HidÄÿÄt's posts with tag: trek mtb
Sumpe lu, kenceng banget lengkingannya. Kecil tapi pedas ditelinga, mirip cabe rawit super.
Signaling adalah salah satu cara manusia menyampaikan pesan dalam konteks berbahasa yg lebih sederhana. Sejak jaman dulu, manusia sudah tau apa itu "memberi kode" atau signaling termasuk memakai bunyi tertentu. Dan salah satu alat bantu untuk penyampaian komunikasi dengan signal adalah memakai peluit. Lantas pertanyaannya, untuk apa membawa peluit? Peluit biasanya dipakai untuk dua keperluan, yaitu olahraga (militer) dan untuk safety. Khusus untuk safety, karena signaling atau memberi tanda adalah salah satu upaya kita selamat dari kondisi berbahaya saat bertahan hidup dalam kondisi minus yakni dialam bebas (gunung, laut, hutan). Seberapa kuat manusia berteriak dari kejauhan saat dia meminta tolong? Apakah suaranya cukup kuat menyeberang lautan atau danau? Cukup kuatkah suara jeritan manusia memotong lembah hutan dan sampai berapa puluh kali ia mampu berteriak terus menerus? Atau mampukah suara tenggorokannya memotong gelombang angin shg terdengar keseberang? Peluit seperti juga halnya cermin, dipakai sebagai salah satu alat bantu penyelamatan (search and rescue, survival) apabila terjebak dalam kondisi darurat. Suara peluit yg sangat keras dan nyaring lebih bagus sekian kali lipat dibanding teriakan suara manusia. Dan dari sekian banyak brand peluit yg baik, FOX40 adalah salah satunya.
Peluit Fox40 tipe MICRO ini termasuk salah satu peluit laut (marine whistle) yang termasuk bagus. Warnanya mencolok, suaranya super kencang, dan bebas perawatan. Didalamnya tidak terdapat tambahan alat spt bola gabus yg ada dipeluit tradisional. Suara dihasilkan karena desain ruang dalamnya yg membuat vibrasi akibat tipuan napas kuat sipemakainya. Karena itu, dijamin sekalipun terendam setahun diair garam, ia tidak akan mengalami kerusakan apapun. Jika kalian memang maniak traveler, atau suka kealam bebas. Ada baiknya mulai berpikir melengkapi gantungan kunci kalian dengan peluit, atau dicantolkan dikalung. Siapa tau, satu waktu ada gunanya Website Fox40 disini.
.
Memotret outdoor saat ada festival atau acara hajatan rame rame, pasti selalu mentok dengan kamera yang ternyata tidak cukup wide lensanya. Maksud hati ingin memotret semuanya, taunya gak muat, dan gak cukup lebar. Padahal, menggambarkan luasnya area itu penting untuk menunjukan misal: betapa lebarnya lapangan tsb, atau betapa banyaknya crowd yg hadir, dstnya.
Ada cara gampang membuat bagaimana foto menjadi "Super Panaromic" dengan sudut pandang hingga 180*. Berdirilah disatu titik terbaik yg dengan mudah menolehkan kepala mentok kekiri dan kekanan sebesar 180 degress. Lalu angkat kamera mulailah memotret dari kiri hingga kekanan. Ingat batasan kiri dan kanan setiap frame dengan menandai obyeknya agar memudahkan menentukan framing berikutnya. Teruskan itu hingga memperoleh foto horizontal 180 derajat sebanyak 4 atau 5 shot.
Setelah sampai dirumah, foto tersebut dijahit langsung jadi satu dengan software dan dalam sekejap kita akan punya foto super panaromic. Tips ini cocok buat kamera poket atau hape kamera. Dan jika pakai poket, paling baik memakai tripod, tapi kalo tidak punya yaaa gakpapa. Situasi terbaik memang konsisten perpindahan dari frame sebelumnya ke frame berikutnya dengan menandai "batas" dari obyek sebelumnya ke obyek berikutnya.
Dibawah ini ada beberapa contoh hasil super panaromic 180*. Dijahitnya asal asalan saja dengan sengaja supaya hasilnya lebih unik, mirip fragment yg pecah disana sini.
Enjoy!*** Foto Bunderan HI itu dijahit dari 8 foto yg dijadikan satu foto super panoramic.  Acara "Tren Shimano 2008"  Foto panoramic "Membersihkan Kebun"  Super Panoramic acara funbike didepan Bunderan HI 
Membuat sepeda modern kerap dihubungkan dengan kata “groupset”, atau diplesetkan pengucapannya jadi " grupset " , yakni gabungan komponen sepeda yg dipakai untuk di area pengereman, area gigi transmisi, dan area yg berputar (di roda dan di tuas kaki pedal). Komponen sepeda genjot ini dijual pretelan atau dalam bentuk fullbike disemua toko sepeda.
Siapapun yg berminat akan membuat sepeda atau memiliki sepeda, ada baiknya memahami groupset berserta tingkatan hirarki nya. Disinilah akan ditentukan kualitas mutu dan harga, serta kenyamanan bersepeda. Secara garis besar groupset dibagi untuk kepentingan dua kelompok pesepeda, yakni: sepeda road race (sepeda balap dengan  stang melengkung mirip tanduk itu), dan groupset bagi sepeda gunung . Brand populer yg merajalela disini untuk kepentingan dua kelompok pesepeda itu adl : Shimano, dan SRAM (satu atap dengan brand AVID dan Truvativ).
Ditanah air sendiri, komponen dengan brand Shimano diyakini paling banyak dipakai oleh penggemar sepeda karena rentang jenis dan harganya sangat lebar. Pembeli bisa menyesuaikan dengan ukuran kantong masing masing. Jika punya uang banyak, bisa pakai komponen groupset papan atas, sedangkan jika mau kelas menengah juga ada, dan apabila hanya pengen sepeda untuk muter muter di kompleks rumah maka cukup dengan komponen murah.
Sepeda MTB, DJ, Freeride, commuter (dalam kota). Hirarki atau tingkatan groupset sepeda kelas ini dengan brand Shimano diantaranya (berurutan, paling atas adalah paling bagus dan paling mahal harganya), yakni: XTR Deore XT Deore LX Deore ----- entry level kelas pro Alivio Acera Altus 104 106 108 Tourney 110 ** Shimano mengeluarkan series khusus untuk sepeda DJ dan DH yakni dengan label Saint dan Hone.
Sepeda Road Race mempunyai hirarki komponen groupset brand Shimano antara lain : Dura Ace Ultegra 105 ----- entry level kelas pro Tiagra Sora 2200 A 050
Lalu untuk brand SRAM, tersedia komponen dengan hirarki sbb: X0 X9 X7 X5 SX 4 3.0 Seperti dikatakan diawal, bahwa komponen groupset ini mempunyai rentang tipe yg panjang, karena itu harganyapun juga beragam. Ada beberapa pesepeda yg mencampurkan komponen groupset dengan tujuan agar harganya lebih miring, tapi kinerja “smoothness” nya tetap optimal. Caranya yakni dengan memasang komponen bagus (entry level kelas pro misal Deore) dengan mid level dalam satu sepeda. Komponen yg harus bekerja ekstra keras dikasih yg bagus, yakni untuk rear derailleur (RD) dan brake system . Sisanya bisa dikasih komponen yg lebih murah. Secara konkret, contoh saja, sepeda MTB untuk commuter (didalam kota) cukup pakai groupset ACERA atau Altus, lalu RD nya diganti dengan tipe Deore yg merupakan komponen entry level bagi kelas pro bikers. Cara ini lebih hemat dan tetap menjanjikan kinerja bagus , dibanding harus beli groupset sejenis dalam satu sepeda yg malahan lebih mahal atau malahan tidak bekerja optimal. ***hsgautama.multiply.com

.
Lapar saat bersepeda? Lemes gak ketulungan ditengah jalan? Makanlah pisang.
Pisang bukan cuma disukai monyet kok, ternyata pisang memberi asupan tenaga yg luar biasa besar buat pesepeda selama perjalanan riding.
More energy, more quickly.
Buat apa cari energy bar? Kandungan pisang hanya beda tipis dengan energy bar yg dijual ditoko. Pisang murah dan mudah didapatkan dimanapun, sedangkan energy bar mahal dan tidak ada disemua toko. Banyak yg mikir bahwa energy bar lebih "jos", padahal pisang gak beda jauh dengan itu. Buat apa bikin berat tas dengan cemilan jika mudah mencari pisang diwarung manapun? Dan lebih dari itu, pisang seratus persen boleh dibuang disembarang tempat sehabis dikunyah karena kulit dia adalah sampah organik yg akan hancur dengan mudah bersama tanah.
Jadi ngapain sih elu repot ... makan aja pisang krn cocok dibawa untuk wisata, treking, riding, cycling, hiking, dan semua aktifitas sehari hari.
 Artikel dari sini. Foto dari sini. Cycling's Perfect Food Why we should all go bananas
By Joe Lindsey The lowly banana is the Eddy Merckx of energy food. Today the hype goes to trendier, micro-engineered energy bars and gels, but if you bring this stalwart yellow delicacy out of retirement, you'll rediscover a classic piece of cycling perfection. The banana has loads of carbs, potassium (an important electrolyte), and ride-enhancing vitamins--it's almost as if it were designed just for us.
Bananas weren't an energy food for the first cyclists, who usually fueled their efforts with bread and cheese, washed down liberally with wine. It became a tradition for European racers to disdain the banana as difficult to digest. Andy Hampsten, the only American ever to win the Tour of Italy, says his teammates during his early years as a European pro would tease him about eating bananas.
"They'd say I was going to fall asleep mid-race because they thought the bananas would just sit in my stomach," Hampsten says. But he knew that a ripe banana is actually pretty easy to digest and makes a great, portable on-ride food because it readily converts to energy. The glycemic index ranks foods on a scale of 0-100, based on how quickly they're converted to usable energy (with 100 representing pure glucose). A banana has a glycemic index rating of 55--a quicker energy boost than other common fruits. For example, an apple has a rating of 38 and an orange is 44. The banana beats the peanuts out of a Snickers bar, which is ranked at 41, and is close to a chocolate PowerBar Performance bar at 58.
Bananas are famous for containing potassium, an essential electrolyte that helps regulate blood chemistry (particularly Ph) and improves carbohydrate metabolism by helping the muscles act efficiently. Without potassium (and sodium), your muscles stop firing correctly. Severe loss of sodium can produce really nasty complications all the way up to shock and death. (Of course, you'd stop riding before then.) Potassium also prevents the blood's Ph from _becoming too acidic. With enough potassium in your system, blood glucose is more easily transported through cell walls and used in ATP production. Translation: more energy, more quickly.
Bananas are also rich in vitamin B6, which helps metabolize more than 60 proteins and assists in red blood cell production that transports oxygen to muscles. And folate in bananas helps concentration and memory. If you get lost a lot, try eating a banana.
This magic fruit also gives you 17% of your Daily Value of vitamin C, an antioxidant that neutralizes free radicals (harmful waste products) in your body and helps produce collagen, the building block of the connective tissues such as tendons and cartilage that keep your knees strong. And the banana's magnesium (yep, the same stuff they make fork lowers out of) plays _a role in energy transport and your body's ability to keep pushing those cranks around. It's also involved in the synthesis _of protein, which helps recovery.
And, finally, the ultimate benefit: Unlike a gel container, bar wrapper, or a plastic bag holding a bunch of cookies, the banana's "container" is biodegradable: Toss it to the side of the road and it breaks down in one to two weeks.
Like Eddy (and Elvis, whose favorite food was fried peanut butter-and-banana sandwiches), the banana is king.
.
Jika jaket Rain coat andelan kalian sudah tidak bisa menahan air hujan padahal brand nya bagus dan secara fisik masih tampak oke, coba lapisi dengan spray khusus dari bahan silicon ini. Brand produk bernama SILICON WATER Guard ini akan memberikan lapisan lilin kuat di bahan jaket dan membuat air hujan akan meluncur turun mirip kepleset tanpa meresap. Janji produk yg diperuntukan bagi pemakaian heavy duty ini, bahan jaket akan tetap mampu breathable, dan tidak berbau. Jadi jika masih ada jaket Lafuma, atau ada tas ransel bagus, dan sepatu kanvas boot yg oke, jangan keburu dibuang jika air hujan merembes masuk, coba dulu semprot dengan ini. Dijamin lapisan lilinnya akan kembali utuh. Mirip bulu angsa, air tidak akan meresap masuk. Di Jakarta, barang ini kayaknya cuma ada di ESTA, salah satu toko penjual peralatan outdoor di Pangrango Mall, salah satu mall lawas yg ada didepan Kebun Raya Bogor samping PMI Bogor. ESTA adalah milik salah satu jagoan pemetaan gua bawah tanah disini, yakni om Away. Link: www.atsko.com  .

|  | Wuih, inilah hajatan sepeda besar yg ada diawal tahun 2008, diselenggarakan di JPG dg topik: Tren MTB 2008. Meriah banget, bikin macet jalan. Hujan lebat semalaman dan seharian paginya membuat tanah liat disana betul betul lengket. Ampyyyun minaa. Secara visual acaranya memang meriah, entah apa efeknya buat nilai penjualan. Buat pendatang amatiran kayak saya ini pengen nya cuma melihat Shimano akan melempar produk apa, lantas memperbaiki sisi apa dibanding produk sebelumnya untuk menyaingi kompetitornya kayak SRAM dan Campy. Taunya isinya yaa standar aja. Pihak pembicara dari Shimano yg menjelaskan keunggulan produknya didatangkan dari Malaysia yg berbicara dengan broken SING-LISH (singapore english), waaalaaah... "we cant understand laaaa, speak more laaaa, gimme nett price laaaaaa".... whatever so so Laaa and Laaaa.. . Pengunjung amatiran kayak saya dan mungkin ratusan lainnya cuma pengen hal konkret saja yakni: "Shimano khusus di event ini akan menjual line up produk sisa 2007 setengah harga, jreng!" Kuping kok malahan ribet denger penjelasan broken sing-lish macam begitu, mumet rek! Hal menyenangkan dari event besar ini, kita bisa mudah menjumpai teman disini. Ada teman MP, ada temen B2W, ada temen sepedaan jaman 90an, ada lagi senior gua dari jaman Tempo, waaah banyak. Gak bisa disebutin satu persatu.


. |

|  | Today we got a new friend, Laura, she is a nice and talkative Dutch girl. Growing up in Holand, she is familiar riding across the city with a bike. But she never did with mountain bike, therefore she wants to joint with us to try the single trek at JPG routes. Never did handling a bike at hard trails, then she got a trouble. The bike had a flip up at the end of the drop off, and she has a sudden jump, go straight to the padi field with no further ado. Hahaha. It was looks like go plunge into big mud pond. Congrats to you Laura, now you are really a "mountain biker lady".

** Seluruh folder ini dibuat memakai N82, 5 mpx. Hanya 4 foto diurutan paling akhir bukan dari N82.
. |
Karena alasan safety, dan "mantan" korban ditabrak oleh ranmor saat malam ketika dijalan raya, maka menjaga sepeda tetap mempunyai visibilitas yg optimal bagi pemakai jalan lain adalah mutlak. Jangan bersepeda seenaknya dijalan raya malam hari tanpa safety yg memadai, nanti kalo ditabrak malahan marah marah. Liat dulu dong, apakah sepeda sudah pakai pengaman?
Disini, diantara teman2 seperjalanan yg suka bersepeda, rata rata kami memakai Scotlite stiker yg dililitkan melingkar dikabel rem, depan dan belakang. Lalu scotlite juga ditempel di helm. Dari depan-belakang atau samping kiri-kanan, sepeda akan mudah terlihat oleh ranmor lain.
Alasan selain safety, stiker lilitan begini anti nyangkut ketika dibawa keluar masuk semak belukar dan jalan kampung, beda dengan mata kucing. Lebih murah meriah. Dan mengingat karakter kami yg suka suka saja naik sepeda, kadang siang, kadang kemalaman dijalan, kadang digunung, kadang ke kampung, dan kadang nyelonong lewat jalan raya. Safety ini juga gak perlu battere, hemat energi. Buat apa sih hobi kalo bikin celaka karena kelalaian? Biaya rumah sakit lebih mahal tuh, belum sepeda yg jebol dihajar ranmor, lebih nelangsa lagi.

 .
Menyamakan judul review ini seperti folder foto sebelumnya, maka kali ini adalah review “tralala” soal ban Panaracer FireXC Pro 2.1 (Buat judul lucu lucuan saja kok). Untuk mencoba ban ini di trek tanah basah, kudu sabar menunggu 8 bulan lamanya sejak dibeli tahun silam disaat musim kemarau 2007. Cukup lama memang, sabar menunggu masuknya musim hujan. Dan kemarin minggu adalah saat yg pas buat mencoba ini. Panaracer ini adalah tipe kedua yg pernah dipakai disepeda. Jenis pertama dulu adalah masih dikeluarga “Panaracer FIRE” juga, cuma beda tipe dan size ban. Ban lama memakai Panaracer Trailblaster dengan size 1.95 warna hitam mulus, sedangkan kali ini adalah Panaracer FireXC Pro dengan size 2.10 warna hitam plus striping merah darah disisi samping kanan dan kiri, keren tampilannya ah-ah-ah sedap dimata. Lantas apa bedanya ban lawas Trailblaster dan yg baru ini (Firexc pro) selain sisi kosmetik tampilan? Secara visual perbedaan mencolok adalah ukuran tapak tahu nya. Panaracer XC Pro jelas lebih besar ukuran kotak “tahunya”. Mencolok dan menonjol dominan disekujur ban. Deretan lajur terbagi dua, yakni dibagian tengah ban dan sisi sampingnya. XC Pro ini tidak memakai pola berulang spt formasi “layang layang” atau berlian di Trailblaster. Pola penempatan tahunya ngurut disisi dalamnya dan rapat satu dengan lainnya, lalu tapaknya menjorok hingga kesamping secara ekstrem. Bentuk kotakan tahu juga tegas membentuk siku, tidak halus disisi luarnya. Melihat ban ini seperti melihat ban untuk motor cross tapi dalam bentuk mininya. Mengesankan. Percobaan “test-glinding” dilakukan diwilayah kampung Sumur diseputaran Jalur Pipa Gas. Maklum, area ini terdekat dengan rumah shg bisa menghemat waktu pulang dan pergi. Dan disini, medannya bukan cuma tanah liat padat yg kental lengket, tapi juga berupa kubangan bubur tanah merah. Medan JPG beda misal dengan wilayah lain di jabodetabek yg didominasi kampung dan hutan karet shg disana cuma ada tanah lempung yg lengket. Di JPG, variasi medannya bisa berubah ubah dengan variatif. Ditemani perusuh lainnya, Oji, Ndit, Abe, Dauzz, dan Japra, masuklah kami berenam kedalam wilayah Sumur. Rute yg dipilih bebas, kita tidak mengikuti rute familiar yg biasa dipakai oleh teman teman bikers ketika main disini, dan yg jelas kita malahan sebisa mungkin menghindari jalan yg “bagus”. Harus full tanah dan offroad, ini syaratnya. Pagi sebelum masuk kedalam “arena lumpur”, tekanan ban sudah dikurangi sekitar 10% dari tekanan optimal yg bisa ditampung oleh ban ini. Menurut “sahibul hikayat”, jika mau main lumpur maka kurangi tekanan bannya. Yeah, ikuti saja saran para “tetua adat” karena itu ada logika berdasarkan pengalaman kan. Ban kempes cocok diarena lumpur dan licin, tapi sebaliknya, ban kempes buruk dijalanan aspal karena membuat tambah berat.

Jadilah, masuk dironde pertama ban ini bekerja sama baiknya dengan ban yg ada disepeda rombongan ini diantaranya maxxis dan bontrager. Jalur becek, bubur, kental, semua bisa lewati dengan baik. Dijalanan miring Fire XC juga mempunyai gigitan yg mantap. Dijalanan menanjak, traksi cengkraman ban juga berjalan mulus. Sesekali dia selip, tapi itu lebih karena salah kayuh, alias gak sabaran, atau membuat momentum telat ketika menanjak melewati jalur licin. Bukan salah di ban sih, gua yg salah. Ketika berhenti, mata mengamati bagaimana posisi tanah merah menempel diban. Disitu terlihat, lumpur keluar dari sisi samping tapak tahu akibat tekanan perputaran roda. Menarik, ternyata begitu caranya dia membuang pemampatan lumpur yg masuk disela sela tapak tahu. Spt dikatakan didepan, tapaknya yg ekstra besar membuat ban ini memang tetap mempertahankan tahu menonjol keluar disela sela mampatnya tanah liat yg menempel disana. Karena itu, logis bila cengkraman ditanah tetap bisa dijaga, tidak total hilang semua ibarat berubah menjelma menjadi ban botak mulus. Buat ilustrasi perbandingan, dulu saat memakai ban Maxxis Ignitor, ban ini ternyata tidak mampu membuang sisa tanah liat yg menempel secara ketat diantara tapaknya. Dibandingkan dengan ban teman teman lain yg memakai Bontrager atau Maxxis tipe lain, maka Ignitor tampaknya gak bekerja baik mengenyahkan tanah liat. Ada memang cara sederhana bagaimana membuang sisa tanah bandel yg menempel diban (supaya membantu tapaknya keluar menonjol lagi), diantaranya sengaja melewati genangan air, lalu dengan cepat memacu sepeda sekencang mungkin agar semua lumpur mencelat keluar. Maxxis Ignitor ternyata tidak bisa membuang tanah liat sekalipun memakai cara itu, saya waktu itu kadung kapok pakai ignitor, saya pikir itu ban lebih buruk dari Bontrager yg lbh ekonomis tapi performance nya bagus ditanah becek. Panaracer FireXC Pro mampu menendang keluar sendiri sisa lumpur padat yg menempel diban. Bahkan dalam speed lambat pun, dia tetap bisa membuang sisa lumpur disana, tidak harus dicemplungin diair atau dikebut sejadi jadinya.
Catatan tambahan. FireXC Pro ini mempunyai size 2.10. Artinya dia lebih besar dari ban kebanyakan. Besar artinya friksi ban dengan jalanan akan lebih besar, jadi hambatan juga jelas lebih besar, sama artinya lebih berat dibanding ban yg kurus. Keuntungannya, karena besar, jelas dia mampu menggigit jalanan lebih baik daripada ban kurus, apalagi jika didaerah licin dan berlumpur. Mana yg lebih baik? Gak ada yg lebih baik. Semuanya kan tergantung tujuan dan pemakaian. Butuh buat apa dulu? Jika mau masuk mandi lumpur, maka size segini enak. Catatan lain, dijalan aspal, ban ini punya gigitan yg mantap dijalan basah atau kering. Jeleknya adalah efek gludukan atau vibrasi konstan akibat ukuran tapak tahunya yg besar. Jika kalian tidak suka dengan efek getaran ekstra, jangan pakai ban ini. Lebih baik pakai ban lain yg mungkin lebih nyaman buat tangan karena nyaris tanpa getaran, misal tapaknya sedikit dan nyaris rata. *** hsgautama.multiply.com  .

|  | Jika punya hobi main MTB tentu saja harus mau kotor, mandi lumpur adalah salah satu keasikan bermain MTB. Jadi, kotor itu baik kok. Sepeda itu dikembalikan atas fungsinya yakni untuk bermain dijalur "keras" yg rusak, bukan cuma disimpan digarasi atau hanya dipakai dijalur aspal.
Sebuah episode ringan ttg perjalanan mengisi weekend dengan bersepeda dikitaran Kecamatan Sumur, didekat Jalur Pipa Gas (JPG). Ketawa ketiwi, tralala. Nyaris separuh lebih trek disana menjadi lautan bubur lumpur tanah merah. Licin, dan sulit dilalui dengan kayuhan pedal.


. |
Apa gunanya memakai jam tangan dengan built in kompas, barometrik dan altitude, didalamnya? Ini sebuah pertanyaan kritis buat golongan urban dikota besar, karena memang ditengah kota metropolitan yg hiruk pikuk, kita nyaris tidak perlu kompas atau fungsi lainnya itu. Alat penunjuk arah biasanya digunakan jika kita melakukan perjalanan disebuah tempat yg minim populasi misal dilaut, rawa, atau ditengah hutan. Disitu, memang tdk ada manusia yg bisa untuk ditanya soal arah.
Dipasaran tersedia beberapa jam yg mempunyai fasilitas kompas didalamnya. Fungsinya bukan sekedar sebuah jam yg melingkar ditangan, tapi juga bisa dipakai untuk menunjukan arah mata angin secara baik. Jam seperti ini banyak dijual dibanyak tempat dan mempunyai beberap brand yg sudah menguasai pasar wrist watch secara global atau lokal, salah satunya adalah Casio.
Brand Casio dengan item berlabel "PROTREK" memang ditujukan untuk dua kelompok spesifik, yakni para hobi penggemar mountaineering dan aktifitas dilaut. Banyak kalangan profesional juga memakai alat ini sebagai alat bantu tambahan jika bekerja dilapangan, sekaligus untuk menjalankan hobinya dikala luang.
Casio jenis Protrek mempunyai merk saingan terberat dipasar salah satunya adalah brand Suntoo yang memang juga mengkhususkan diri dengan jam tangan khusus untuk mountaineering, bermain ski, hingga olahraga dilaut. Bedanya adalah soal negara pembuatnya, dan di Indonesia lebih mudah menemukan Protrek dibanding Suntoo, karena itu harganya juga beda lumayan tajam.
Saya termasuk suka memakai produk Casio Protrek. Beberapa tipenya sudah lewat ditangan satu persatu. Protrek memang didesain untuk aktifitas alam bebas dimana pengguna bisa mendapatkan sebuah nilai lebih dari jam tangan ini. Disinilah, dibuat sebuah jembatan titik temu antara hobi dan teknologi yg bercampur jadi satu. Karena itu, Protrek kemudian dikenal dikalangan "anak gunung", forest rangers, kelompok yg suka olahraga Layar, divers, atau juga pemancing dilaut lepas. Ada beberapa jenis Protrek yg dijual bebas sesuai dng fungsi yg diinginkan oleh konsumen. Jadi, pertimbangan pertama bukan soal harga, tapi soal fungsi teknologi yg ditanam didalamnya. Secara pribadi, saya memilih Protrek untuk mountaineering dg fasilitas 3 sensor (barometric atau suhu udara, altitude, dan compas) , lalu satu lagi series Protrek untuk memancing karena punya kalendar bulan dan pasang surut gelombang laut. Didalam aplikasi untuk pekerjaan dikalangan anak TV, jam tangan dengan kompas bisa juga dipakai untuk menentukan posisi edar satelit. Mempersiapkan sebuah news gathering siaran LIVE tentu membutuhkan satelite, dan kita harus tahu berdiri dimana (dimuka bumi ini) lalu mencari dimana posisi satelit yg akan kita pakai. Apakah di Timur, di Utara, Selatan, atau di Barat? Salah mengarahkan antena parabola akan membuat kami tidak akan mendapatkan signal satelit tsb, artinya siaran LIVE bisa gagal total.
Kinerja jam tangan yg disertai dengan 3 sensor lansiran Casio saya pikir cukup dapat diandalkan soal akurasinya. Kekuatannya menghadapi alam bebas juga patut diacungi jempol. Mau hujan kek, mau kecemplung masuk laut kek, mau kena angin kek, jam ini bekerja dengan baik. Bahkan dibawa ketengah suhu sangat ekstrem dimusim dingin hingga -30*C juga bekerja dengan optimal (sempat dicoba ketika ke Findlandia, sisi luar sejajar dengan Siberia). Jika bicara kekuatan, alat ini luarbiasa.
Mengenai akurasi kompas, saya pikir gak ada masalah serius selama kita benar melakukan kalibrasi ketika jam ini pertama kali dipakai ditangan. Alat kompas, baik itu elektornik maupun jarum manual, sebetulnya membutuhkan kalibrasi rutin setiap setahun. Ini disebabkan adanya pergeseran titik sumbu bumi yg secara alamiah pasti terjadi. Dibuku manualnya memang disertakan cara melakukan kalibrasi arah, sehingga user akan memperoleh ketepatan arah yg optimal dari barang ini. Fungsi altitude dan barometric juga dapat dikalibrasi lebih dahulu agar memperoleh ketepatan hasil yg baik. Kesalahan kalibrasi akan membuat perbedaan cukup mencolok dialat ini.
Kelemahan alat ini saya pikir adalah soal ketepatannya membaca suhu diluar. Selama jam tangan ini dipakai ditangan, akan terjadi penyimpangan ketepatan membaca nilai suhu udara diluar. Beberapa jenis protrek sebelum era 2007 an masih dijumpai kesalahan reading karena sensor chip dijam ini membaca suhu hangat ditubuh pemakainya. Karena itu, jika mau akurat, jam tangan harus dilepaskan dan dinetralkan lebih dahulu sesuai suhu sekitarnya lalu baru dilakukan eksekusi pengukuran. Disinilah hasilnya baru lebih akurat lumayan tajam. Casio memperbaiki akurasi pengukuran suhu ini dibeberapa tipe Protrek terbarunya yg direalease awal tahun ini. Kepala sensor diletakan menjorok keluar shg diharapkan hasil pengukuran lebih akurat.
Kesimpulannya, jam ini cocok buat siapapun yg suka traveling atau melakukan perjalanan jauh dan panjang. Mengetahui arah itu penting, karena esensi dari perjalanan memang harus tau mau kemana, ada dimana, dan bagaimana arah pulangnya.
Mempunyai alat yg dapat diandalkan ditangan juga bisa memberikan rasa aman ekstra, jika terjadi sesuatu ditengah perjalanan yg menimpa guide rombongan (misal ditengah gunung), kita akan tetap tau kemana arah kekampung terdekat. Saya sendiri bukan org yg mudah percaya memberikan "keselamatan" perjalanan kepada pihak lain tanpa persiapan yg baik didiri sendiri, jika terjadi sesuatu yg fatal diperjalanan, saya harus bisa menolong diri sendiri (percaya deh, pernah kejadian kok, hehehe apes...) **** hsgautama.multiply.com .
Link: http://www.moonsaddle.com/MoonSaddleTM has been specifically designed to eliminate pressure on the perineum of bicyclists. This is especially important as the "horn" or nose of traditional bike saddles has been shown to contribute to erectile dysfunction, lower sperm counts and contribute to health problems in women. Traditional saddles can be painful. MoonSaddleTM solves both of these problems. Constructed of long lasting high tech materials it will provide bicyclists years of trouble free riding in "pressure free" comfort. # Most comfortable bike saddle ever built # Waterproof and scuff resistant # Lightweight with low maintenance # Moon Saddle's design utilizes the natural support system of the skeleton and includes several anatomy-friendly features # Can be installed facing either forward or backward # Engineered to fit everyone: from youthful male to mature female anatomies # High tensile strength stainless steel tubing # Satisfaction guaranteed  Foto dari sini. 
Enaknya pakai potongan bar end yg sepenti tanduk diujung setang adalah karena dua sebab, pertama yakni ketika tangan mulai kesemutan lelah, dan kedua, ketika memindahkan posisi genggaman tangan saat memacu dengan kecepatan stabil dijalanan mulus. Perpindahan posisi tangan yg sudah pegel kerap membantu untuk variasi yang membuat kita tidak bosan dan tambah capek. Banyak alasan dan 101 teori tentang untung ruginya pakai bar end tapi buat saya cuma dua itu saja. Simple aja... Bar end adalah sebuah potongan besi (atau material lain) yg diletakan diujung luar dari setang sepeda. Bentuk dan panjang bar end dipasaran tersedia beberapa jenis, dia akan tampak seperti tanduk berdiri kedepan (lihat foto dikanan paling atas). Ada yang panjang lurus, ada pula yg melengkung mirip tanduk sapi, dan ada yang ekstra pendek. Bahan bakunya juga beragam, mulai dari besi, hollow alumunium, sampai cetakan karbon. Pilihan brand dan warna sangat beragam, bisa dipilih sesuai selera konsumen dan budget dikantong. Sayang, tidak ada data soal pertama munculnya alat ini dan siapa yg membuat. Tapi menilik dari bentuknya dan fungsinya yakni ditujukan untuk membuat variasi posisi telapak tangan, sepertinya cara ini muncul pertama dari kalangan pesepeda touring, roadies, atau pesepeda yg menyukai jarak tempuh jauh. Dijarak pendek, bar end tampaknya gak ada gunanya jika dipasang dan hanya menambah bobot sepeda saja secara keseluruhan.
Bisa jadi ini adalah adaptasi pengembangan dari ide bentuk setang road bike yg dianggap punya kelebihan dalam variasi peletakan posisi tangan yg berbeda beda. Cara itu terbukti berhasil meredam lelah dan menepis bosan akibat jarak tempuh yg panjang. Ide yg sama kemudian dicoba diterapkan untuk sepeda non roadies. Dikalangan pemain MTB, alat ini lantas diterjemahkan juga untuk safety melindungi buku jari akibat benturan apabila terbanting kepohon atau area berbatu. Sebagian meyakini soal safety itu, dan sebagian meragukan hal ini mengingat adanya kemungkinan kerancuan fungsi antara pelindung buku jari di motor-cross dan pemain sepeda MTB yg antara keduanya jelas berbeda.
Dalam perkembangannya, bar end bukan cuma berbentuk spt tanduk saja. Dia berubah sesuai fungsi (misal soal safety riding) dan kepentingan kosmetik disepeda itu sendiri. Sehingga ada beberapa produk menjual bar end tapi dalam bentuk yg lain dan berbeda. Ditilik dari nama yakni "bar-end" yg artinya "diujung setang", itu sih memang betul, dan dia diletakan memang diujung luar setang sepeda. Gak salah kok :-)
Misal spt foto dibawah ini….   ***** hsgautama.multiply.comFoto dari sini dan sini..
** pemilik gambar asli tertera disana, Ravinder Hooda, pernah di upload di sepedaku.com/ Galihleo. .

Bajaj dan Ojek pakai GPS? Giling, masak? Jangan meremehkan, dalam waktu dekat tampaknya bisa jadi sopir Kopaja, tukang Ojek, dan Bajaj bakalan punya GPS ditangan mereka. Paling tidak, harapan itu akan dipenuhi oleh Nokia. Perusahaan henpon ini membeli perusahaan navigasi satelit Navteq dengan harga luarbiasa besar $ 8.1 billion, ini bukti keseriusan Nokia menggarap proyek henpon berbasis navigasi satelit. Semangat konvergensi dan multimedia rupanya membuat Nokia sangat ingin mengalahkan pesaingnya dan menjadi pemimpin pasar telepon cellular dengan fitur terlengkap serta terbesar didunia.
Satu saat, perjalanan nyelip sana sini melewati gang kampung bakalan gak akan tersasar lagi. Sumpeee. 
Foto dari pmptoday
http://www.pmptoday.com/2007/10/01/nokia-buys-navteq-to-rule-cellphone-gps/ Nokia Buys Navteq to Rule Cellphone GPS Market 1 10 2007
Nokia is serious about putting SatNav applications in all future Nokia phones. Nokia today bought NAVTEQ, a GPS service with ownership of the The Map Network, the largest maps supplier in the US. This means Nokia Maps will become even more detailed and comprehensive, not to mention up-to-date. The price tag for NAVTEQ is $8.1 billion. Olli-Pekka Kallasvuo, Nokia president and CEO is optimistic: “The acquisition of Navteq is another step toward Nokia becoming a leading player in this space. “By joining forces with Navteq, we will be able to bring context and geographical information to a number of our Internet services.” With 900 million Nokia customers, NAVTEQ is also anxious to spread its wings. “Nokia’s unique vision for location-based services aligns perfectly with Navteq’s vision to enable everyone to find their way to people, places and opportunities on mobile communications devices,” says NAVTEQ president and CEO Judson Green. [via nytimes] .
Dari seluruh deretan produk GPS unit merk GARMIN, tipe ETREX adalah salah satu produk favorit. Garmin sudah berulangkali mereleased produk terbaru dari GPS mereka, dan keluarga ETREX tetap ada dari jaman ke jaman. Gak ada matinya deh. Etrex merupakan satu ikon tersendiri yg bisa jadi gak bakalan dihilangkan oleh Garmin. Saya sendiri sudah dua kali memegang tipe Etrex yg berbeda. Pertama kali dulu pernah bawa Etrex kuning. Disebut kuning, karena memang kemasannya berwarna kuning menyala. Tipe ini adalah bagian dari keluarga Etrex yg paling murah dan paling simple. Lalu ketika keluar Etrex Legend CX dipasar, langsung mengambil ini dan sampai sekarang masih dipakai. Terkesan dengan performa bandel Etrex kuning yg sekalipun sangat sederhana dan gak bisa aplot dan donlot peta, tapi GPS kuning meriah itu sangat dependable. Dibawa penjelajahan kehutan, hard assignment, combat zone di borderline, wisata desa, sampai ke jalan jalan ala turis gokil diperkotaan tetap bisa dipakai. Gila ini barang, asli 100% bandel. Kenapa pilih Etrex? Alasan paling masuk akal, pertama, produk Garmin adalah brand paling popular disini untuk kelas awam hingga advanced. Dibanding kompetitor selevel, Garmin mudah “dimainkan” karena tersedia dukungan software dan hardware yg user friendly. Ini masuk akal, mana ada yg mau repot kan? Selain itu, memakai produk terpopuler akan memudahkan tukar menukar data. Ini tidak terbantahkan. Bagian menarik disini memang salah satunya adalah “pertukaran data” antar sesama pemakai shg setiap org bisa melengkapi data perjalanan (trek dan waypoint). Beda brand akan membuat beda pula software untuk mengolah data peta tsb. Karena itu, kelompok mayoritas lebih punya peluang “menguasai” arena pertukaran data antar sesama pemakai. Alasan kedua, Etrex adalah produk sangat baik dan bandel. Di family tree mereka, Etrex tersedia beberapa tipe yg bisa dibeli sesuai dengan budget masing2 pembeli. Etrex juga cocok banget dipakai buat perjalanan individual atau kelompok, sebuah unit handheld yg cukup mungil, tidak berat, tidak besar dimensi kemasannya. Karena kecil, dia bukan hanya sangat simple diselipkan kesaku celana, tapi juga mudah disangkutkan distang sepeda, atau motor, boat, dashboard mobil. Etrex Legend CX, salah satu tipe yg ada dikeluarga Etrex. Produk ini secara mencolok punya sisi istimewa tambahan yakni layarnya berwarna dan mempunyai detail resolusi yg halus. Panel untuk recievernya juga lebih peka dibanding pendahulunya, sehingga jika ditaruh didalam ransel kanvas, unit ini akan tetap menerima signal (asal antenna menghadap keatas, diletakan dikantong bagian atas dan tidak tertindih barang lain). Etrex Legend CX juga mudah melakukan aplot dan donlot peta. Sebuah opsi bagus karena bisa terus menerus membuat update peta dan perjalanan. Unit ini juga lebih hemat batere dibanding misal Garmin Map 76. Unit GPS yg boros batere itu tidak baik. Apalagi jika dipakai terus menerus melewati area yg tidak dikenal sama sekali. Habisnya batere sama saja kita kehilangan arah sama sekali. Sampai sekarang, Etrex Legend CX tsb masih setia menemani perjalanan kesana sini, apalagi jika GPS ini dibawa memakai sepeda atau jalan jalan diwilayah terpencil. Darat, laut, udara semua wilayah dilalui dia, suhu terparah yg pernah dijajal barang ini adalah mendekati -30* C (area sejajar dg Siberia). Produk Garmin saat ini banyak dijual di Jakarta. Biasanya, penjual alat ini berhubungan dengan computer atau gadet. Mungkin krn saat ini masih booming dan tren, gps lantas menjadi bagian dari gaya hidup org perkotaan. Fungsi ini jelas bergeser dari tujuan awal pemakaian gps, yakni untuk militer, transportasi, atau sesuatu yg berhubungan dengan profesi tertentu. Pilihlah toko yg mau ditanya dengan cerewet mengenai produk ini apabila tidak paham. Saya sendiri pernah dicuekin sama customer sebuah gerai penjual Garmin (konon terbesar dinegeri ini) karena terlalu banyak bertanya.
Hehehe, attitude penjual yg buruk seperti itu mending ditinggal saja, masih banyak lainnya kok yg jual ini. Pokoknya pembeli adalah raja. http://garmin.com/garmin/cms/site/us/onthetrail/ Pack more detail into your adventure with the eTrex Legend Cx. This popular handheld navigator has a bright color screen and microSD™ card for expandable memory, and it can route you on roads or off, for wherever your travels take you. Expand Your Memory Storing data is easier than ever with Legend Cx's included 64 megabyte (MB) microSD card. Just connect to your computer and load optional MapSource® software to view detailed maps of your surroundings. The card slot is located inside the waterproof battery compartment, so you don't have to worry about getting it wet. You can also use optional preloaded microSD cards with MapSource data for your land and sea excursions. Just insert a MapSource card with detailed street maps, and Legend Cx provides turn-by-turn directions to your destination. Take It Anywhere Like the rest of the eTrex series, the rugged Legend Cx is WAAS-compatible and waterproof, so it can withstand the elements or an accidental dunk in water. Other Legend Cx features: - 256-color, sunlight-readable display makes it easy to distinguish map details — plus, it looks fantastic
- Supports English, Spanish, Portuguese and French languages
- Extra-long battery life brings you more hours of outdoor enjoyment
- Fast USB computer connection so you can transfer waypoints and other data to your computer
eTrex Legend Cx: This little color navigator goes a long way | Physical & Performance: | | Unit dimensions, WxHxD: | 4.2" x 2.2" x 1.2" (10.7 x 5.6 x 3.0 cm) | | Display size, WxH: | 1.3" x 1.7" (3.3 x 4.3 cm) | | Display resolution, WxH: | 176 x 220 pixels | | Display type: | 256 level color TFT | | Weight: | 5.5 oz (156 g) with batteries | | Battery: | 2 AA batteries (not included) | | Battery life: | 32 hours | | Waterproof: | yes (IPX7) | | Floats: | no | | High-sensitivity receiver: | no | | PC interface: | USB | | RoHS version available: | yes | | Maps & Memory: | | Basemap: | yes | | Ability to add maps: | yes | | Built-in memory: | no | | Accepts data cards: | 64 MB microSD card (included) | | Waypoints: | 500 | | Routes: | 50 | | Track log: | 10,000 points, 20 saved tracks | | Features: | | Automatic routing (turn by turn routing on roads): | yes | | Electronic compass: | no | | Barometric altimeter: | no | | Geocaching mode: | yes | | Outdoor GPS games: | yes | | Hunt/fish calendar: | yes | | Sun and moon information: | yes | | Tide tables: | no | | Area calculation: | yes | | Custom POIs (ability to add additional points of interest): | yes | Foto dari gpscity
 .  .
Sepatu short trekking boots adalah salah satu sepatu favorit yg paling sering dipakai untuk, penugasan pendek, travelling, sekaligus untuk naik sepeda. Boot pendek adalah pilihan terbaik karena praktis tapi memberikan kenyamanan yg sangat optimal saat kaki melangkah. Dan tipe ini cocok untuk dipakai naik sepeda. Dipasaran saat ini memang banyak tersedia sepatu boots pendek. Untuk pasar lokal, salah satu brand yang cukup bagus adalah produk Eiger yang sudah setahun lebih saya pakai kesana sini. Nama lengkap produknya adalah: “Gravity” short boots. Kelebihan sepatu ini adalah dibahan solnya, sedangkan bahan baku sepatu lainnya adalah kulit yg dijahit sangat rapih dibagian luar dan dalamnya. Gravity dibuat dengan konstruksi “dual density sole”, dia jelas berbeda dengan boots lain yg mungkin hanya sekedar memasang sol karet dibawah sepatu. Konstruksi dual density dikenal karena memberi kelenturan yg bagus, gigitan yg baik, dan mampu menyerap getaran 3 kali lebih baik dari karet biasa. Sol ini juga efektif memangkas bobot total sepatu menjadi lebih ringan. Dilihat secara visual, solnya disertakan tapak besar yang bisa dipakai untuk menggigit permukaan tanah dengan baik, entah itu medan kering atau basah. Sole disepatu Gravity juga disebutkan anti selip digenangan oli basah. Kekuatan solnya tidak mengecewakan. Sepatu ini kerap dipakai naik sepeda dan tetap dalam kondisi mulus dibagian bawahnya. Seperti kita tahu, rata rata sepatu yg dipakai untuk naik sepeda akan koyak tercabik cabik disol akibat gesekan tajam gerigi pedal saat menggenjot sepeda (non clipless pedal). Adalah salah jika memakai running shoes saat bersepeda karena akan membuat solnya jebol dikikis oleh gigi pedal yg tajam. Boots pendek lansiran Eiger cukup ampuh melawan ketajaman gigi pedal sepeda.
Memilih sepatu trekking pendek buat saya memang sebuah pilihan karena alasan karakter tiap org yg berbeda beda ketika berpergian.
Saya suka sepatu jenis ini karena bisa dipakai utk jalan kaki sekaligus dipakai untuk naik sepeda krn pergelangan kaki bebas bergerak dg nyaman. Bobotnya ringan, kuat tapi juga mampu menyerap getaran saat dipakai. Fungsinya yg bisa dipakai cross activities membuat sepatu spt ini jelas lebih praktis. Bagi saya bersepeda bukan segalanya dalam sebuah rangkaian perjalanan. Seringkali jika tiba disatu tempat, kita ingin berjalan kaki kesana sini melewati medan buruk, licin, atau berbatu yg hanya bisa diladeni oleh trekking boots spt Gravity ini. Jadi, jika kalian juga mempunyai karakter sama seperti saya, ada baiknya mulai meninggalkan running shoes dirumah, dan naiklah sepeda atau jalan-jalan memakai sepatu boots pendek. ***hsgautama.multiply.com
Salah satu teman pernah ditanya ketika kami touring sepeda barengan, “Kacamata lu keren tuh, kenapa pilih itu buat sepedahan”?
Pertanyaan spt ini pasti tidak terjawab baik karena biasanya kacamata sepeda dibeli untuk dua alasan simple: murah, keren dan bisa jadi cengdem. Cuma itu saja, mudah kan. Kacamata khusus buat bersepeda lebih banyak bersifat personal ketimbang dilihat karena acuan teknisnya.
“Nilai personal” tsb antara lain: 1) Gaya dan keren. It’s a fashion statement. 2) Soal merk gak penting, mau aspal atau asli juga gak masalah. 3) Murah, tapi bahannya bermutu lumayan halus dan rapih. 4) Gak masalah soal lensa apakah gelap (cengdem) atau clear bening. Diluar point yg personal tsb, sebetulnya kacamata sepeda juga punya pertimbangan penting lainnya. Diantaranya adl sbb: 1) Bersepeda harus pakai kacamata. Gunanya melindungi mata yg sangat berharga dari kemasukan kerikil tajam dan debu kasar, percikan tanah, atau air. Selain itu, buat pemain MTB, kacamata penting untuk melindungi mata tertusuk ranting kayu saat menerobos semak belukar atau ranting yg mencelat keras kemuka. Mata yg terluka akan membuat buta seumur hidup. Buat apa naik sepeda lantas kemudian jadi cacat seumur hidup? .. (kan bodoh namanya) 2) Kacamata khusus riding sepeda sebaiknya mempunyai lengkungan yg lebih luas untuk menjepit separuh kepala pemakainya. Ini beda dengan kacamata cengdem utk wisata jalan jalan. Jepitan sepanjang itu gunanya menjamin kacamata tdk terlempar jatuh ketika melewati jalan gajrukan. 3) Karena menjepit ketat diseputar mata dan kepala, kacamata sepeda gampang mengalami kabut pengembunan atau muncul fog. Ada baiknya, supaya pandangan tetap bagus, sebelum main sepeda, lensa dilapisi dulu dengan cairan khusus anti kabut. Cairan pelapis itu juga berfungsi spt lapisan lilin tipis yg bisa membuat butiran air langsung jatuh luruh tanpa menempel dilensa kacamata. 4) Kacamata sepeda biasanya berbobot sangat ringan. Ini beda peruntukan dengan kacamata misal utk wisata jalan kaki yg lebih berat. Goncangan saat bersepeda membuat kacamata yg berat mudah terlempar atau malahan terkocak naik turun dengan keras. 5) Warna lensa dan jenis lensa kacamata sebetulnya satu hal yg penting. Warna dominan yg kerap dipakai al: gelap, semi gelap, amber (kekuningan), atau clear bening. Sedangkan jenis lensa yg kerap dipilih al: standar plastik dari polycarbonate yg keras, atau polarizing yg mampu menahan UV Rays hingga diatas 70% (nilainya 400). Luas bidang lensa yg semakin besar, akan semakin baik melindungi area mata dibanding lensa yg sempit/ kecil. 6) Lensa kacamata yg baik adalah jika dipakai tidak mengalami distorsi visual spt halnya mata telanjang melihat obyek. Ada beberapa kacamata kakilima yg murmer justru ketika dipakai membuat mata pusing karena obyek menjadi melengkung disisi kanan dan kirinya. Hehehe pakai kacamata sejelek ini bisa nabrak dong. Safety, safety, safety,… always. **** hsgautama.multiply.com  . |
|