craft is best expressed through his SPD efforts. From the onset of SPD development, Keizo’s goal was to make cycling shoes that you could truly walk on. He wore the prototypes everywhere to study them and improve them. When the SH-M100 shoe was released in 1990, he wore them to prove their walkability. He even wore them to important meetings with his suit and tie! Shifting gears and playing golf never seemed to have a connection until Keizo put the two together. Golfers always had a certain club for a particular shot or situation. Why then, shouldn't bicycle racers have the same options? By adding more gears to a drivetrain, Shimano could offer riders the ability to specify the proper gear needed at the time. Mountain bikers had the ability to climb the big climbs, hammer the descents, and motor through the flats thanks to the added clubs Keizo had placed in their bag. Athletic performance, personal triumph, and spirited determination should never be limited by the mechanics of the machine. Keizo believed in his work. He rode a bike to work every day and then home again. His desk was home to every type of bike imaginable. When he chose to test a certain component, he was ready in a flash. Co-workers remember riding alongside him during the commuter hours never knowing what could appear under him next. If it was happening on a bike, he knew about it firsthand. Certainly no one will be inducted into the Mountain Bike Hall of Fame from this day forward who has not had an experience with Keizo’s work. An industry, a machine, and an experience have all benefited from his genius. It is a genius so well suited to a mountain biking and the Hall of Fame. Gregarious, competitive, and adventuresome, driven with a lance tilted at the limits of the establishment. Who else would want to crash a car to see if, and how, the airbag would work than a mountain bike spirit? Keizo traveled to Italy when Andy Hampsten won the Giro d'Italia on Shimano components. One can only imagine his pride for mountain bike racers victorious on today's global stage. Bio submitted by Chris Distifano
.
Women and Diving By Kayling Friday, 24. March 2006, 16:46:29 When scuba diving first became popular there were very few women divers (Jacques Cousteau's wife Simone was probably the very first in the 1940's). Now, about about one-third of newly-certified divers are women. We are diving the world and lovin' it! There's no other sport that can offer us more in terms of beauty, exercise, and companionship than scuba. Cheryl Lurie, Contributor Women make up about 40% of new divers today – and have been diving for over 40 of scuba’s 50 years. So why can’t we find equipment that fits?! Scuba diving faces an explosion of popularity as a recreational sport for the whole family. But the industry still has a few kinks to work out. To understand its evolution from the primordial soup of machismo and danger to the current family recreation – let’s look at some “history.” Many of you are familiar with women dive pioneers like Dottie Frazier, Evelyn Dudas, and Eugenie Clark. These hale-and-hearty women survived the rigors of demanding physical training, uncomfortable and ill-fitting equipment, and less-than supportive instructors. They took the plunge – literally, so we could swim in their wake and enjoy what is called “recreational” diving. BARBARA ALLEN One of the first women instructors in the US – taught in Hawaii. Also backpacked throughout the Pacific Islands back in 1950. MARJORIE BANKS Underwater filmmaker, conservationist, and photographer for a National Aquarium beluga whale expedition, as well as a six-gill shark photographer. Also filmed great white sharks at depths of 3,000 feet for the Audubon Society. EUGENIE CLARK Also known as “The Shark Lady,” famous for TV specials, film, and submersible dives down to 12,000 feet. Founded the Mote Marine Laboratory and helped turn the Red Sea into a national park. Currently teaches at the University of Maryland Zoology Department. EVELYN DUDAS Pioneer wreck diver, the first woman to dive the Andrea Doria at 240 feet, just off the coast of Long Island. Currently owns and operates a Pennsylvania dive centre. (Publisher's Note 3/18/99: This article incorrectly stated that Evelyn Dudas' husband was killed while diving the Andrea Doria. J Scuba sincerely apologizes for this error.) SYLVIA EARLE Set the record for solo diving in a submersible – 3,280 feet in 1985. Marine scientist and author. Lead the Tektite Project underwater habitat with the first team of women aquanauts in 1970. Previously served as Chief Scientist of NOAA, National Oceanographic and Atmospheric Administration. Currently chair of Deep Ocean Exploration and Research. DOTTIE FRAZIER Became the first woman diving instructor in 1955. Was an avid freediver in the late 1920s as a young woman. Bought the Penguin dive shop and manufactured wet suits. Currently lectures on marine life and still free dives. JULIE JORDAN Since 1988, she has been captain of the Aggressor Fleet live-aboard dive boats in the Cayman and Turks and Caicos Islands. CONSTANCE MUELLER Began diving in the 1940s before the invention of scuba gear, using “hard-hat gear.” Exposed the world to diving through lectures using underwater 16mm film she and her husband shot. ZALE PARRY NEUMAN Most famous as an underwater actress and stuntwoman who played the “damsel in distress” in the Sea Hunt series with Lloyd Bridges. Set the world depth record for women using scuba at 307 feet. Graced the cover of Sports Illustrated in 1955. NORINE ROUSE The first woman scuba instructor at the Underwater Explorers Society (UNEXSO) Bahamas. Also know as “The Turtle Lady” for studying turtles. Founded Scuba Club of the Palm Beaches in 1971. ANDREA ZAFERES Foremost rescue instructor for Lifeguard Systems, Inc. Previously developed and studied mollusk habitats at New York’s Museum of Natural History where she used her talents as a comparative psychologist specializing in animal behavior. Only two decades ago, women comprised less than ten percent of all scuba students. Today, over 40% of newly certified divers are women – that’s about 134,000 by the Professional Association of Diving Instructors (PADI) numbers. Why the sudden tidal wave? “Women are more athletic now, have disposable income, and are interested in adventure in exotic locations,” says Jennifer King, President of the Women’s Scuba Association. Contributing to the popularity of diving for women is society’s acceptance of females participating in sports, better equipment, increased interest in environment conservation, and more approachable training techniques. This surge of women divers has raised many new issues in a previously male-dominated sport: equipment needs, health concerns, and training methods – what I like to call “gear, sneer, and fear” issues. GEAR Though manufacturers recognized the growing population of women divers in the early 1980s, the equipment was either cost prohibitive (i.e. custom cut wetsuits), or followed the “SAP principle” meaning “small and pink,” coined by the Women’s Scuba Association. Manufacturers just downsized men’s gear and added bright colors. Fed up with the “I’m-pink-therefore-I-dive” principle, WSA delivered the results of a what-women-divers-want survey to manufacturers in 1993 and developed the Women’s Equipment Test Team (WETT) to test gear in production. Many companies used the free evaluation service and surveys of experienced divers to create the comfortable and useable products we have today. Some of the main equipment problems are buoyancy control devices (BCD), wetsuits, and fins. BCs: There are currently three BCs designed for women: Forte’s Sirene, Sea Quest’s Diva, and U.S. Divers’ Elan. These new styles have lycra front panels without restrictive straps, thinner cummerbunds for shorter wastes, and larger arm holes for mobility. Wetsuits: Neoprene wetsuits (¼”), though “downsized” for women, rarely fit the less-than-Baywatch physique. They bag or constrict waist and chest areas or are too short in the legs. One source for “real” women sized suits is US Divers, which uses dress sizes instead of the usual “S, M, L.” Fins: Most manufacturers are still using the “SAP” principle – an example: the pink floppy fins for easy kicking underwater for the “weaker sex.” However, these blades are totally useless in any current. Others are of the “SEAL Team macho black rubber” variety -- labeled as such by the Women’s Equipment Test Team -- which are often difficult to use for a petite woman or one with weaker legs. Some fins now have smaller foot pockets and stiffer blades for maximum power and minimum rubbing. The other necessities are easier to find: masks and snorkels are available in a variety of sizes for adults – no more “making due” with a child’s mask for a smaller face. Snorkels and regulators can be fitted with smaller mouthpieces to eliminate that aching jaw, and soft or padded weights cut down on bruising – for both sexes. SNEER Maybe it’s a harsh word, but women divers have concerns about their physical differences from men – often afraid that they will not be seen as equals to their adventuresome male counterparts. The water chill, menstruation, buoyancy, strength, and pregnancy are a few of the most common issues that physiologists have studied. Chill: A common complaint is feeling cold way before our masculine buddy – we may feel a chill earlier, but women are not at a higher risk of hypothermia than men. Au contraire! While women may have a lower capacity to produce heat than men, O’Neill and Morgan in their book When Women Dive state that women “tend to conserve heat better, and may therefore be less susceptible to hypothermia than men.” Factors that contribute to feeling cold are more likely a result of physical condition, age, and hydration, not gender. Decompression Sickness: Another misconception is that women are more susceptible to DCS than men. This conclusion was the result of two flawed studies conducted a while back (one by the Air Force) that compared unequal physical fitness levels between the sexes. No current research showed the same results. The Divers Alert Network (DAN) supports the notion that there is no “significant difference between men and women ” when it comes to diving impact. Strength: We mermaids may win out in the underwater game – what we lack in sheer strength, we make up in stamina. Not to mention, women usually have better air consumption than men. Now, that’s something to think about when you are in an underwater jam. Menstruation: The big fear is over – just because you have your period does not mean you will be the main attraction on a shark dive. Buoyancy: Those old salty dogs and ancient mariners got a little carried away when christening a garden-variety life vest as a “Mae West.” It was wishful thinking -- large breasts will not keep you afloat or impede neutral buoyancy, nor will implants expand or explode. Good ol’ Mae would have to change her tune as a diver – “Come down and see me sometime…” Pregnancy: This issue has not been studied yet, but the medical community agrees on no diving if you are pregnant, or think you are. Since a fetus does not breath with lungs, it gets oxygen from the mother’s blood supply. If a pregnant woman gets the bends, the bubbles in her blood can become air embolisms in the fetus’ brain. And according to a 1986 symposium on women divers by the American Academy of Underwater Sciences (AAUS), incidents of still births are higher for women commercial divers than that of the general population. FEAR In the men-only days of diving, training was harsh and demanding – often done by ex-military divers with homemade, low-end equipment. Instructors taught by fear and intimidation to “season” students for the difficult and life-threatening conditions that awaited them at the bottom of the sea. Some brave women pioneers jumped in, refusing to be discouraged by the macho, aggressive teaching methods of the time. With advanced equipment, the sport has evolved to a relaxing recreation. Instructors – now both male and female – usually create an atmosphere of support and information, rather than intimidation. Dive Training magazine sites that these new training methods, as well as evolutions in equipment, have made diving more accessible to women – and men Links: http://my.opera.com/s.c.u.b.a./blog/index.dml/tag/Women Other: 1 - 2.
Sore ini (15 Mei), hujan deras turun lumayan panjang. Kota Gede mendadak basah dan dingin akibat hujan panjang sejak jam 15.00 hingga lewat bedug Magribh. Siang tadi kami sudah sampai disini dan segera masuk ke hotel “Sekar Kedathon” yang ada diruas jalan utama Kota Gede. Letaknya bersebelahan dengan salah satu resto keren “Omah Dhuwur” yang harga sepiring nasi gorengnya menyundul hingga 75 rebu perak. Hehehe, gak jelas blas, harga nasgor semahal itu buat apa? Harga nasgor segitu, gimana lagi dengan menu lainnya? Kalo mau bokek silahkan makan disini. Icus pernah makan disini dengan 9 orang teman, tahun silam, dia kena “tabok” dengan tagihan sekitar 800 rebu. Hotel ini cocok banget dengan selera pribadi. Tua dan dijejali oleh barang kuno. Bangunan aslinya milik Pak Tembong alm, salah satu budayawan terpandang dikampung ini. Fisik bangunan masih asli dari 1880, mengalami renovasi disana sini agar cocok dijadikan hotel. Jadi nuansa arsitektur jawa kuno gaya Mataram sangat kental disini. (Hotel ini juga digabung dengan resto yang lumayan terkenal dikalangan turis bule). Ketika dia wafat, rumah ini dijual dan dibeli oleh Anshor Silver (pemilik galeri perak ternama). Kami menempati lantai dua, kamar deluxe seharga 400 rebuan. Kamar luas, penuh ornamen antik, bisa menampung 5 orang saking luasnya. Berkat hubungan baik dengan teman setempat, kami bisa mendapat diskon gede, jadi bayarnya cuma 200 rebu semalam. Yes we are a lucky bastard, hehehe. Depan kamar merupakan koridor memanjang yg luas, ciri rumah Jawa mataram yang ada terasnya. Lantainya mempunyai ornamen tua yang usianya sama dengan usia bangunan ini sendiri. Pokoknya, buat kami berdua yang suka motret, rumah ini seisinya adalah sebuah “arena bermain” yang menyenangkan. Banyak obyek bagus secara visual. Gak tau yaa soal setannya, jangan jangan ntar malam ditongolin sama sosok putih dengan rambut jabrik. Waduh, bahaya bakalan gak bisa merem. Enaknya kesini bawa rombongan satu temen cewe. Kalo malam mereka takut bisa minta pindah kekamar kita. Hehehe, tipuan lamaaa, halah.
Sebelum tiba hari ini di Kota Gede, kemarin dari Klurak Baru saya sendirian aja main sepeda mengelilingi luasnya area sawah di Piyungan. Icus ketemu sama gebetannya di Jogja. Niat bangun pagi pagi kesana pakek naek ojek segala. Ck ck ck… have fun deh, gua mending jalan sama “pacar si silver empuk” ini, pacar yg nurut dinakin kemana aja gak bawel. Ketika muterin area disekitar piyungan, lawan terberat saat itu adalah kencangnya tiupan angin dari depan. Ampun lah, keras dan konstan. Lima kilometer pertama menerobos jalanan kelas dua terus terusan dihajar angin, lama lama keluar rasa mangkel juga. Rese ini angin, gimana mau was wes wos jika begini terus terusan. Akhirnya, ngakalin sikon jelek seperti ini, sepeda langsung dibanting masuk jalan single trek dipinggir aliran irigasi sawah. Hehehe, emang manusia punya akal banyak, dijalan raya angin bertiup bebas, sedangkan jika menerobos perkebunan dan perkampungan angin akan ditahan dengan pohon dan rumah penduduk. Paling engga, beban tahanan angin daridepan berkurang sangat banyak. Soal kerasnya angin, sebetulnya udah dibahas ketika akan kemari dengan Icus. Angin diwilayah ini lumayan keras. Salah satu terget area bersepeda adalah wilayah bukit menoreh dan Borobudur. Disitu, angin juga merupakan lawan berat yang harus dilawan. Selain angin, tentu saja panasnya matahari. Udara disini bersih, bebas polusi, jadi sinar mentari terasa lebih kencang menusuk kulit.
Pagi tadi, sebelum lepas jauh dari wilayah Prambanan, kami membelokan mobil masuk kedesa dimana petilasan kraton Ratu Boko berada. Lokasinya, berada tinggi diatas sebuah bukit raksasa berbatu. Konon, disinilah istana megah Ratu Boko berkuasa jaman puluhan abad silam. Disana dia memerintah kerajaan makmur dan membangun beberapa candi megah, salah satunya dikenal kini dengan nama Prambanan. Lantas kenapa mendadak kota kerajaan Ratu Boko lenyap dari muka bumi? Itu misteri. Ada teori mengatakan bahwa Ratu Boko dan kotanya lenyap ditelan bumi akibat mega letusan Gunung Merapi. Bener atau engga sih mana tau. Tapi begitulah ceritanya, dan main sepeda disini sambil makan mengingat sejarah lama dikraton ini akan memberi warna beda. Malam nanti, kami akan mencari makan gudeg. Mau cari gudeg kering. Lebih enak dibanding gudeg basah. Kata teman, ada warung gudeg yg hanya buka jam 12 malam. Pengen kesana, kayaknya unik. Nanti kalo enak dilaporkan disini deh…hehehe. HSG

|  | Jogja all arround, ngiterin wilayah disini. Trus main kewilayah kompleks candi terbesar di jogja dan Jawa Tengah ini yakni desa Klurak dan diputaran Dukuh Plaosan. Muterin desa yg teduh penuh dengan sawah luas. Nama populer wilayah ini disebut sebagai candi Prambanan, candi Plaosan Lor, Candi Asu, Candi Bubrah, Candi Sewu, dan kompleks besar candi Boko. Masih ada lainnya, banyak, banyak, disini memang gudang candi.
HSG
"Short Visit" adalah cerita ttg perjalanan cuti dari tgl 05-27 Mei 2007. Maaf jika komentar engga sempat dibalas krn kami masih dalam perjalanan dimobil atau terhenti disatu sudut desa. Foto dan blog akan diupdate terus sepanjang perjalanan


. |
 Salah satu hal yg menarik ditemui di Makasar adalah banyaknya kedai kopi atau warkop. Kota ini menjelma menjadi surga buat "maniak kopi" ditanah air, khususnya buat yg ingin menjajal selera kopi Toraja murni tanpa campuran bahan lain. Makasar akan menjelma menjadi "kota warkop" kedua terbesar setelah Aceh yang memang disebut sebagai "propinsi sejuta kedai kopi". Bicara kopi, maka kita harus segera melirik salah satu pionir warkop disini yg terkenal disebut dengan nama " Phoenam". Didirikan tahun 1946 oleh salah satu warga keturunan, Phoe Nam atau Phoenam memang hanya mengkhususkan menjual kopi. Phoenam sendiri artinya "terminal" atau "tempat singgah". Nama yg unik, dan brand ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Secara geografis, Makasar bertetangga dg Toraja sebagai penghasil kopi torabika dengan rasa khas (Toraja adalah gudang kopi terbesar di wilayah timur Indonesia). Kopi Toraja adalah "kopi toraja", dia beda rasa dengan kopi dari wilayah lain didunia ini. Mutu kandungan tanah (soil) dipegunungan Sulsel inilah yg membuat dia punya citarasa berbeda. Cobalah mencicip sedikit diujung lidah, maka seketika "tendangan rasa kopi toraja" akan terasa kuat. Buat saya, kopi Toraja punya efek kuat diperut. Entah krn perut saya sedang lemah, yg jelas mencicipi kopi toraja bisa bikin sedikit mulas. Saya pikir, ini beda dengan kopi Aceh yg kuat tapi tidak membuat perut jadi mulas.  Disini, Phoenam, adl salah satu tempat berkumpulnya wartawan lokal Makasar. Phoenam di Panakukang, merupakan "kantor cabang" semua perwakilan media lokal dan nasional. Menjelang jeda tengah hari, mereka akan kemari untuk mampir dan ngobrol. Selain Phoenam, mereka juga punya tempat nongkrong lainnya di warkop Daeng Anas. Lokasinya tdk berjauhan satu dengan lainnya. Sehabis liputan, mereka mengedit naskah dan gambar sembari ngobrol dengan sesama teman liputan. hsgautama.multiply.com
Kepingan kursi Adam Air, disentuh dengan jari tangan ini. Susah membayangkan bagaimana plastik keras tatakan makanan yg biasanya ada didepan wajah penumpang pesawat terbang jadi kusut seperti kertas begini. Jika saja sentuhan tangan ini bisa merasakan jeritan ketakutan dan kematian pada momen nahas Adam Air, mungkin rasanya akan terasa luarbiasa mengerikan. Dingin, seperti ngerinya kematian didalam kabin pesawat itu ketika lebur dan tenggelam hingga dikedalaman 1000 meter.
HSG
 Kota Solo, Jawa Tengah S7 33.406 E110 49.290 Altitude: 70 m
Solo merupakan kota yang tidak “mahal amat”. Biaya hidup disini relatif murah untuk wisatawan dengan berbagai level, mulai dari turis sandal jepitan sampai pelancong yang wangi semerbak dengan kantong tebal penuh uang. Seminggu disini, dijamin akan bisa berkeliling kota mendatangi titik titik wisata menarik dikota Solo. Semuanya dapat ditengok hanya dengan naik becak. Tidak perlu sewa mobil mahal yang menghabiskan biaya ratusan ribu untuk sewa per harinya (hanya kampung Laweyan yang letaknya agak jauh). Memang, untuk apa naik mobil disini. Bagi yang sumpek dengan hidup perkotaan yang serba menuntut mobilitas tinggi dengan kendaraan bermotor, maka naik becak adalah merupakan kesenangan tersendiri. Beberapa obyek menarik didalam kota al: 1) Pasar Triwindu, barang antik. 2) Pasar Klewer, pusat batik. 3) Pasar akik dan keris digerbang Kasunanan. 4) Mesjid Kasunanan Kauman Solo. 5) Kampung Laweyan , kampung batik dari abad 19. 6) Kraton Kasunanan dan keliling benteng hingga kebelakang. 7) Kraton Mangkunegaran. 8) Musem Radyapustaka. 9) Reksopustoko perpustakaan Mangkunegaran. 10) Taman Budaya. 11) Bengawan Solo. 12) Pasar Gede. 13) Sriwedari. 14) Museum Pers. 15) Stasiun pertama di Solo, JEBRES. *catatan: Solo punya dua kraton karena politik adu domba belanda, yakni: Kraton Kasunanan, dan Kraton Mangkunegaran. 
Pasar Barang antik Triwindu: S7 34.178 E110 49.373 (alt 100m) Pasar ini letaknya disebuah gang sempit yg bersebelahan dengan jalan protokol Slamet Riyadi, dijepit antara jl Diponegoro dan jl Teuku Umar. Naik mobil kemari bisa saja, tapi ada baiknya diparkir diluar. Pasar ini memang terhampar nyempil disebuah gang sempit yg layaknya hanya dilewati sepeda motor saja. Area pasar Triwindu cukup luas, dan menyimpan banyak barang antik asli, atau sekedar "antik antikan". Tampak disini, banyak toples tua yang sudah berusia belasan tahun dan dahulunya dipakai untuk menyimpan kue kering. Ada keramik, alat musik tua, patung, dll. Koleksi lainnya yg melimpah disini tentu saja barang yg punya pengaruh kultur jawa spt keris dan asesorisnya. 
Pasar Batik Tradisional dan Inpres, pasar Klewer: S7 34.531 E110 49.663 (alt 112m) Pasar Klewer tidak bisa dilepaskan dari kota Solo. Dia merupakan salah satu pasar tertua yang ada disana dan merupakan kesatuan “three in one” dalam sejarah kota ini: Kraton kasunanan, Mesjid Kauman, dan Pasar Klewer. Posisinya tepat disebelah kraton Kasunanan. Dibangun atas perintah raja Kasunanan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono II (Raja Keraton Surakarta Hadiningrat 1745-1749) yang waktu itu berpikir perlunya menambah kekuatan ekonomi rakyat, maka dibuatlah pasar Klewer ini. Dalam sejarah Babat Solo yang ditulis RM Sajid dikatakan: “bakul punika jaler estri katingalipun lajeng pating klewer wonten ing pinggir margi, pramila panggenan punika katelah nama Klewer” (Para pedagang itu laki-laki perempuan terlihat seperti berkleweran/ terserak tidak beraturan di pinggir jalan, karena itu tempat tersebut dinamakan Klewer). 
Pasar batu akik dan keris digerbang kraton Kasunan: Pasar ini tempat berkumpulnya penggemar batu cincin dan keris, serta asesoris Jawa, termasuk didalamnya item mistik untuk upacara kejawen. Barangnya beragam dan cukup banyak. Lokasinya tepat digerbang masuk alun alun Kraton Kasunanan, tepat bersebelahan dengan beringin kembar diujung jalan alun alun. Mirip pasar penuh item klenik. Perlengkapan sesajen jawa juga tersedia disini. 
Mesjid Kasunanan Kauman Solo: Inilah salah satu mesjid tertua yang ada di Solo. Mesjid ini merupakan kesatuan dengan Pasar Klewer dan Kraton Kasunanan. Posisinya bersebelahan dengan kraton dan pasar batik tsb. Arsitekturnya unik, merupakan perkawinan antara bangunan pendopo dan ukiran khas jawa serta pengaruh arab. 
Kampung Laweyan , kampung batik dari abad 19 S7 34.147 E110 47.604 (alt 112m)
Kampung Laweyan adalah kampung sentra pengrajin Batik corak Solo. Dia tumbuh sejak abad ke 19, dan merupakan sentra batik tua yang hingga kini masih ada. Letaknya agak jauh dari pusat kota, sehingga agak sulit kesana jika naik becak. Kampung ini terdiri dari puluhan gang kecil yang rumit dan mirip labyrin. Beberapa jalan malahan terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh mobil. Ketika saya kesana naik sepeda motor, akses gerak terasa lebih luwes untuk melewati semua jalan sempit yang ada didalamnya. Kampung Laweyan mempunyai ciri tembok yang amat tinggi. Setiap rumah pedagang batik diarea ini diberi batas tembok kokoh yang menjulang sampai 4 meter. Dibalik tembok yang tampak tua dan lusuh itu berdiri rumah rumah para pedagang batik yang megah bak istana. Kejayaan Batik telah membuat mereka menjadi kaya raya dan membangun rumahnya mirip istana kecil. 
Kraton Kasunanan (dan keliling benteng hingga kebelakang): S7 34.631 E110 49.684 (alt 90m)
Secara fisik, area kraton Kasunanan lebih menarik dibanding Kraton Mangkunegaran. Areanya luas dan dipagari kokoh oleh benteng tebal yang tinggi. Kesan tua segera terlihat dengan jelas ketika kita mulai masuk dari arah alun alun kota. Dari situ cobalah berputar mengelilingi benteng kraton hingga kebelakangnya seperti ke kampung Gondorasan. Kraton ini juga merupakan maskot parisiwisata Solo yang cukup beken. Sayang, dalam beberapa bulan terakhir ini, banyak berita menghiasi media massa bahwa terjadi perebutan tahta antara dua pewaris tahta sah kraton Kasunanan. Kejadian ini sempat meruncing sehingga membuat gerbang kraton sempat digembok oleh salah satu dari “raja” yang menganggap dirinya pewaris sah tahta kerajaan.
Kraton Mangkunegaran: S7 33.983 E110 49.339 (alt 114m)
Kraton Mangkunegaran tampaknya “kalah pamor” dibanding Kasunanan. Kraton ini juga lebih adem ayem ketimbang Kasunanan yang panas dengan isu perebutan tahta kerajaan. Mantan Presiden Soeharto dan alm istrinya dikenal juga merupakan kerabat dari Mangkunegaran Solo.

 | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Viktor Leonov/ Ballantine Books |
The Danger, Daring, and skill of Soviet special Operations.
Kita didunia ke3 ini lebih percaya bahwa pasukan blok Nato dikenal super jago akibat otak kita lebih sering diracuni oleh ide film perang barat. Dan membaca buku ini, pandangan bahwa tentara blok Nato lebih unggul akan ambyar dengan sendirinya.
Buku ini ditulis oleh Viktor Leonov, salah satu dari pelopor cikal bakal Navy Seals milik negara Soviet. Artinya, buku ini ditulis oleh "kaum" mereka sendiri, orang dalam yang paham seluk beluk organisasi hingga detail operasi pasukan super khusus marinir Soviet. Viktor sendiri adalah salah satu dari segelintir orang "the most decorated hero" dijajaran militer Soviet.
Bagi siapapun yang suka sejarah dan pengamat milter, buku ini cukup layak untuk dibaca untuk memberi nuansa lain kekuatan militer Soviet yang dulunya sangat tertutup, dan sudah pasti gak pernah nongol dilayar bioskop produk amerika.

 | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Bernard Dorleans/ Gramedia 2006 |
Buku ini judul aslinya " les Francais et I'ndonesie du XVIe au XXe siecie" diterjemahkan oleh penulisnya yg asli Perancis tapi sudah menetap sejak 1968 disini dan menikah pula dengan seorang wanita Indonesia.
Seperti juga buku lain yg suka gua kunyah, buku ini sarat dengan cerita sejarah yg digali dari dokumen atau manuskrip tua ttg interaksi antara Perancis dan manusia Indonesia sejak abad pertengahan hingga kini. Ada yang lucu, mengharukan, dan sisanya cukup membanggakan.

| |